Magetan (beritajatim.com) – Sekretaris Kawan Pekerja Migran Indonesia (PMI) Magetan, Lucky Setiyoherman menyoroti kasus anak korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dilakukan oleh bapaknya akibat tak segera dikirimi uang oleh sang istri yang bekerja di luar negeri sebagai buruh migran.
Lucky menyebut kasus kekerasan yang terjadi pada keluarga PMI adalah kasus yang lazim didengar. Menurut dia, negara harus hadir dalam bentuk pendampingan maupun perlindungan kepada PMI dan juga keluarga yang ditinggalkan di tanah air.
“Jangan sampai para pekerja migran Indonesia yang sudah berjuang di luar negeri hanya dijadikan seperti sapi perah devisa saja, sedangkan keluargannya yang di rumah diperlakukan selayaknya sapi liar,” kata Lucky saat dihubungi, Selasa (3/10/2023).
Baca Juga: Marak Akun Palsu, Masyarakat Gresik Diimbau Lebih Waspada
Oleh karena itu, Kawan PMI sebagai komunitas relawan yang consent terhadap isu pekerja migran selalu bergerak untuk melakukan pendampingan pada kasus-kasus yang menimpa PMI maupun keluarganya. Selain kasus KDRT, kasus perceraian di kalangan keluarga PMI juga sangat besar.
“Sehingga dibutuhkan pendampingan terhadap anak-anak PMI yang ditinggalkan di rumah agar tidak terjerumus kepada hal-hal negatif serta memberikan bekal pengetahuan dan ketrampilan untuk masa depan mereka,” ujar Lucky.
“Kami selalu siap untuk dihubungi 24jam dalam sehari untuk turun tangan membantu para pahlawan devisa negara dan keluarganya,” pungkas Lucky. [asg/ian]






