Ringkasan Berita:
- Kirab Pusaka menjadi salah satu agenda utama Grebeg Suro 2026 di Ponorogo.
- Tradisi tersebut menjadi sarana pelestarian budaya sekaligus edukasi sejarah Kota Lama dan Kota Tengah.
- Lima pusaka dikirab dari Kota Lama menuju Kota Tengah untuk menjalani prosesi jamasan.
- Antusiasme masyarakat meningkat dan turut menggerakkan perekonomian pelaku UMKM selama Grebeg Suro.
Ponorogo (beritajatim.com) – Kirab Pusaka dalam rangkaian Grebeg Suro 2026 bukan sekadar prosesi budaya tahunan, tetapi juga menjadi media edukasi sejarah Kabupaten Ponorogo. Melalui tradisi yang diwariskan turun-temurun tersebut, masyarakat diajak mengenal kembali asal-usul daerah, filosofi pusaka, hingga perjalanan berdirinya Bumi Reog.
Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Ponorogo Lisdyarita mengatakan Kirab Pusaka merupakan bentuk nyata upaya nguri-uri budaya yang terus dilestarikan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ponorogo bersama masyarakat. Tradisi itu menjadi bagian tak terpisahkan dari peringatan Tahun Baru Islam dan Grebeg Suro yang telah berlangsung dari generasi ke generasi.
Menurutnya, pelestarian tradisi tersebut penting agar nilai-nilai budaya dan sejarah lokal tidak tergerus perkembangan zaman.
“Ini sebenarnya nguri-uri budaya, juga wujud berdo’a, sehingga masyarakat jadi paham apa sih kota lama, apa sih kota tengah,” kata Lisdyarita usai Kirab Pusaka, Senin (15/6/2026) petang.
Lisdyarita menjelaskan, rangkaian Kirab Pusaka diawali dengan prosesi bedol pusaka, yakni membawa pusaka dari Kota Tengah (Pringgitan) menuju Kota Lama (Setono) pada malam sebelumnya. Selanjutnya, pusaka dikembalikan ke Kota Tengah untuk menjalani prosesi jamasan atau penyucian.
Perjalanan tersebut bukan sekadar perpindahan benda pusaka, tetapi sarat makna sejarah dan filosofi yang menggambarkan perjalanan berdirinya Ponorogo.
“Kita membawa pusaka awalnya dari Kota Tengah (Pringgitan-red) tadi malam menuju Kota Lama (Setono-red). Lalu sore ini kita bawa kembali karena untuk dijamasi dari Kota Lama menuju Kota Tengah,” ungkapnya.
Melalui kirab tersebut, masyarakat diajak memahami sejarah Kota Lama sebagai cikal bakal Ponorogo serta Kota Tengah yang kini menjadi pusat pemerintahan. Menurut Lisdyarita, masih banyak warga yang belum mengetahui nilai historis kedua kawasan tersebut sehingga Kirab Pusaka menjadi sarana edukasi budaya yang efektif.
Pada penyelenggaraan tahun ini, lima pusaka dikirab dalam prosesi tersebut. Awalnya hanya terdapat tiga pusaka, yakni Payung Songsong Kiai Tunggul Wulung, Tombak Kiai Tunggul Nogo, dan Angkin Cinde Puspito.
Sejak tahun lalu, dua pusaka tambahan ikut dikirab, yaitu Tombak Kiai Bromo Geni dan Kiai Pamong Angon Geni, sehingga memperkaya nilai sejarah dan filosofi dalam rangkaian Grebeg Suro.
Masing-masing pusaka memiliki makna tersendiri. Songsong dan tombak melambangkan perlindungan serta keteguhan, Angkin Cinde Puspito menjadi simbol pengikat tekad, sedangkan Kiai Bromo Geni dan Kiai Pamong Angon Geni merepresentasikan kekuatan spiritual, kebijaksanaan, serta pengingat bagi seorang pemimpin dalam menjalankan amanah.
Lisdyarita mengapresiasi tingginya antusiasme masyarakat yang memadati sepanjang rute Kirab Pusaka. Menurutnya, jumlah pengunjung tahun ini meningkat dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya dan menjadi bukti kuat bahwa tradisi Grebeg Suro tetap mendapat tempat di hati masyarakat.
“Masya Allah matur nuwun sanget seluruh masyarakat Ponorogo dan seluruh warga yang hari ini hadir. Terima kasih sekali, saya mewakili Pemkab,” katanya.
Selain menjadi sarana pelestarian budaya dan edukasi sejarah, Grebeg Suro juga memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat. Ramainya pengunjung membuat aktivitas perdagangan meningkat, terutama bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pedagang kuliner, serta sektor jasa yang memanfaatkan momentum tersebut.
“Ini luar biasa. Tumplek bleknya lebih dari tahun lalu. Alhamdulillah, dengan adanya ini semua, ekonomi berjalan,” pungkas Lisdyarita. [end/beq]






