Makkah (beritajatim.com) – Malam jatuh di Kota Makkah membawa takdir yang agung pada Senin (15/6/2026). Begitu azan maghrib berkumandang, menandai datangnya 1 Muharam, tahun baru Islam, atmosfer di dalam Masjidilharam mendadak bergetar oleh gelombang spiritualitas yang pekat.
Jutaan pasang mata tertuju pada episentrum semesta, menyaksikan prosesi sakral penggantian Kiswah—kain sutra hitam megah yang menyelimuti tubuh Ka’bah.
Pilar-pilar pembatas berwarna pucat telah berdiri kokoh mengepung baitullah sejak sore hari, menciptakan jarak sementara bagi kerinduan jemaah yang ingin menyentuh dinding batu suci tersebut.
Di dalam pembatas itu, pemandangan tak biasa mulai tersaji: lift-lift hidrolik raksasa merayap masuk ke area mataf, mengusung puluhan pekerja terampil dan petugas keamanan khusus (Askar) yang bersiap menunaikan tugas historis mereka.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, menyaksikan kepadatan jemaah di area mataf dan rooftop melonjak drastis pasca-salat Isya.
Arus pergerakan manusia melambat, hampir macet, karena ribuan jemaah memilih bertahan, mengangkat ponsel, dan tertegun haru. “Thariq, hajj! Ruuh! Tawaf, tawaf!” pekik para Askar berulang kali, mencoba mengurai simpul kepadatan agar ritual mengitari Ka’bah tidak terhenti.
Menerobos arus mataf pasca-Isya merupakan perjuangan fisik yang luar biasa bagi para jurnalis dan petugas di lapangan. Kami harus terus bergerak maju-mundur secara perlahan agar tidak terlihat diam dan digusur oleh ketatnya barisan Askar.
Puncaknya, ketegangan beralih ke arah pintu masuk jalur Sa’i (Safa-Marwah). Di sana, barisan barikade petugas mulai dibuka lebar, menciptakan koridor steril menuju sisi Rukun Iraqi di dekat Hijr Ismail.
Sebelum kain suci itu menampakkan wujudnya, semerbak wangi tradisional Arab menyeruak memedihkan hidung sekaligus menenteramkan jiwa. Beberapa petugas berjalan anggun mengayunkan tungku tembaga yang mengepulkan asap bukhur (wewangian kayu gaharu). Di belakang kepulan asap itulah, kotak-kotak hitam besar yang mengangkut potongan Kiswah baru dibawa masuk secara estafet.
Lift-lift hidrolik mulai berdentang, mengangkat para pekerja ke puncak Ka’bah. Proses pengangkatan lembaran Kiswah pertama di sisi pintu Ka’bah menjadi fase yang paling menguras ketelitian dan waktu karena membutuhkan sinkronisasi beberapa tarikan tali shadarawan (pengikat dasar).
Berturut-turut, lembaran kedua dinaikkan di sisi Hajar Aswad-Rukun Yamani, disusul sisi Rukun Yamani-Rukun Syami, dan terakhir di sisi Hijr Ismail yang memiliki celah khusus demi mengakomodasi keberadaan Mizab Ar-Rahman (talang air).
Teknik penggantian ini dilakukan dengan sangat rapi: kain Kiswah baru dikerek ke atas, dikencangkan jahitannya, lalu barulah kain Kiswah lama diturunkan perlahan dari bagian dalam. Struktur kubus Ka’bah sama sekali tidak pernah dibiarkan telanjang tanpa penutup selama prosesi berlangsung.
Setelah proses pengikatan selesai pada Selasa (16/6/2026) dini hari, suasana mataf berangsur lengang, menyisakan para pekerja yang menuntaskan penjahitan sudut-sudut emas hingga waktu Subuh pecah. Memasuki waktu maghrib pukul 19.05 WAS, seluruh ornamen ayat Al-Qur’an berlapis emas telah terpasang presisi.
Berbeda dengan musim haji di mana kain bawah diangkat setinggi dua meter dan dilapisi kain putih, kini Kiswah baru telah menjuntai penuh menutup total hingga ke dasar aspal. Jemaah yang ingin kembali menyentuh dan mencium langsung batu dinding Ka’bah kini harus bersabar menunggu hingga musim haji tahun 2027 tiba. [ian/MCH]







