Kediri (beritajatim.com) – Mendekati pendaftaran pasangan calon Walikota Kediri pereode 2019-2023 dari jalur partai politik (parpol) muncul nama calon baru. Dialah Aizuddin Abdurrahman, cucu pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH Hasyim Asary.
Gus Aiz, sapaan akrab mantan Ketua Umum Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa ini maju dalam bursa pencalonan atas perintah dari para kiai-kiai sepuh NU di Kota Kediri.
“Saya selaku santri yang ketepatan juga berkhitmad kepada para masayyih, diperintah apapun, kondisi apapun, nderek dawuh, termasuk diperintah untuk menjadi calon Walikota Kediri,” kata Gus Aiz kepada beritajatim.com, Rabu (3/1/2018).
Gus Aiz meyakini, perintah para kiai adalah tanggung jawab yang harus ia emban dan dihargai oleh bersama. Perintah kiai tak lain untuk kemaslahatan masyarakat Kota Kediri.
Saat ini, dirinya sedang melakukan komunikasi baik di level tataran komunikasi politik, maupun dengan tokoh masyarakat. Tentunya dengan membangun politik yang berkebangsaan. Sebagaimana NU yang berprinsip politik kemaslahatan, bukan poitik yang saling menikam.
“Semua itu harus kita dewasakan. Agar masyarakat tidak terbentur pada politik praktis, apalagi demokrasi yang liberal. Kita menginginkan, menerjemankan perintah kiai, bahwa politik bukan tujuan, melainkan alat, atau cara yang akan digunakan sebaik mungkin,” terus sepupuh mantan Presiden RI KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur ini.
Ditanya perihal partai politik sebagai kendarannya, Gus Aiz menjawab masih dalam proses komunikasi. Tetapi, salah satu parpol yang dipastikan mengusungnya adalah Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Bahkan, Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PKB Kota Kediri telah mengusulkan namanya ke DPP PKB untuk direkom.
“Sejauh ini selama komunikasi politik bagus, konstruktuf, dan dikembalikan ke tujuan masyarakat Kota Kediri lebih baik, menurut saya partai yang sevisi tidak ada masalah. Ada beberapa partai politik yang sudah kita ajak komunikasi, tetapi saya tidak mau mendahului,” sambungnya.
Disinggung mengenai nama Sujono Teguh Wijaya, anggota DPRD Kota Kediri, yang disebut bakal menjadi pasangannya? Gus Aiz tidak menampik. Formasi ini kabarnya juga perintah dari para kiai-kiai NU. Dan nama keduanya masuk dalam satu paket pasangan calon yang diusulkan ke DPP PKB.
“Ada beberapa kalkulasi politik yang tidak bisa dipahami banyak orang. Tetapi sejauh ini pak Jono adalah salah satu yang akseptabel. Kedua pak Jono tidak mungkin berangkat sendiri. Ini juga bagian dari yang kita komunikasikan,” terusnya.
Nama Aizuddin Abdurrahman sendiri di Kota Kediri sebenarnya sudah tidak asing. Meskipun selama ini tinggal di Ibu Kota Jakarta, tetapi lekat dengan masyarakat ‘Kota Tahu’. Betapa tidak, dia adalah menantu pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Al Amin, Ngasinan KH. Anwar Iskandar.
“Secara pribadi saya bukan orang lain di Kediri. Sejak kelas 4 SD saya sudah mondok di Kediri, pondok saya di Kolak, Ngadiluwih. Kemudian sering ke Lirboyo ngaji, dan sowan-sowan. Kediri rumah kedua bagi saya. Istri saya juga orang Kediri,” jlentrehnya.
Ditempat terpisah, Sujono Teguh Wijaya, Anggota DPRD Kota Kediri dari Partai Golkar mengaku, tawaduk dengan para kiai. Sehingga, apabila para masayyih memerintahkan dirinya untuk menjadi pasangan Gus Aiz, akan diterimanya. Itu artinya, niat pengusaha mebel di Kota Kediri maju sebagai calon walikota Kediri 2018, tampaknya bakal kandas, karena hanya akan menduduk posisi AG2.
“Injih mas kalau saya manut apa kata kiai sepuh,” pesan pendek pak Jono, panggilan akrab Sujono Teguh Wijaya.
Apabila Gus Aiz jadi berpasangan dengan pak Jono, keduanya dipastikan bakal mendapatkan rekomendasi dari koalisi PKB dan Partai Golkar. Namun, demikian, menurut mereka, ada beberapa parpol yang diajak membangun koalisi. Bahkan, Gus Aiz memastikan, secara syarat administrasi pendaftaran ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) ia yakini sudah tidak ada kendala.
Untuk diketahui, KPU Kota Kediri telah membuka pengumuman pendaftaran pasangan calon Walikota Kediri dari jalur parpol mulai 1-7 Januari 2018. Sementara pendaftaran sendiri dibuka mulai 8-10 Januari 2018 mendatang. [nng/but]






