Jember (beritajatim.com) – Pandemi Covid membuat Rumah Sakit Paru di Kabupaten Jember, Jawa Timur kewalahan. Ada sejumlah persoalan yang dihadapi rumah sakit ini.
“Pertama, saat ini berbeda dengan satu tahun lalu. Beban kami ketika saya menambah layanan Covid dan menutup non-Covid, jujur cash flow rumah sakit terganggu, karena klaim (biaya pengobatan) Covid tidak selancar yang dibayangkan. Kami melayani tidak langsung dibayar. Masih menunggu beberapa bulan, bahkan sembilan bulan pun klaim belum cair,” kata Direktur RS Paru Sigit Kusuma Jati, Minggu (25/7/2021).
RS Paru saat ini membutuhkan obat antivirus. “Antivirus begitu susahnya. Penggunaannya harian. Hari ini terpakai, besok saya harus menelepon Dinas Kesehatan Provinsi untuk minta droping lagi. Kadang saya harus mengambil sendiri ke Surabaya, karena memang susah,” kata Sigit.
[berita-terkait number=”4″ tag=”rs-paru”]
Persediaan oksigen juga terbatas. “Sehingga kami harus hati-hati menggunakannya,” kata Sigit.
Namun, RS Paru memiliki persediaan oksigen cair yang biasanya rata-rata setiap dua minggu sekali diisi, kini harus diisi setiap hari. “Kami waswas, kalau hari ini diisi, apakah besok PT Samator mampu mengisi lagi. Itu yang kadang bikin kami cemas,” kata Sigit.
Sigit juga mengatakan, RS Paru kesulitan memperoleh baju Hazmat (Hazardous Material). “Kalau persediaan, stok kami bisa sampai dua bulan. Tapi kalau saya tidak berpikir stok tiga bulan, sangat berisiko karena bisa 200 hazmat yang terpakai per harinya,” katanya.
Selain susah mendapatkan hazmat, menurut Sigit, harganya relatif mahal. “Satu hazmat kurang lebih Rp 140 ribu. Dari sisi kemampuan keuangan, ini menyulitkan rumah sakit,” kata Sigit. [wir/ted]






