Surabaya (beritajatim.com) – Indonesia terlahir sebagai negara agraris sehingga memiliki kekayaan alam dari pertanian yang cukup luas. Bukan hanya itu, hampir sebagian dari masyarakat ini adalah petani. Selain itu, dari segi makanan, Indonesia terkenal dengan makanan pokok sehari-hari yaitu nasi.
Beberapa diantara mereka mengatakan jika makan tanpa nasi serasa ada yang kurang. Makan tidak heran, nasi menjadi makanan wajib bagi masyarakat dengan kode telepon +62 ini. Tapi, ada dari mereka yang menghindari nasi karena memiliki kandungan gula yang tinggi.
Demi memenuhi kebutuhan mereka yang ingin makan nasi dengan kandungan gula rendah mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menciptakan beras analog. Kreasi ini mereka temukan melalui Program Kreatifitas Mahasiswa-Riset (PKM-RE). Beras analog ini ditujukan sebagai pangan pengganti untuk penderita diabetes. Mengingat kandungan gula pada beras biasanya cukup tinggi.
Proyek PKM yang dikerjakan oleh Rizqi Zidhani Widya Iswara, Dwi Wahyu Lestari, Silvia Feby Rusantiyadi dan Anggita Yumadinda dalam satu kelompok. Alasan mereka membuat beras analog karena Indonesia masih menjadi salah satu negara dengan kasus diabetes tertinggi bahkan dari tahun ke tahun, pravelensi diabetes terus meningkat.
Rizqi Zidhani sebagai ketua Tim mengatakan jika beras analog memang dengan nasi, namun dari kandungan didalamnya dan dijadikan sebagai pengganti makanan untuk pengidap diabetes. Sedangkan untuk bahan pokok dari beras analog terdiri dari umbi talas dan kulit manggis. Kedua kandungan ini memiliki kaya serat tinggi sehingga cocok untuk pengidap diabetes.
Penjelasan mendalam tentang kulit manggis memiliki kandungan antioksidan tinggi sehingga membantu meningkatkan daya tahan tubuh dan mencegah radiasi jahat dari luar tubuh. Rizqi menyampaikan jika talas dan kulit manggis baik untuk penderita diabetes karena dapat mempercepat penyembuhan. Sebelum membuat produk ini, Rizqi dan tim telah melakukan riset sejak Mei hingga Agustus. Mereka memulai dengan mempersiapkan riset dan bahan-bahan pokok. Kemudian mempelajari proses pembuatan beras analog pada Juni hingga Agustus.
Bukan hanya terwujud dalam bentuk produk, namun mereka telah menuliskan hasil riset dalam jurnal penelitian. Bukan hanya itu, Rizqi dan tim telah mendaftarkan hasil penelitian mereka di Hak Kekayaan Intelektual (HAKI). Lalu melakukan uji kelayakan pada beras supaya aman untuk dikonsumsi dan dipasarkan. Sungguh produk anak bangsa yang layak dibanggakan. (prd/tur)






