Akhirnya ibunya tak merasakan sakit lagi. Dia pergi jam satu siang itu. Kamis, 24 Juni 2021. Lebih satu menit tepatnya, menurut catatan kematian yang dikeluarkan rumah sakit.
Nur Elya Anggraini merasa hampa. Dia tak berdaya. Mereka dirawat terpisah selama sepekan terakhir setelah Covid-19 menjangkiti. Sutarmi, sang ibu, dirawat di RS dr. Soetomo. Elya dan adik perempuannya Nurus Sobah menjalani karantina mandiri. M. Ali Akbar Sirajuddin, adik laki-laki Elya, dirawat di RS Lapangan Indrapura, Surabaya.
Virus itu datang seperti pemburu yang bekerja cepat dalam hitungan hari. Mulanya, Sutarmi merasa tak enak badan setelah pulang dari tilik bayi kerabat. Tubuhnya lunglai. Menggigil. Lemas. Batuk. Dia lebih sering berada di tempat tidur dengan ditemani Sobah, anak perempuannya yang bungsu. Dibandingkan dengan anak-anaknya yang lain, Sutarmi lebih dekat dengan Sobah. Beberapa saat saja Sobah hilang dari pandangan mata, ia selalu memanggilnya.
Salah satu keresahan Sutarmi adalah melihat Sobah belum juga menikah. Usianya sudah mendekati 70 tahun, dan ia ingin melihat anak bungsunya itu berkeluarga segera. Beberapa kali ia meminta Elya untuk mencarikan sang adik pasangan. “Itu adiknya dibantu,” katanya selalu.
Mendengar ibunya sakit, Elya memutuskan meninggalkan tugas-tugasnya sebagai komisioner Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Jawa Timur untuk bertolak pulang ke rumahnya, di Desa Jaddih, Kecamatan Socah, Kabupaten Bangkalan. Sekitar satu jam perjalanan dari Surabaya jika lalu lintas padat, menyeberangi Jembatan Suramadu.
Setelah bercerai, Elya dan tiga anaknya lebih banyak tinggal di Jaddih. Namun ia lebih sering di Surabaya, terutama karena tugasnya sebagai komisioner Bawaslu saat pemilu membuat mobilitasnya tinggi. Dia sering ke luar kota, dan terpaksa pulang ke Bangkalan sepekan sekali. Selama ini Sutarmi, Sobah, dan Ulva, adik iparnya, yang merawat tiga anaknya, Mahir, Kamil, dan Karim.
Elya memutuskan ikut menunggui sang ibu. Dia sudah merasakan bagaimana kehilangan seorang ayah karena sakit beberapa tahun sebelumnya. Dia tak ingin kehilangan ibunya terlalu cepat.
Rumah di Jaddih tak memancarkan kegembiraan saat Elya menginjakkan kaki. Sobah sakit. Mahir dan Kamil yang selama ini satu kamar dengannya dan sang nenek mendadak demam dan batuk. Hanya si bungsu Karim yang baik-baik saja. Raju, sapaan akrab Ali Akbar Sirajuddin, menyediakan diri untuk merawat mereka. Namun ia juga tumbang dengan gejala yang sama.
Elya memutuskan untuk memisahkan tempat tidur tiga anaknya dengan nenek dan bibi mereka. Mereka tidur di musala, sebelum akhirnya dia memutuskan untuk mengirimkan Mahir dan Kamil ke rumah ayah mereka di Jember. Sementara Karim tinggal bersama Ulva, istri Raju yang sedang hamil delapan bulan.
Ini bukan tantangan dengan opsi terbuka. Elya kini yang harus merawat ibu dan dua adiknya. Ini hanya soal waktu sebelum dia terpapar gejala yang sama.
Beberapa jam kemudian, Elya merasa tenggorokannya seperti tengah menelan duri. Batuk berkali-kali. Suhu tubuhnya mulai meningkat. Meriang. Kepalanya pusing. Tubuhnya lemas. Bibi dan adik sepupunya yang tinggal di depan rumah juga demikian.
Elya merasa, mereka sekeluarga tidak sedang baik-baik saja. Kemungkinan serangan virus Covid varian delta terlalu mengerikan untuk diabaikan. Uji antigen mengonfirmasi tubuhnya terserang virus corona. Hasil polymerase chains reaction (PCR) memperkuat dugaannya: mereka sekeluarga terjangkiti Covid-19.
Kondisi ibunya sempat membaik, sebelum keesokan harinya kembali menggigil dan linu. Tidak bisa tidak. Elya memutuskan untuk membawa mereka sekeluarga ke Rumah Sakit Lapangan Indrapura, Surabaya. Namun hanya ibunya yang diputuskan untuk dirawat inap. Kadar oksigen dalam darah ibunya hanya 93 persen dan para dokter merujuknya untuk dirawat ke Rumah Sakit dr. Soetomo.
Berada di instalasi gawat darurat selama tiga hari, kondisi ibunya semakin memburuk. Dadanya semakin sesak. Persediaan ventilator habis, saat delapan belas orang antre untuk menggunakannya. Elya menangis setiap kali mendengar ibunya kesulitan menarik dan melepaskan napas saat mereka saling berkabar melalui telepon seluler.
Elya tidak tahu apakah mereka semua sanggup menghadapi ujian ini. Hurun Ain, kakak perempuannya di Malang, meneleponnya hanya untuk menangis. Hanya menangis. Selebihnya sunyi.
Harapan sempat muncul saat Hurun mengabarkan, Rumah Sakit Daerah Lawang masih memiliki cadangan ventilator. Berburu dengan waktu, dari Surabaya, mobil ambulans melaju membawa sang ibu ke Malang.
Namun persoalan belum selesai. Pukul dua malam, Raju mengalami sesak napas. Kadar oksigen dalam darahnya turun. Dua rumah sakit menolaknya karena tak ada lagi tempat tersisa. Harapan terakhir di Indrapura. Nyaris ditolak, jika saja Elya tidak mengatakan Raju memiliki komorbid asma. Raju tertolong. Ada pasokan dari tabung oksigen untuk membantunya bernapas.
Elya memutuskan melakukan karantina mandiri bersama Sobah di Surabaya. Mereka memilih untuk menghindari Jaddih. Madura sudah masuk zona hitam. Setiap hari selalu ada kabar warga yang meninggal dunia di desa mereka.
Madu, vitamin C, vitamin D, uap panas, sinar matahari, obat-obatan resep dokter menjadi menu harian mereka. Mereka melakukan apa yang dilakukan kaum rebahan Indonesia: makan, tidur, dan mencoba untuk bergembira. Namun tentu saja, sulit bagi mereka untuk bergembira, saat belum ada kabar baik dari Malang.
Dan memang tidak ada kabar baik dari Malang. Kondisi ibu mereka memburuk.
Kamis, 24 Juni. Pukul 06.40. “Kesadaran Ummi mulai menurun. Kondisinya kurang baik. Saturasi oksigennya bagus 99 persen, tapi respirasi sama nadinya cenderung tidak stabil.” Hurun berkabar di grup WhatsApp keluarga.
Pukul 08.00. Melalui Hurun, Elya meminta kepada perawat agar membantu ibunya melewati masa kritis itu. “Saya mohon bantuannya untuk mengingatkan salatnya Ibu Sutarmi nggih meskipun hanya bisa salat dalam hati saja dan disuruh istighfar terus. Minta tolong juga sampaikan salam cinta kami untuk Ummi dari anak-anaknya: Hurun, Ely, Raju, Sobah.”
Ada bulir air yang mengalir di pipinya saat mengetikkan pesan itu. Ia tak menyekanya.
“Dan Seandainya Ibu masuk pada fase-fase terminal, mnta tolong dibisikkan kalimat Allah nggih Pak/Bu. Insya Allah Ibu bisa mengikutinya dalam hati.”
Pukul 12.00. Hurun kembali memberi kabar. Ibu mereka dirawat lima dokter spesialis dan dia baru bertemu salah satunya. “Ummi sudah tidak sadar, badannya sudah dingin semua. Tensi sudah drop. Tetap dibantu obat-obatan. Keluarga harus siap.”
Pukul 12.40. “Ummi tidak sadar, sudah tidak merasakan sakit, sudah tidak tersiksa dengan sesaknya.” Hurun mengirimkan pesan itu kepada adik-adiknya.
“Dirawat di rumah ataupun di rumah sakit aku tetap tidak bisa menyentuh Ummi. Tapi dengan kita bawa ke rumah sakit, kita sudah melakukan ikhtiar maksimal untuk Ummi meskipun dengan ikhtiar ini Ummi tidak bisa melihat kita, tidak bisa melihat Kameel, tidak bisa berkumpul dengan anak cucu tercinta. Kita tidak bisa memeluk Ummi justru di saat-saat kritis di mana Ummi membutuhkan kita. Allaaaahu robbiii, sungguh ujian terberat bagi Ummi dan kami anak cucunya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”oryza”]
Hapuskan dosa-dosa Ummi yaa robb. Hantarkan beliau ke jannah tertinggi-Mu. Sungguh nikmat besar apa yang telah Engkau siapkan untuk kami di balik ujian yang maha berat ini yaa robb?’
Pukul 13.01. Ibu mereka berpulang.
Perawat mengizinkan Hurun membantu pemulasaraan ibu mereka. Fotonya mengenakan pakai hazmat dikirimkan ke grup WA keluarga. Elya memandangnya dengan perasaan kosong.
Minggu, 4 Juli 2021. Pulang ke Jaddih seperti menjemput kenangan itu kembali. Shobah menangis saat melihat lemari ibunya. Apapun di rumah itu mengingatkan kepada ibu mereka. Kenangan itu ada di setiap sudut, dan pesan itu masih terngiang di telinga Elya: ‘jaga adik-adikmu’. [wir/but]






