Surabaya (beritajatim.com) – Menggelar pameran di masa pandemi Covid-19 bukan perkara mudah. Panitia harus memastikan seluruh pengunjung dan peserta dalam keadaan aman. Protokol kesehatan ketat. Lengah sedikit, bahasa virus Corona telah mengincar.
Tugas berat itu disanggupi oleh Haris Frismananda, M Ridwan, dan Budi Astuti. “Tentu tidak hanya kami bertiga. Teman-teman panitia lain juga membantu. Intinya, kami saling mengingatkan. Kami bertiga sebatas koordinator,” ujar Haris, Senin (21 Juni 2021).
Bilangnya sebatas koordinator, padahal tidak demikian kenyataannya di lapangan. Haris setiap sesi acara senantiasa berkeliling. Begitu terlihat gejala pengunjung tampak berkerumun, Haris cepat melangkah mendekat. Dia beri pemahaman tentang pentingnya protokol kesehatan. Dia ingatkan tentang ganasnya Covid-19.
“Tugas saya memang memastikan tidak kerumuman. Tidak boleh tiga atau lima orang bergerombol terlalu dekat. Pengunjung harus jaga jarak. Mengambil batas aman,” katanya.
Terlihat Haris kadang harus beradu argumen. Tetapi entah dengan kata-kata apa, pengunjung yang didatangi Haris tampak segan berdebat. Mereka lebih memilih mengiyakan. Beberapa juga ngeloyor menjauh.
“Ya kadang ada yang menyepelekan. Kalau ada yang seperti itu, saya menjelaskannya dengan contoh-contoh ringan. Yang penting akhirnya mereka paham pentingnya protokol kesehatan. Lebih penting lagi, mereka tidak sampai salah paham terhadap saya,” katanya.
Bukan hanya kerumunan, mata Haris juga selalu menyasar pada orang per orang di area pameran. Dia ingin memastikan seluruh pengunjung dan peserta pameran buku dan obral buku murah bertajuk LiterArt Fest ini telah memakai masker secara benar. Jika ada yang memakai masker sebatas di dagu, Haris mendatangi dan mengingatkannya.
“Tidak berat sebenarnya. Kami tim. Juga ada teman yang bertugas di pintu masuk pameran. Teman yang menyemprotkan sanitizer. Juga ada yang teman yang menjaga di bagian cuci tangan. Tidak, tidak sendirian, kita bekerja sama saling melengkapi,” katanya.
Sekadar diketahui, pameran buku dan obral buku murah bertajuk LiterArt Fest digelar tiga hari, Jumat (18 Juni 2021) hingga Minggu (20 Juni 2021) di Dekesda Art Center, Jl Erlangga No 67 Sidoarjo. Pameran diikuti oleh penerbit, komunitas, dan kampus di Sidoarjo.
Ketua Umum Dewan Kesenian Sidoarjo Ali Aspandi menuturkan bahwa penerbitan buku adalah salah satu aspek penting dalam indutri kreatif. Pameran buku yang digelar Dekesda dimaksudkan sebagai upaya untuk lebih mendongkrak dunia penerbitan di Sidoarjo.
“Jika penerbitan ini berkembang lebih pesat, Sidoarjo setidaknya mendapatkan 3 manfaat utama. Pertama, aspek pendidikan dengan budaya membaca. Kedua, tercipta ekosistem sastra dan literasi yang lebih sehat. Ketiga, ekonomi masyarakat lebih tumbuh dari aspek industri kreatif,” kata Ali Aspandi.
Sementara itu, Rizka Amalia, salah satu panitia pelaksana menjelaskan bahwa Kabupaten Sidoarjo memiliki lebih dari 20 penerbit dan memiliki lebih dari 100 penulis. Persoalannya, banyak penulis dari Sidoarjo yang mencetak buku ke penerbit luar Sidoarjo.
“Kita mencoba memfasilitasi pertemuan antara penerbit, penulis, institusi terkait, dan masyarakat umum. Harapannya kendala, potensi, dan rencana pengembangan penerbitan di Sidoarjo bisa terbahas secara lebih terang,” katanya.
Terkait teknis pameran buku, Rizka Amalia menjelaskan bahwa kegiatan melibatkan beberapa pihak. “Pihak yang utama adalah penerbit dan penulis. Sedangkan obral buku murah melibatkan para pedagang buku bekas yang ada di Sidoarjo. Biasanya mereka berjualan via online. Nah, kali ini, kita beri ruang untuk menggelar lapak secara offline,” kata Rizka.
[berita-terkait number=”4″ tag=”covid”]
Dipaparkan oleh Rizka, selama tiga hari, beberapa acara dilaksanakan. Dimulai dengan hari pertama yang berisi acara pembukaan dan diskusi tentang penerbitan. Hari kedua, siang sampai sore, diadakan parade launching buku terbitan dari Sidoarjo. Dilanjutkan malam hari pertunjukan musik dan diskusi penulisan oleh Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Sidoarjo.
Pada hari ketiga, LiterArt Fest dibuka sejak pagi hingga malam hari. “Pagi hari kita adakan lomba mewarnai untuk anak-anak usia 5 – 8 tahun. Siangnya diskusi strategi menembus media massa dan penerbit oleh teman-teman Forum Lingkar Pena Sidoarjo. Lalu malamnya ada pertunjukan musik dan lelang buku langka. Lelang ini dipandu oleh dua komedian, yaitu Robert Bayoned dan Ipoel Bayoned,” katanya. [but]







