Surabaya (beritajatim.com) – Di Jawa terdapat banyak sekali gunung yang menawarkan pemandangan indah menawan. Terutama di Jawa Timur pada pendaki telah banyak menjejaki rangkaian gunung indah guna memanjakan mata, sembari mensyukuri ciptaan Tuhan.
Salah satu gunung indah di Jawa Timur yang jadi favorit pendakian adalah Gunung Argopuro. Gunung Argopuro ini tercatat meliputi beberapa Wilayah di Jawa Timur, yaitu kabupaten Probolinggo, kabupaten Situbondo, kabupaten Lumajang, dan kabupaten Jember, dan kabupaten Bondowoso.
Puncak gunung Argopuro sebenarnya memiliki dua gugusan. Ada puncak Rengganis dengan banyaknya kisah sejarah, dan puncak Argopuro yang siap memanjakan pendaki. Gunung Argopuro sebenarnya dulunya adalah gunung berapi. Tapi saat ini sudah menjadi gunung mati lantaran proses alam yang terjadi.
Puncak ketinggian gunung Argopuro sebenarnya masih dibawah gunung Arjuno dan gunung Semeru. Tanah tertinggi di Gunung Argopuro terletak pada ketinggian 3.088 mdpl.
Untuk sampai pada puncak Argopuro pendaki bisa melewati dua jalur pendakian. Jalur Baderan yang terletak di kabupaten Situbondo, dan jalur Bremi yang berada di kabupaten Probolinggo. Untuk jalur dengan trek terpanjang yaitu yang berada di Baderan. Pendaki harus menempuh waktu berjalan selama kurang lebih satu minggu, dengan panjang trek 60 KM.
Trek terpanjang itu dapat dilalui dengan medan yang cukup landai. Pendaki bisa mendirikan tenda pada beberapa pos, atau kawasan yang tersedia sepanjang pendakian.
Selain trek yang panjang, Gunung Argopuro juga menawarkan sisi sejarah. Di gunung Argopuro ini terdapat beberapa situs purbakala seperti guci, arca, dan dinding bangunan umat Hindu. Gunung Argopuro juga terdapat banyak tempat menarik.
[berita-terkait number=”5″ tag=”traveling, wisata-jatim”]
Sabana cikasur, hamparan hijau sabana yang menurut cerita masyarakat sekitar dahulu tempat landasan udara dari Belanda.
Hal itu diperkuat dengan beberapa penemuan, seperti besi, dan koin belanda. Tempat mistis di gunung Argopuro adalah danau taman hidup. Dari cerita mitos masyarakat, pendaki yang mendengar bunyi gamelan jawa saat berada di taman hidup sebaiknya tidak diikuti arah bunyinya.
Sebab itu merupakan godaan dari penunggu di taman hidup. Taman hidup dilarang untuk dikotori, apalagi berenang. Sebab hingga kini masyarakat percaya, danau taman hidup memiliki kedalaman yang tidak terhingga. [dan/bjo]






