Surabaya (beritajatim.com) – Kegagalan program pengentasan kemiskinan di daerah kerap kali dipicu oleh pendekatan seragam yang tidak memperhitungkan kesiapan mental penerima manfaat. Pemberian bantuan barang maupun modal usaha secara cuma-cuma sering kali berakhir sia-sia tanpa dampak jangka panjang.
Menjawab persoalan mendasar tersebut, terobosan anyar berbasis riset akademis kini resmi diterapkan demi memastikan efektivitas anggaran daerah.
Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Kota Surabaya melakukan riset pengentasan kemiskinan berbasis potensi dan karakteristik keluarga miskin (Gakin) pada Jumat (24/7/2026).
Kepala Brida Kota Surabaya, Agus Imam Sonhaji, membeberkan bahwa program penanggulangan kemiskinan sebelumnya kerap terkendala karena ketiadaan asesmen awal terkait kapasitas psikologis warga.
Pemberian fasilitas seperti modal atau rombong (gerobak) dagang terbukti sering mangkrak di tengah jalan karena tidak selaras dengan ketahanan mental penerimanya.
“Ternyata (setelah dilakukan pendekatan) warga kurang mampu itu harus kita pisahkan, mana yang punya potensi dan semangat kerja, serta mana yang butuh pendampingan mental dan motivasi terlebih dahulu,” ujar Agus pada Jumat (24/7/2026).
Melalui pendekatan psikologis, Brida memetakan warga ke dalam empat kelompok: kelompok pembinaan motivasi awal, kelompok pekerja pengikut, kelompok pekerja mandiri tangguh, serta kelompok calon entrepreneur.
“Bagi kelompok pertama dan kedua, fokus utama intervensi diarahkan pada aspek pembenahan mentalitas dan pendampingan psikologis terlebih dahulu,” jelas Agus.
Guna mengukur mentalitas warga secara presisi, Brida meluncurkan sistem asesmen khusus bertajuk Brida Step (Surabaya Talent Entrepreneurial Path).
“Untuk mengukur mentalitas dan konsep diri warga secara akurat, Brida Kota Surabaya resmi meluncurkan inovasi asesmen Brida Step (Surabaya Talent Entrepreneurial Path), memanfaatkan tiga alat ukur psikologi, yaitu Tes Tipi (kepribadian), Tes Grit (konsep diri dan daya tahan), serta Tes Kewirausahaan,” paparnya.
Sistem ini dijalankan secara hibrida (cetak dan website) agar ramah bagi warga yang tidak memiliki gawai. Usai uji coba selama lima minggu, data Brida Step diintegrasikan ke sistem Dinsos dan Disperinaker (Si Asik).
“Ke depan, kami juga akan merangkul fakultas psikologi dari berbagai perguruan tinggi di seluruh Surabaya seperti Ubaya, UINSA, dan kampus lainnya, untuk berbagi peran dalam mengawal pembinaan mental warga di tingkat RPK maupun SWK sesuai keunggulan masing-masing akademisi,” pungkas Agus. [rma/ian]






