Malang(beritajatim.com) – Untuk mengantisipasi membludaknya pasien Covid-19. Pemerintah Kota Malang terus menambah jumlah rumah sakit rujukan untuk penanganan Covid-19. Apalagi, bed occupancy rate (BOR) nyaris penuh.
Wali Kota Malang, Sutiaji mengungkapkan Pemkot Malang telah meminta izin ke Rektor Universitas Brawijaya Nuhfil Hanani untuk peminjaman wisma mahasiswa. Tempat ini akan dijadikan safe house atau rumah karantina bagi pasien tanpa gejala.
“Kota Malang sudah menyiapkan beberapa hal ketersediaan bed. Saya telepon rektor UB mendapatkan respon. Beliau dan civitas akademika mengambil kebijakan dan memberikan lampu hijau (persetujuan),” ujar Sutiaji.
Sutiaji bahkan telah melakukan peninjauan ke lokasi bersama Dinkes Kota Malang. Dia mengungkapkan kapasitas di Safe House UB sebanyak 200 bed terdiri dari 50 kamar dengan masing-masing kamar 4 kasur. Rencananya akan dibuka dalam waktu dekat, kini sedang dipersiapkan segala keperluannya termasuk tenaga kesehatan.
“Dalam waktu dekat (dioperasikan). Bednya sudah bagus, tiap kamar sudah ada kamar mandinya buang air kecil sendiri cukup representatif. Musholla ada dan ini terbuka tidak memakai AC karena di dataran tinggi. Kedua ventilasi cukup memadai dan sangat mendukung orang tanpa gejala,” kata Sutiaji.
[berita-terkait number=”4″ tag=”covid-19″]
Sutiaji mengatakan, Safe House UB bisa digunakan terapi bagi para OTG. Sebab, lokasinya berada di atas ketinggian dengan suhu yang sejuk. Sehingga membuat pasien yang ada di tempat ini nyaman.
“Karena ini wilayah Kabupaten siapapun yang kena Covid-19 bisa ditampung. Kita tidak bisa bicara sektarian kita bicara kepentingan semua. Saudara kita di kabupaten tapi rumah dekat sini ngapain jauh-jauh ke kabupaten. Kota bagian dari kabupaten dan kabupaten bagian dari kota,” tandasnya. (luc/ted)






