Surabaya (beritajatim.com) – Ahmad Sholeh (38) dan Heri (35) tak menyangka harus kehilangan barang dan harta bendanya karena kebakaran yang terjadi di Pasar Kembang pada Minggu (22/08/2021) sore.
Mereka yang sehari – hari bekerja sebagai kuli panggul pasar dan pengamen harus kehilangan baju serta gitar untuk mencari nafkah sehari – hari.
Ditemui beritajatim.com pada Senin (23/08/2021) dinihari, Heri bercerita kisahnya merantau dari kota Blitar berdua untuk mengadu nasib di kota Surabaya.
“Saya datang dari Blitar 9 tahun lalu mas ya langsung disini jadi kuli”, ujar Heri.
Ia bercerita bahwa sehari – hari, ia dan sahabatnya tidur di lantai dua Pasar Kembang karena di Surabaya ia tidak mempunyai tempat tinggal.
“Biasa tidur ya di pasar itu mas, kalo jam segini jadi kuli panggul nanti pagi ngamen”, imbuhnya.

Ia menceritakan kronologis kebakaran dengan detail, karena ia dan Sholeh saat itu sedang tiduran di lantai dua karena lelah setelah mengamen. Ia pun menambahkan bahwa akibat kebakaran tersebut dirinya harus kehilangan baju sebanyak tiga kresek besar dan gitar untuk mengamen.
“Saya pas di atas sama bogang ini (Sholeh) habis semua baju tiga kresek mas sama gitar buat ngamen itu”, ujarnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”pasar-kembang-terbakar”]
Saat ini ia berencana untuk tetap berjuang hidup dengan mengandalkan uang parkir dari para pembeli dan pedagang yang memenuhi hampir separuh jalan dari Jalan Raya Pasar Kembang.
” Harus tetap gerak mas, saya ga tau kedepannya gimana, kalo jualan di piinggir jalan gini kan ga ada angkat – angkat ya jaga parkir aja mas”ujarnya.
Ia berharap agar kedepannya para pemimpin, utamanya di wilayah Sawahan atau Pemkot Surabaya memberi bantuan agar dapat sedikit meringankan beban mereka. Saat ini ia bersama dengan penghuni Pasar Kembang membutuhkan baju.
“Ya butuhnya baju mas, kalo tidur kan gampang. Baju tinggal yang dipakai ini mas”, tutup Heri. (ang/ted)






