Surabaya (beritajatim.com) – Di sudut pekampungan urban, di kawasan Kampung Hidroponik Surabaya, 5 Ibu Rumah Tangga (IRT) terlibat diskusi yang cukup panas. Temanya betapa sulitnya menjaga hubungan baik Ibu dan Anak di saat pandemi hingga berujung pada keinginan untuk melakukan protes pada Dinas Pendidikan.
Suara berapi-api mereka membicarakan tentang pendidikan online di rumah terdengar hingga ke ujung jalan gang. Dulu ibu-ibu ini hanya peduli pada urusan dapur dan tanaman hidroponik yang mereka kelola bersama-sama. Kini sibuk mengupdate informasi seputar kebijakan pemerintah hingga belajar aplikasi webinar mulai Zoom, Microsoft Team hingga Google Meet. Perubahan yang tak mereka harapkan terjadi, guru tak lagi bisa mengajar di ruang kelas demi melindungi anak-anak dari Covid-19.
“Bayangkan anak 3, yang satu SD kelas 6, SD kelas 3 dan yang bungsu TK B. Setiap hari punya setumpuk pelajaran dan tugas. Saya harus jadi guru untuk 3 orang sekaligus setiap hari. Dari pagi hingga siang sampai tak sempat mengurusi yang lainnya. Belum lagi jika ada tugas yang wajib dikumpulkan sebelum pukul 9 malam,” tutur Yulianti, yang akhirnya harus merelakan hobbynya pada tanaman terhenti begitu saja.
Kondisi diperparah lagi, saat suaminya juga harus bekerja di luar kota dan karena PPKM harus rela berminggu-minggu menunda rencana pulangnya.
Denok sang tetangga seolah tak mau kalah menimpali jika dirinya yang hanya tamatan SMA harus pusing tujuh keliling memandu anaknya yang masuk di kelas International Class Program (ICP). Dirinya bercerita bagaimana perjuangannya bersama wali murid di kelas ICP “memaksa” sekolah untuk menggunakan buku LKS berbahasa Indonesia saja bukan lagi standar internasional seperti sebelumnya.
“Kasihan anak saya bingung tak ada yang mengajarinya dengan soal-soal berbahasa Inggris. Saya takut prestasi akademiknya merosot, kadang soal-soal dari sekolah ya saya kerjakan sendiri,” keluhnya.
Agaknya mereka pun sudah menemukan kata sepakat bahwa pembelajaran membuat hidup mereka semakin terbenani. Mereka harus menyiapkan gadget buat belajar sehingga mereka harus mengurangi pengeluaran rumah tangga seperti mengurangi pembelian susu sebagai nutrisi tambahan bagi anak-anak yang sudah sekolah SD.
Kekhawatiran laim adalah anak mereka tak akan mampu menguasai mata pelajaran hingga akan sulit mendapatkan pendidikan yang diimpikan orangtua untuk anaknya.
Menjawab kegalauan para IRT terhadap beban mereka hingga harus mengencangkan ikat pinggang saat berbelanja kebutuhan yang bergizi anak-anak, Pemerhati dan Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Seto Mulyadi, meminta para orangtua jangan terpaku pada pentingnya anak-anak menguasai semua mata pelajaran di sekolah.
“Justru saat pembelajaran online di rumah para orangtua bisa melihat lebih jeli tentang potensi anak mereka. Tidak semua anak harus jadi Rudy Habibie (nama panggilan Mantan Presiden Habibie saat muda-red). Ada Rudy Hartono yang menjadi legenda bulutangkis, ada Rudy Khairuddin dan Rudy Hadisuwarno,” beber Kak Seto, dalam peluncuran gerakan sosial #AyoTunjukTangan Bersama 2 Juta Bunda Majukan Indonesia pada Senin (16/8/2021) secara online.
Melalui peluncuran yang digagas oleh SGM Eksplor, Kak Seto juga mengingatkan jika pembelajaran yang utuh itu justru berasal dari lingkungan keluarganya. Bahkan tetangga satu RT pun harus bertanggung jawab pada tumbuh kembang anak yang baik.
[berita-terkait number=”5″ tag=”SGM”]
“Dukungan kolektif masyarakat untuk tumbuh kembang anak seperti pemenuhan nutrisi yang seimbang dan dukungan akses pendidikan yang berkualitas sejak dini, sangat diperlukan sebagai fondasi dan langkah awal seorang anak untuk melakukan berbagai hal produktif dalam hidupnya,” papar Kak Seto.
Alyssa Soebandono, Aktris yang memiliki 2 orang anak pun ikut angkat bicara dan menyadari betapa semakin bertambahnya beban ibu-ibu saat pandemi datang. Namun Alyssa yang memiliki anak yang duduk di bangku SD dan TK ini menyarankan ibu-ibu untuk tetap tenang dan menempatkan skala prioritas pada asupan nutrisi dan pendidikan yang terbaik bagi anak agar tumbuh kembangnya maksimal.
“Memang tantangannya cukup berat, tetapi anak pertama saya yang SD sedikit demi sedikit sudah bisa belajar secara mandiri. Hanya yang TK saja yang perlu saya dampingi terus saat sekolah online,” beber Alyssa.
Memyadari masih banyaknya kendala dalam masyarakat dalam mengakses pendidikan online hingga pemenuhan gizi yang seimbang manajemen SGM Eksplor membuat gerakan sosial #AyoTunjukTangan. Dimana setiap partisipasi dari donatur akan didonasikan dalam bentuk paket nutrisi untuk anak usia di atas 1 tahun , paket beasiswa pendidikan online, dan juga perbaikan fasilitas belajar bagi anak-anak Indonesia yang membutuhkan.
“Donasi bisa dilakukan oleh semua masyarakat dengan mengunjungi website kami dan langsung pilih jenis donasi yang ingin didukung,” papar elas Astrid Prasetyo, Marketing Manager SGM Eksplor.
Astrid mengaku jika gerakan #AyoTunjukTangan ini upaya agar masyarakat Indonesia lebih peduli lagi pada masa depan anak bangsa. Apalagi 9 dari 10 anak Indonesia menurut data Unicef masih kesulitan mengakses pendidikan dan gizi yang baik.
Dalam gerakan sosial ini, SGM Eksplor tidak hanya berkolaborasi dengan masyarakat Indonesia, melainkan juga berkolaborasi dengan pelaku industri lainnya. Salah satunya Telkomsel yang berkomitmen untuk terus mendorong pertumbuhan SDM dan komunitas digital demi mewujudkan mimpi #GenerasiMaju di masa depan.
Selain itu, SGM Eksplor juga berkolaborasi dengan CAKAP yang merupakan platform pembelajaran online dengan interaksi dua arah yang mempertemukan murid dengan pengajar profesional melalui video calldan percakapan teks yang memiliki sistem penjadwalan fleksibel, serta beberapa perusahaan retail dan e-commerce.
Kolaborasi tersebut dilakukan melalui rangkaian inisiatif untuk menyediakan akses nutrisi dan pendidikan terhadap anak Indonesia, seperti menyediakan paket donasi nutrisi untuk anak usia di atas 1 tahun, donasi paket beasiswa pendidikan online, renovasi infrastruktur sarana pendidikan, dan fasilitas pendukung yang memadai untuk mendukung pembelajaran jarak jauh di masa pandemi ini. Sehingga, melalui kolaborasi ini diharapkan lebih banyak anak Indonesia bisa tumbuh sehat dan bisa belajar dengan layak untuk memaksimalkan tumbuh kembang dan potensi mereka menjadi anak #GenerasiMaju.
“Saya percaya bahwa gerakan sosial #AyoTunjukTangan, yang merupakan dukungan kolektif dari seluruh masyarakat Indonesia, khususnya dari para ibu untuk dapat membantu para Ibu lainnya untuk memastikan kebutuhan nutrisi dan pendidikan anak-anak mereka terpenuhi demi kemajuan dalam setiap tahapan kehidupannya. Oleh karena itu, mari bersama-sama berpartisipasi dalam gerakan sosial #AyoTunjukTangan demi mempersiapkan SDM unggul untuk masa depan Indonesia yang lebih baik,” harapnya Astrid
Reza Rahadian, seorang Aktor dan aktivis sosial pun ikut mengamini dimana Kesuksesan anak-anak Indonesia, bukan hanya di tangan para orang tua mereka, tapi juga di tangan generasi muda.
‘Oleh karena itu, mari kita bersama-sama untuk turut berperan aktif dalam membuka kesempatan untuk anak-anak Indonesia agar bisa berprestasi dan mencapai impian mereka. Kita bisa mulai aksi dukungan kita melalui gerakan sosial #AyoTunjukTangan dimana setiap partisipasi kita akan disalurkan langsung untuk pemenuhan akses nutrisi dan edukasi anak-anak Indonesia demi kemajuan masa depan mereka,” tandasnya.[rea]






