Surabaya (beritajatim.com) – Bumi, tempat tinggal kita semua dan berbagai mahkluk hidup lain membutuhkan cahaya sinar matahari untuk membantu segenap kebutuhan hidup dan keberlangsungan hidup umat manusia dan mahkluk hidup lainnya. Peranan penting matahari bagi Bumi beserta isinya kemudian dijadikan kajian oleh para astronom untuk mengetahui jarak Bumi dengan Matahari.
Berdasarkan data yang dihimpun oleh NASA, hingga saat ini jarak antara Bumi dengan Matahari adalah sejauh 149,6 Juta Kilometer atau setara 92,9 Juta Mil. Jarak ini merupakan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh NASA sebagai suatu lembaga antariksa milik Amerika Serikat. Menggunakan berbagai peralatan canggih ditengah kemajuan teknologi dan jaman.
Tetapi jauh sebelum NASA melakukan penelitian mengenai jarak Bumi dan Matahari, para filsuf Yunani kuno telah membuat perhitungan hingga kemudian digunakan selama berabad-abad. Dalam sejarahnya, filsuf pertama yang melakukan pengukuran adalah Aristarchus pada kisaran abad 250 SM. Aristarchus mendasari pengukurannya menggunakan fase bulan guna mengukur jarak Bumi, Matahari dan Bulan.
Dalam waktu setengah bulan, ketiga benda langit ini (Bumi, Matahari, dan Bulan) harus membentuk sudut yang tepat. Pengukuran Aristarchus menentukan adalah 19 kali lebih jauh dari Bumi. Meski terkesan belum sepenuhnya tepat, Aristarchus setidaknya telah memberi pemahaman sederhana mengenai ukuran Bumi dan Matahari.
[berita-terkait number=”5″ tag=”pengetahuan-populer”]
Berlanjut ditahun 1653, seorang astronom bernama Christiaan Huygens mulai melakukan penghitungan jarak Bumi ke matahari. Huygens menggunakan fase Venus untuk menemukan sudut dalam segitiga antara Venus, Bumi dan Matahari. Ketika Venus setengah diterangi oleh Matahari, ketiga benda langit itu membentuk segitiga siku-siku dari perspektif Bumi.
Sementara Giovanni Cassini pada tahun 1672 menggunakan metode bernama ‘pralaks’, yakni perbedaan sudut guna mengetahui jarak ke Matahari. Pengukuran dilakukan bersama temannya bernama Jean Richer di Guyana Perancis. Triangulasi pengukuran kemudian diambil antara Bumi, Mars, dan Matahari. Saat itu mereka mengambil asumsi penggunaan jarak antara Paris di Perancis dan Guyana Perancis.
Itulah sedikit cerita singkat proses pengukuran yang pernah dilakukan oleh para fisuf dan astronom pada masa lampau. [adn/bjo]






