Surabaya (beritajatim.com) – Banyak dari kalian yang ingin mulai membaca buku, tapi seringkali merasa takut karena buku terlalu tebal. Sementara seringkali merasa buku yang tipis kurang begitu berkualitas. Namun ternyata, buku tipis yang bisa dibaca sekali duduk berikut ini punya kualitas yang begitu bagus.
Memang, buku dari penulis Indonesia itu begitu banyak dan luar biasa. Tapi tidak ada salahnya saat kalian coba merambah ke ranah sastra terjemahan. Buku terjemahan berikut ini punya jumlah halaman tipis, tapi dari segi kualitas tidak perlu diragukan. Kalian bisa membaca sekali duduk, tapi sekaligus berpikir seharian untuk mencerna maknanya.
Berikut ini ada buku terjemahan yang dapat dibaca sekali duduk, meski waktu yang kalian gunakan untuk duduk dan membacanya cukup bervariasi, tergantung pada kesabaran dan kenyamanan tempat duduk. Apa saja daftar buku itu, simak penjelasannya berikut.
1. Lelaki Tua dan Laut karya Ernest Hemingway
Lelaki Tua dan Laut merupakan buku yang membawa Ernest Hemingway memperoleh penghargaan Pulitzer dan Nobel. Tentu saja hal ini adalah pencapaian yang luar biasa untuk buku yang hanya punya tebal 127 halaman.
Buku ini bercerita tentang seorang nelayan tua dari Kuba bernama Santiago, yang tidak menangkap apapun selama 84 hari pelayarannya. Kemampuan Lelaki Tua dan Laut untuk melahirkan berbagai interpretasi telah membuatnya populer di khalayak umum sejak pertama kali dipublikasikan pada tahun 1952. Buku ini terbit dengan judul asli The Old Man and The Sea.
2. Orang Asing karya Albert Camus
Orang Asing merupakan karya lain dari seorang penulis yang pernah mendapat Nobel. Namun, tentu saja, novel ini berbeda dari karya Hemingway yang sangat manly. Sebab, orang Asing menceritakan kisah seorang pria bernama Meursault, yang ibunya baru saja meninggal, di mana pada saat pemakamannya dia tidak menunjukkan emosi sama sekali.
Kalimat yang paling luar biasa dalam novel pendek ini berbunyi, “Hari ini Ibu meninggal. Atau, mungkin kemarin, aku tidak tahu. Aku menerima telegram dari panti wreda: ‘Ibu meninggal. Dimakamkan besok. Turut berduka cita.’ Kata-kata itu tidak jelas. Mungkin Ibu meninggal kemarin.”
Orang Asing merupakan buku yang begitu filosofis sarat akan pemikiran eksistensialisme. Meski bisa dibaca sekali duduk, namun butuh waktu lama untuk lain memahami maknanya.
3. Animal Farm karya George Orwell
Orwell menyebut karyanya ini sebagai ‘cerita peri’. Animal Farm adalah sebuah alegori bagi rezim totaliter di tahun 1930-an, khususnya rezim Uni Soviet di bawah kepemimpinan Joseph Stalin.
Dalam buku setebal seratus halaman ini, George Orwell bercerita tentang revolusi di Manor Farm menjadi tempat bagi hewan-hewan ternak mengusir tuannya dan bagaimana Utopia yang mereka ciptakan mulai melenceng dari cita-cita awalnya. Semua penggambaran Orwel dalam novel tipis ini memperlihatkan kesalahan masyarakat pada umumnya ketika tokoh revolusi mengambil alih kekuasaan dari tangan penguasa sebelumnya.
4. Pangeran Kecil karya Antoine de Saint-Exupéry)
Pangeran Kecil ini sebenarnya buku anak, tapi buku anak yang sangat luar biasa. Memiliki struktur yang sederhana dan bahasa yang mudah dicerna, buku ini bercerita tentang seorang pangeran kecil yang tinggal di sebuah planet dan berpetualang ke Bumi.
Meski dibuat untuk anak-anak, beberapa orang menganggap kalau akhir dari perjalanan sang pangeran di dalam novel ini terlalu sulit dicerna untuk anak kecil. Beberapa orang bahkan merasa jika akhir ceritanya juga dipahami oleh orang dewasa.
Tertarik untuk memperluas cakrawala pengetahuan tentang sastra terjemahan, coba baca buku tipis yang dapat dibaca sekali duduk tersebut. (dan/tur)






