Magetan (beritajatim.com) – Rekoso utowo penake urip, gumantung ono ambane ati ora mung akehe bathi. Kalimat berbahasa Jawa itu lekat menempel di gelas plastik kemasan kopi susu yang disajikan di sebuah kopi box di selatan stadion Yosonegoro Magetan.
Kalimat itu berarti susah enaknya hidup bergantung dari kelapangan hati bukan hanya banyaknya untung.
Kalimat itu tersirat di pikiran Anggi Rahadian Prasetyono, warga Desa Ngunut, Kecamatan Kawedanan, Kabupaten Magetan.
Pria 34 tahun yang sempat mengelola kedai kopi di wilayah Magetan itu kini bergantung dari kopi box yang sudah dia rintis sejak hampir tiga tahun silam. Pandemi membuat dia merumahkan karyawan dan kini memilih untuk berjualan di kopi box.
Tak hanya itu, di awal pandemi tahun lalu, dia bahkan menggagas untuk berjualan kopi dengan bayaran seikhlasnya dari sang pembeli. Tujuannya sederhana, dia hanya ingin orang – orang tetap memiliki semangat untuk menikmati kopi meski masih dilanda kesusahan.
Yakni, dengan menyajikan kopi dan pembeli bahkan tak harus membayar. ‘’Namanya juga seikhlasnya, manut sama yang beli,’’ ungkap bapak tiga anak itu.
[berita-terkait number=”4″ tag=”magetan”]
Dai sama sekali tak tahu menahu berapa duit yang dibayarkan jika ada yang mau membayar. Pembeli yang datang hanya pesan, boleh dibawa pulang atau minum di tempat. Jika berniat membayar, maka pembeli dipersilahkan untuk memasukkan uangnya ke kaleng bekas rokok yang sudah dia sediakan di box kopinya.
‘’Pernah sehari dapat Rp 20 ribu, dan per bulan ini saya dapat Rp 150 ribu,’’ kata mantan bankir itu.
Tirakat kopinya itu juga hanya buka saat pagi hari menjelang siang. Dia memanfaatkan momen ngopi pagi orang – orang yang butuh saja. Menunya pun juga hanya dua yakni kopi susu dan kopi hitam, bisa dibuat hangat ataupun dingin.
Meski kebanyakan yang datang adalah kenalannya sendiri yang ada di wilayah Magetan kota. ‘’Begitupun saat dulu saya buka di Kawedanan, yang datang rekan – rekan sesama pebisnis kopi atau kenalan saya,’’ katanya.
Dari kegiatannya itu, dia ingin memberikan keringanan pada para calon pembeli. Jika memang tidak mampu, tidak masalah untuk sekadar mampir dan ngopi tanpa membayar sama sekali.

Pun, jika memang ada yang berniat untuk sama – sama beramal seperti dirinya, dia pun mempersilakan. ‘’Dari tirakatan ini kan kita harus belajar mengikhlaskan sesuatu,’’ ungkapnya.
Meski jelas tak memberikan banyak keuntungan, Anggi justru merasa lebih tenang. Karena, tidak dikejar untuk memenuhi target laba. Lantaran, kini kondisi juga masih belum membaik. Dia pun masih akan tetap menjalankan tirakat kopi itu meski tak tiap hari.
‘’Sementara, bisnis kopi saya juga tetap saya jalankan, tapi buka saat siang sampai menjelang malam,’’ katanya.
Sampai kini, Anggi tetap mengharapkan kalau pandemi segera berakhir. Meski kini dia masih bisa mempekerjakan satu karyawan, dia tak ingin kalau kondisi saat ini justru memburuk. Selain itu, dia ingin dari apa yang dia lakukan bisa benar – benar memberikan kesadaran bagi orang lain untuk tetap belajr ikhlas.
‘’Karena sisi positif di kala pandemi ini adalah kita dituntut untuk banyak mengikhlaskan sesuatu ketimbang terlau tinggi berekspektasi,’’ katanya. (fiq/ted)






