Surabaya (beritajatim.com) – Kondisi psikis warga Bangkalan yang potisif Covid 19, pasca dilakukan rapid antigen dan swab PCR di Jembatan Suramadu sisi Surabaya, perlu pendampingan secara khusus. Mereka rata-rata belum bisa menerima kenyataan bahwa dirinya kondisi sakit.
Dr Kadek Ratna selaku Konsultan Media Kejiwaan Rumah Sakit Lapangan Indrapura mengatakan bahwa kebanyakan pasien ini belum siap karena mereka merasa tidak sakit saat dilakukan swab di lokasi penyekatan. Banyak gejala yang dirasakan para pasien seperti stres psikis, emosi lebih tinggi, cemas, gelisah dan berdebar.
“Pasien dari Madura ini belum siap untuk diisolasi karena mereka tidak merasa sakit saat penyekatan namun hasilnya positif. Mereka belum siap secara psikis banyak yang mengeluh stres di sini. Jadi lebih emosi karena yang ditangkap oleh mereka beda, ada sesuatu hal yang dipendam di dada akhirnya sesak,” ungkap dr Kadek Ratna saat ditemui di RSLI dalam jumpa pers varian baru Covid 19, Selasa (15/6/2021).
Lebih lanjut dikatakan dokter asal Bali ini, salah satu cara untuk menyembuhkan adalah dengan melakukan pendekatan kepada para pasien ini. Jika tidak disembuhkan akan berdampak pada imunitas tubuh sang pasien. Maka pihaknya memberikan terapi kepada sebagian pasien yang sering mengeluh susah tidur, cemas, berdebar dan jika dengan cara terapi belum teratasi para psikolog ini akan memberikan obat kejiwaan yang sesuai dengan kondisi pasien.
[berita-terkait number=”4″ tag=”covid-bangkalan”]
“Pendekatan kami salah satunya adalah mengajak bicara, lalu diterapi tergantung keluhannya dianogsis. Kala cemas bisa diterapi biasa hingga relaksasi psioterapi. Jika tidak teratasi bisa diberi obat jiwa salah satunya obat penenang namun dengan beberapa jenis jika cemas dikasih obat anti cemas supaya kondisinya kembali stabil,” ungkap dr Ratna.
Diketahui sebelumnya, tak jarang pasien Covid 19 dari hasil penyekatan di jembatan Suramadu banyak yang berontak dengan berbagai alasan. Salah satunya karena jauh dari pantauan orang tua dan harus libur bekerja karena harus menjalani isolasi. [way/but]







