Jember (beritajatim.com) – Pemerintah akan menyantuni anak yang menjadi yatim dan piatu akibat pandemi Covid-19 di Indonesia. Hal ini dikemukakan Menteri Sosial Tri Rismaharini saat berkunjung ke Kabupaten Jember, Jawa Timur, Sabtu (28/8/2021).
Risma mengakui bahwa dana santunan tersebut belum teranggarkan awalnya. “Tapi kami coba karena banyaknya pengaduan soal anak yatim karena orang tuanya mendadak (meninggal). Memang belum sempurna. Saya masih mengumpulkan anggaran-anggaran yang ada pada kami. Alhamdulillah bisa Rp 24 miliar dikumpulkan, insya Allah bisa untuk 10 ribu anak. Ini kami prioritaskan (untuk anak yatim) karena Covid yang tiba-tiba,” katanya.
Kementerian Sosial sedang mengumpulkan data dari pemerintah daerah untuk seluruh anak yatim piatu. “Mudah-mudahan pada 2022, seluruh anak yatim bisa mendapatkan bantuan, kecuali yang memang sudah masuk di PKH (Program Keluarga Harapan), karena di PKH sudah ada bantuan unsur anak-anak. Nanti sama standarnya,” kata Risma.
Kementerian Sosial juga akan mendukung anak-anak yatim yang ada di balai-balai rehabilitasi sosial. “Kami sedang menyiapkan di seluruh balai kami agar bisa menampung anak-anak yatim yang tidak ada yang merawat,” kata mantan wali kota Surabaya ini.
Mensos Risma berharap pemerintah daerah proaktif memasok data untuk pemerintah. Saat ini, data yang sudah masuk ke Kemensos mencakup 9.800 orang anak. “Sesuai Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2011 bahwa fakir miskin dan terlantar, datanya dari daerah. Jadi nanti lewat daerah,” kata Risma.
[berita-terkait number=”4″ tag=”anak-yatim”]
Menurut Risma, pemerintah daerah yang paling mengerti soal warga yang perlu dibantu. “Kalau aku kan nun jauh di sana,” katanya.
Risma berharap akhir bulan ini program bantuan untuk anak yatim piatu akibat Covid sudah bisa terlaksana. “Tapi belum banyak (data) yang masuk juga. Jadi kita berjalan saja. Yang sudah ada ya kita bantu,” katanya. Tahun depan bantuan untuk anak yatim piatum akan diusulkan seperti PKH dan Bantuan Pangan Non Tunai.
Apakah bantuan akan diberikan sampai dewasa? “Ya nanti kita akan bicara, karena keputusan bukan hanya di saya,” kata Risma. [wir/suf]






