Surabaya (beritajatim.com) – Setelah pertandingan akhir pekan ini, Liga-Liga Profesional Sepakbola akan kembali menjalani International Break. Yakni masa ketika liga diliburkan demi memberikan waktu untuk Tim Nasional berlaga.
Waktu libur ini sendiri merujuk pada FIFA International Match Calendar. Jadwal resmi ayng diberikan oleh FIFA bagi TIm Nasional untuk melangsungkan pertandingan persahabatan atau mengikuti turnamen anatar negara di benua masing-masing.
Pertandiangan-pertandaignan di masa libur internasional inilah yang menjadi dasar perhitungan poin untuk menentukan ranking Timnas di FIFA. Dalam proses perhitungan poin peringkat tersebut, ada beberapa faktor yang dipertimbangkan.
Poin dihitung dengan menggunakan formula yang mengacu pada empat faktor, yaitu hasil pertandingan (M), pentingnya pertandingan (1), kekuatan lawan (T), dan kekuatan konfederasi atau nilai koefisien konfederasi (C). Sehingga keseluruhan poin tersebut akan menghasilkan rumus: Poin = (MxIxTxC).
Pentingnya pertandingan (1) juga terbagi menjadi empat kategori. Sebab, suatu pertandingan persahabatan sama dengan satu poin, kualifikasi Piala Dunia atau tingkat-konfederasi (AFC, Euro, Copa America, dan lain lain) sama dengan 2,5 poin. Sementara itu, pertandingan di level konfederasi atau turnamen Piala Konfederasi sama dengan tiga poin. Dan pertandingan di Piala Dunia sama dengan empat poin.
Pada beberapa kesempatan, pertandingan tingkat sub-konfederasi seperti Piala AFF, Piala Karibia, Piala Afrika Barat, dan yang lain, dihitung sebagai pertandingan persahabatan. Kekuatan lawan dengan lambat (T) dihitung dengan mengurangkan angka 200 dengan angka peringkat dunia FIFA pada saat pertandingan.
Agar lebih jelas bisa dicontohkan sebagai berikut. Misalnya, pertandingan timnas Indonesia vs Kamerun pada Bulan 2015 akan memberikan 151 poin, karena Kamerun saat itu berada di peringkat 49 dunia.
Angka 151-200 menjadi 49. Dengan formula yang satu ini, akan mengetahui bahwa suatu Timnas yang bisa mengalahkan tim yang peringkatnya semakin tinggi, maka poin yang akan dapatkan akan semakin besar.
Pengecualian terjadi pada negara manapun di bawah peringkat 150, akan diberi nilai 50. Misalnya saja menghadapi Pakistan di peringkat 200, akan menghasilkan angka 50 alih-alih 0 (200 dikurangi 200). Begitupun mengalahkan Gibraltar (peringkat 206) tetap akan menghasilkan angka 50, bukan -6 (200 dikurangi 206).
Pengecualian juga terjadi saat negara melawan peringkat pertama FIFA. Pada situasi ini, koefisien akan menghasilkan angka 200 alih-alih 199 (200 dikurangi 1).
Selanjutnya kekuatan konfederasi atau nilai koefisien konfederasi. Ketika menghitung pertandingan antara tim dari konfederasi yang berbeda, nilai rata-rata dari konfederasi di antara kedua tim akan digunakan.
Kekuatan konfederasi dihitung dengan dasar jumlah kemenangan rata-rata negara-negara konfederasi tersebut di tiga kompetisi Piala Dunia FIFA terakhir. Perhitungan akhirnya adalah hasil perkalian dari rumus di atas. [dan/tur]






