Magetan (beritajatim.com) – Harum semerbak ketika melangkahkan kaki di ladang Desa Sidomulyo, Sidorejo, Magetan. Tepatnya di ladang milik Shanti Rochmatin (36).
Ratusan batang bunga mawar terjajar rapi di kebun seluas sekitar 5.000 meter persegi itu. Kebun berbentuk terasering itu ditanami bunga mawar merah yang bisa dipanen tiap hari. Baik pagi maupun sore hari dengan total sehari panen mencapai 30 kilogram.
Berkebun bunga mawar sudah dilakoninya sejak empat tahun silam. Selain biaya perawatan dan pemeliharaan lebih murah dan mudah. Hasilnya pun lebih banyak ketimbang ditanami sayur mayur seperti sebelumnya. Mawar hanya butuh peremajaan setahun sekali.
‘’Sisanya hanya memupuk dan semprot hama sebulan sekali. Kemudian hanya mengatur pemetikan agar tunas bunga tetap berkembang. Kalau di musim selain lebaran dan Ramadan, saya sering jadikan olahan bunga mawar, bisa makanan, minuman, kosmetik, dan hand sanitizer,’’ kata Shanti, Jumat (9/7/2021)
Ide itu tercetus pertama kali saat pandemi Covid-19 mulai menerpa. Berawal dari mencoba dan melihat cara – cara di media sosial, dia mulai menjajal. Hingga beberapa kali percobaan, dengan satu takar atau setara satu kilogram mawar bisa menghasilkan lima liter sirop mawar. Juga sekitar sekilogram untuk teh mawar.
[berita-terkait number=”4″ tag=”umkm-magetan”]
‘’Sementara untuk keripik butuh dua tangkai saja untuk menghasilkan lima pak dengan berat 250 gram. Kalau untuk air mawar kemungkinan jadi 500 mililiter,’’ kata Shanti menyebut kalau dirinya juga buka toko di Lapak Kebun Refugia Magetan.

Meski produk – produk olahan itu masih dalam tahap pengenalan, dia sudah memiliki langganan. Baik di Jakarta maupun Bali. Khususnya untuk sirop mawar. Minuman dengan kandungan zink, antibakteri, dan zat yang ampuh untuk relaksasi itu laku keras di Jakarta.
‘’Salah satu restoran pasti meminta dikirimi tiap minggunya. Setidaknya lima botol kemasan 250 ml selalu dikirim ke Jakarta, dengan harga per botol Rp 20 ribu,’’ ungkap ibu dua anak ini.
Kini guru Bahasa Jawa itu telah menyelesaikan pengembangan penyanitasi tangan. Bahannya yakni air mawar, ditambah alkohol dan baby oil. Ilmu itu sudah ditularkan ke pekebun lain atau yang turut memproduksi olahan bunga mawar di Magetan.
‘’Berikut dengan pengembangan usaha olahan mawar. Mulai dari perijinan hingga sertifikasi badan pengawas obat dan makanan hingga sertifikasi halal. Untuk hand sanitizer juga sudah dijual, 100 mililiter Rp 15.000, tapi masih made by order, belum ada stok,’’ katanya. (asg/ted)






