Surabaya (beritajatim.com) – Beberapa orang ada yang merasa bahwa ketika ia memiliki penis yang bengkok, artinya ia memiliki organ vital yang unik. Berbeda dari yang lain. Dan mungkin merasa bahwa bentuk tersebut bisa lebih memuskan.
Bersikap positif seperti itu tentu saja baik. Namun, ada baiknya pula anda mulai mencoba memahami apa yang terjadi pada bagian tubuh anda tersebut. Sebab, bisa saja bengkoknya penis tersebut bukan karena keunikan melainkan akibat terjadi trauma.
Penis, sebagai bagian tubuh yang tidak memiliki tulang dan hanya ditopang oleh daging dan jaringan darah, memang rentan mengalami trauma. Kondisi tersebut kemudian membuat penis mengalami pembengkakan.
Dalam beberapa kasus, pembengkakak ini juga diikuti terbentukanya jaringan parut di bawah kulit. Ketika tidak ditangani dengan tepat, jaringan parut ini kemudian akan menumpuk dan membentuk plak. Akibatnya, ia akan menyumbat aliran darah ke penis. Penyumbatan inilah yang membuat penis kemudian mengalami bengkok.
Traum yagn terjadi pada penis ini bisa terjadi akibat dari kecelakaan, olahraga, atau akitivitas seksual yang berat dan ekstrim. Pada umumnya pria biasanya tidak mengingat peristiwa tertentu yang mungkin menyebabkan penyakit mereka. Dan mereka menduga hubungan seksual agresif adalah penyebab umum membuat Mr.P bengkok.
Cedera dibagikan Mr.P tidak berarti Anda akan ditakdirkan mengidap penyakit Peyronie. Namun hal lain bisa menjadi penyebab faktor risiko tertentu, seperti Semakin tua laki-laki maka semakin besar juga kemungkinan dia akan mengembangkan Peyronie’s.
Selain itu faktor Keturunan juga bisa menjadi penyebab lain, Dia berisiko lebih parah jika ayah atau saudara laki-lakinya memilikinya. Memiliki penyakit autoimun tertentu, seperti lupus atau sindrom Sjogren juga dapat meningkatkan kemungkinan terkena penyakit Peyronie.
Begitu juga dengan gangguan jaringan ikat tertentu seperti kontraktur Dupuytren (penebalan dan pengencangan jaringan telapak tangan dan jari tangan) atau plantar fasciitis (radang jaringan pita di bagian bawah tumit) juga menjuarai alasan pria mengalami penyakit peyronie.
Dan jika pasangan Anda seorang perokok atau menderita diabetes atau tekanan darah tinggi, kemungkinan besar bisa terkena penyakit Peyronie dibanding pria yang lebih sehat.
Gejala penyakit Peyronie
Pyronie tidak hanya membuat bentuk penis mengalami kelainan. Tetapi, juga berpengaruh pada kemampuan penis untuk melakukan ereksi. Dari studi yagn pernah dilakukan menunjukkan 70% orang yang mengalami kelainan peyronie memiliki disfungsi ereksi (DE).
Namun, tidak semua penis harus memilikibentuk yang tegak sempurna. Adalah hal yang wajar ketika penis memiliki kurva atau lengkungan dalam tahap wajar.
Beda penis yang memiliki curva normal dengan yang mengalami peyronie adalah adanya gejala berikut; Nyeri dengan atau tanpa ereksi, Adanya Jaringan parut atau benjolan keras, Melebihi rata-rata kelengkungan lebih dari 30 sampai 48 derajat, Penyempitan atau pemendekan penis, dan Masalah ereksi. [ptr/tur]






