Surabaya (beritajatim.com) – Halloween telah berlalu. Tapi, film horor nan mencekam banyak yang megnantri dan tak layak untuk dilewatkan. Terutama bagi anda para pecinta film horor dan menyukai sensasi berteriak ketakutan ketika melihat adegan mencekam.
Salah satu film horor yang patut anda tonton adalah Last Night In Soho. Film ini baru saja tayang di bisokop Indonesia sejak 3 November kemarin. Masih panas-panasnya. Film yang naskahnya ditulis oleh Krysty Wiston Cairns ini sedang banyak diperbincangkan dan menuai skor yang tinggdi IMDb.
Dibintangi oleh Anya Taylor Joy, Thomasin McKenzie, Matt Smith, hingga Michael Ajalo, Last Night in Soho memiliki alur yang unik. Kisahnya tentang seorang perancang busana yang tiba-tiba masuk ke masa di tahun 1960-an.
Berawal dari Ellie Turner, seorang gadis yang ingin meraih cita-citanya menjadi seorang desainer dengan melanjutkan sekolah mode di London. Ellie yang akhirnya memulai hidup di asrama, merasa tak nyaman dengan teman sekamarnya, Jocasta.
Tak hanya itu, ia juga merasa sulit untuk berbaur bersama teman-teman se asramanya. Ellie memiliki ketertarikan pada dunia retro yang hits di era 60-an. Tidak hanya perihal gaya busana, namun hingga selera musik. Oleh karena itulah, Ellie memilih untuk menyewa sebuah kamar dari perempuan tua bernama Colling untuk ia tinggali.
Disinilah hal-hal janggal mulai ia rasakan. Secara misterius, Ellie terseret ke dalam mimpinya, seolah-olah menjalani kehidupan yang baru. Dalam mimpinya, Ellie mendapati dirinya berubah menjadi Sandie, bintang muda pada tahun 60-an yang sangat tergila-tergila dengan karirnya. Sandie juga memiliki impian, yakni bertemu dengan manajer tersohor bernama Jack.
Melalui mimpinya sebagai Sandie inilah, Ellie merasakan kehidupan di dunia yang baru. Di dunia nyata, ia bahkan merubah penampilan persis seperti Sandie. Tanpa ia sadari, kehidupan Sandie yang dijalani ole Ellie berdampak dengan kehidupannya sehari-hari.
Dengan genre physical horror, film ini dikemas dengan balutan misteri, horror, dan thriller. Plotnya cukup rumit, mengingat ada perbedaan dari dua periode yang dikisahkan dalam film ini.
Ditambah dengan alur maju mundur yang mungkin akanmembuat penontonbingung jika tak menyimaknya dengan teliti. Namun film ini tetap bisa dinikmati lantaran kesederhanaan ceritanya.
Sang sutradara Edgar Wright, menjanjikan para penonton bahwa Last Night in Soho akan menghadirkan perspektif visual dan sinematografi yang indah. Pastinya akan memanjakan mata setiap penonton.
Film ini merupakan film pertama Edgar setelah empat tahun, film terakhirnya adalah Baby Driver dimana ia berperan sebagai sutradara, penulis, sekaligus produser. Edgar sendiri sudah dikenal melalui karya-karyanya yang luar biasa. Seperti Shaun of the Deas, Scott Pilgrim vs the World, serta The World’s End. [mnd/tur]






