Surabaya (beritajatim.com) – Sejak diberlakukannya SE nomor 003.1/9260/436.8.4/2021 tentang pedoman HUT ke-76 RI tahun 2021 yang dikeluarkan oleh Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, masyarakat diminta untuk tidak menggelar pengajian malam tirakatan. Namun masih banyak sejumlah kawasan di Surabaya masih menggelar malam tirakatan.
Salah satunya warga Lebak Timur IIIC, Kelurahan Gading, Kecamatan Tambaksari ini yang menggelar malam tirakatan. Namun yang menarik meski mereka menggelar doa tirakatan mereka pihak satgas kampung tetap memperketat protokol kesehatan.
Dengan menggelar terpal di depan gang mereka, sebanyak 52 keluarga ini duduk di bawah dengan jarak masing-masing satu meter. Sebelum mereka duduk ada satgas kampung mengecek suhu tubuh terlebih dahulu. Ada pun dua tumpeng sebagai simbolis, nantinya akan dibagikan dan dibawa pulang.
Sekretaris RT 05, RW 10, Kelurahan Gading, Atok Suparyanto (40) mengatakan, jika pada malam tirakatan ini diikuti oleh warga sekitar. Sebanyak 52 KK pun hadir untuk mendoakan para pahlawan yang telah mendahului.
“Yang hadir malam hari ini tirakatan 52 KK. Acara malam hari ini kita doa bersama, kedua ada menyanyikan lagu kebangsaan indonesia raya, kemungkinan akan dibacakan teks proklamasi, selanjutnya pembacayaan doa malam tirakatan,” kata Atok, Senin (16/7/2021).
Untuk protokol kesehatannya sendiri, Atok menegaskan, tetap diutamakan. Seperti mengenakan masker, menjaga jarak, warga dilakukan thermo gun sekaligus mengedukasi warga pada saat malam tirakatan ini tetap mengedepankan prokes.
[berita-terkait number=”4″ tag=”malam-tirakatan”]
Saat disinggung tentang SE wali kota terkait larangan menggelar malam tirakatan untuk menghindari kerumunan, Atok mengatakan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan satgas kampung. Sebab, malam tirakatan di wilayahnya mengedepankan prokes.
“Pada malam hari ini kita melaksanaakan malam tirakatan sudah koordinasi baik tim satgas kelurahan maupun satgas RW 10. Tirakatan ini diimbau melaksanakan tetap mengedepankan prokes,” ujarnya.
Sementara untuk makan bersama dan adanya tumpeng, ia mengatakan hal itu hanya sebagai simbolis. Sedangkan untuk lomba 17an pun tidak dilakukan, sesuai imbauan wali kota dan kelurahan.
“Untuk makan bersama kita mengutus satu petugas dimana untuk melayani makanan dan minuman ada petunjuk. Makanannya dibawa pulang, ini hanya simbolis saja. Lomba diimbau dari pemkot maupun kelurahan tidak melaksanakan kegiatan lomba,” pungkasnya.[way/ted]






