Malang (beritajatim.com) – Debur ombak khas pantai selatan menyambut kedatangan saya tatkala matahari mulai condong ke ufuk barat pada Sabtu sore. Angin laut yang bertiup perlahan merayapi pesisir Pantai Goa Cina, sebuah destinasi bahari ikonik yang terletak di Dusun Tumpak Awu, Desa Sitiarjo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang.
Perjalanan sejauh 76 kilometer dari pusat Kota Malang seolah terbayar tuntas saat menginjakkan kaki di atas hamparan pasir putihnya. Menghabiskan akhir pekan di sini—mulai dari Sabtu sore hingga Minggu siang sekitar pukul 13.00 WIB—memberikan sensasi liburan yang begitu tenang juga menyenangkan. Terlebih lagi, momen bermalam di area glamping menyuguhkan suasana syahdu yang sulit dilupakan: tidur beratap langit malam sembari ditemani alunan deru ombak.
Namun, di balik keindahan alam dan kenyamanan suasana glamping-nya, Pantai Goa Cina menyimpan cerita dinamika pariwisata yang terus berputar. Sembari menikmati pemandangan laut, saya sempat berbincang dengan Syaifuddin, salah seorang pemilik toko setempat yang sudah berjualan di kawasan ini selama lebih dari 15 tahun. Pria paruh baya ini paham betul bagaimana pasang surut denyut kehidupan di Pantai Goa Cina.
“Dulu Goa Cina ini sangat ramai pengunjung, pantainya pun terlihat lebih bersih daripada yang sekarang. Sekarang sudah kalah saing sama Tanjung Penyu, kalah juga sama Teluk Asmara. Padahal Goa Cina ini selain menawarkan pantai, juga ada unsur sejarahnya, salah satunya adanya gua itu dan dekat dengan Masjid Cheng Ho,” kenang Syaifuddin saat menceritakan romantika masa lalu.
Syaifuddin mengungkapkan, pada masa keemasannya dulu, perputaran uang di pantai ini begitu deras. Dalam semalam saja, pendapatan para pedagang secara keseluruhan bisa menembus angka hingga Rp40 juta. Sayangnya, seiring berkembangnya jalur lintas selatan (JLS) dan bermunculannya pantai-pantai baru, pamor Goa Cina perlahan meredup.
Upaya memoles kembali wajah pantai ini sebenarnya pernah mengemuka. Syaifuddin menceritakan bahwa beberapa waktu lalu sempat ada tawaran renovasi dari sebuah perusahaan swasta untuk menata ulang area jualan pedagang.
“Beberapa waktu lalu sebenarnya sempat ada tawaran dari salah satu PT untuk merenovasi tempat berjualan. Dengan budget per toko sekitar Rp100 juta, rencananya mau dijadikan pujasera dan akses jalan diperbaiki. Tapi tidak semua toko menyetujui tawaran itu akhirnya ya gagal,” tuturnya dengan nada agak menyayangkan.
Selain deretan toko dan fasilitas glamping yang asri, keunikan utama pantai ini memang terletak pada nilai sejarah serta karakter geografisnya. Nama Goa Cina sendiri tidak lepas dari sebuah prasasti papan informasi yang terpasang di area gua dekat pantai.

Berdasarkan prasasti dari Pengelola Wisata tersebut, nama Guwa China mulai mencuat sekitar tahun 1930. Konon, nama itu terinspirasi dari seorang pertapa berkebangsaan Tionghoa bernama Hing Hook yang bermeditasi di dalam gua karang selama bertahun-tahun hingga akhirnya mukso (hilang secara gaib). Pertapa tersebut meninggalkan surat wasiat yang mengonfirmasi identitas dirinya, hingga akhirnya masyarakat menyematkan nama Guwa China pada lokasi tersebut.
Bagi wisatawan yang datang dengan harga tiket masuk Rp15.000 ini, pemandangan luar dipenuhi lanskap tiga pulau karang besar yang berdiri kokoh di tengah laut, yakni Pulau Goa Cina, Pulau Bantengan, dan Pulau Nyonya. Di sini pula terjadi fenomena unik tempat bertemunya gelombang ombak besar dari tiga arah sekaligus—selatan, timur, dan barat. Pusaran ombak yang kuat membuat pengelola melarang keras siapa pun untuk berenang.
Memasuki Minggu pagi, suasana pantai kian hidup. Tampak beberapa keluarga memanfaatkan waktu untuk bersantai dan menyalurkan hobi. Salah satunya adalah Muksit, pengunjung asal Dinoyo, Kota Malang, yang sengaja datang untuk menemani sang putra memancing ikan.
Bagi Muksit, pantai selatan Malang selalu punya daya tarik tersendiri untuk dieksplorasi setiap hari Minggu, meski tren destinasi kini mulai bergeser.
“Saya ke pantai ganti-ganti. Kalau yang enak buat camp atau glamping selain di sini (Goa Cina), di Kondang Merak juga enak. Pantai Banyu Meneng itu enak buat anak-anak kecil main karena ombaknya relatif tidak sebesar di sini. Kalau mau ramai ya di Balekambang, atau Tanjung Penyu yang sekarang jadi favorit. Kalau dulu Goa Cina ini favorit, tapi sekarang memang sudah kalah dengan Teluk Asmara dan Tanjung Penyu,” ujar Muksit ramah sembari mengawasi anaknya yang sedang melempar kail.
Muksit menceritakan bahwa jika ingin mendapat ikan lebih cepat dan banyak, Pantai Sendang Biru masih jadi jawaranya, walau harus rela berdesakan dengan pemancing lain.
“Jadi saya dan anak saya coba eksplor cari-cari pantai lain. Tapi sejauh ini rata-rata semua ikan yang diperoleh ukurannya sama, saya lupa apa namanya. Pokoknya seukuran tangan orang dewasa,” kelakarnya disambung tawa renyah.
Matahari makin tinggi ketika jarum jam menunjukkan pukul 13.00 WIB di Minggu siang itu. Tiba waktunya untuk berkemas dan meninggalkan Pantai Goa Cina. Walau kini bertarung di tengah gempuran pantai-pantai baru, pesona alam yang indah, kesejukan malam saat ber-glamping, serta jejak sejarah yang ditinggalkannya tetap menjadikan Pantai Goa Cina sebagai sudut nostalgia yang selalu menyenangkan untuk dikunjungi kembali. (dan/aje)






