Ringkasan Berita
- GKJW Sidorejo di Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri kembali menggelar tradisi Unduh-unduh sebagai ungkapan syukur atas hasil panen sekaligus memperingati usia jemaat ke-128 tahun.
- Perayaan tahun ini dimeriahkan arak-arakan hasil bumi, pertunjukan tari tradisional, serta pelelangan parsel buah dan hasil bumi yang menjadi daya tarik utama masyarakat.
- Tradisi Unduh-unduh telah diwariskan turun-temurun dan sejak 2017 dikemas lebih meriah dengan mengangkat budaya lokal Kediri melalui kirab budaya.
- Melalui kegiatan ini, GKJW Sidorejo ingin memadukan nilai-nilai spiritual dengan pelestarian budaya lokal, sekaligus memperkuat semangat gotong royong dan kebersamaan warga.Kediri (beritajatim.com) – Suasana penuh sukacita, kebersamaan, dan nuansa budaya mewarnai perayaan Tradisi Unduh-unduh yang diselenggarakan Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Sidorejo, Desa Sidorejo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Minggu (12/7/2026).
Tradisi tahunan sebagai ungkapan syukur atas hasil panen tersebut kembali menarik perhatian masyarakat. Berbeda dengan penyelenggaraan tahun sebelumnya yang menghadirkan gunungan hasil bumi untuk disantap bersama, tahun ini perayaan lebih difokuskan pada arak-arakan budaya, pertunjukan tari tradisional, serta pelelangan hasil bumi yang berlangsung meriah.
Antusiasme warga terlihat sejak awal kegiatan. Ratusan masyarakat memadati lokasi untuk menyaksikan kirab sekaligus mengikuti lelang berbagai hasil panen dengan harga yang terjangkau.
Tradisi Syukur Panen yang Telah Berlangsung Turun-temurun
Ketua Panitia Unduh-unduh GKJW Sidorejo, Lulus Nugreheni, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan tradisi tahunan yang dilaksanakan setiap bulan Juli sebagai bentuk rasa syukur jemaat kepada Tuhan atas hasil panen yang diperoleh sepanjang tahun.
“Jadi masyarakat Sidorejo mengadakan syukuran untuk hasil bumi dan ditandai dengan perayaan unduh-unduh. Kami melaksanakan setiap tahun, setiap bulan Juli,” katanya.
Perayaan tahun ini juga memiliki makna istimewa karena menjadi bagian dari peringatan 128 tahun GKJW Jemaat Sidorejo.
Lulus menjelaskan, gereja tersebut berdiri pada 2 Juli 1898 di wilayah yang dahulu bernama Parerejo, sebelum kemudian berganti nama menjadi Sidorejo pada 11 November 1936.
Arak-arakan Budaya Angkat Identitas Lokal Kediri
Menurut Lulus, tradisi Unduh-unduh sebenarnya telah diwariskan sejak zaman nenek moyang. Namun, sejak tahun 2017 penyelenggara mulai menghadirkan arak-arakan budaya agar tradisi tersebut semakin menarik sekaligus menjadi sarana memperkenalkan budaya lokal Kediri kepada masyarakat luas.
“Acara ini sudah lama, sebenarnya sejak nenek moyang kami. Tetapi mulai tahun 2017 kami mengadakan arak-arakan supaya mengangkat budaya lokal di Kediri,” jelasnya.
Dalam kirab tersebut, setiap peserta membawa gunungan maupun kreasi hasil bumi sebagai simbol rasa syukur atas berkat panen yang diterima.
Sementara itu, berbagai tarian tradisional yang ditampilkan mengandung pesan tentang semangat bekerja, gotong royong, kebersamaan, dan keharmonisan masyarakat desa.
Pelelangan Hasil Bumi Diserbu Pengunjung
Usai prosesi pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan pelelangan parsel buah serta hasil bumi yang menjadi salah satu agenda paling ditunggu masyarakat.
Panitia menyediakan dua jenis pelelangan, yakni:
Lelang tunai dengan harga mulai Rp75 ribu hingga Rp300 ribu per parsel.
Lelang kelompok berupa gunungan hasil bumi yang sebelumnya diarak dalam kirab budaya.
Salah seorang peserta lelang, Okta (25), mengaku membeli enam parsel sekaligus untuk keluarganya. “Saya ambil enam parsel karena keluarganya banyak. Menurut saya harganya murah, isinya juga banyak,” ujarnya.
Peserta lainnya, Gawit (54), menilai antusias masyarakat pada tahun ini meningkat dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya. “Tahun ini lebih ramai. Kalau tahun lalu ada gunungan yang dimakan bersama, sekarang masyarakat lebih fokus ke pelelangan,” tuturnya.
Memadukan Nilai Religi dan Pelestarian Budaya
Melalui Tradisi Unduh-unduh, GKJW Sidorejo ingin menunjukkan bahwa kegiatan keagamaan dapat berjalan selaras dengan pelestarian budaya lokal.
Selain menjadi wujud rasa syukur kepada Tuhan, kegiatan tersebut juga diharapkan mampu mempererat hubungan antarwarga, menumbuhkan kreativitas masyarakat, serta menjaga semangat gotong royong yang telah diwariskan secara turun-temurun.
“Di dalam kegiatan-kegiatan spiritual, kegiatan religi, kita bisa mengangkat budaya lokal yang kemudian diintegrasikan, dikolaborasikan, sehingga akan membuat kreativitas warga semakin tinggi. Di sini juga ada pesan-pesan moral yang arahnya pada ucapan syukur kepada Tuhan,” tandas Lulus.
Tradisi Unduh-unduh pun menjadi bukti bahwa nilai religius, budaya, dan kebersamaan dapat berpadu harmonis, sekaligus memperkuat identitas masyarakat Kabupaten Kediri di tengah perkembangan zaman. [nm/aje]






