Surabaya (beritajatim.com) – Tantangan pengusaha masa kini tidak berhenti pada persoalan modal. Kemampuan membaca pasar, membangun jejaring, hingga berkolaborasi dengan kampus dan pemerintah menjadi penentu daya tahan bisnis.
Realitas itu mengemuka dalam Sarasehan Bisnis Nasional Airlangga Business Community (ABC) di Surabaya Suite Hotel, Jumat (24/7/2026). Forum ini mengumpulkan alumni Universitas Airlangga (Unair) dari berbagai latar belakang.
Hadir perwakilan pemerintah, Kamar Dagang dan Industri (Kadin), perbankan, akademisi, hingga perintis usaha. ABC di bawah naungan Ikatan Alumni (IKA) Unair berupaya menjembatani kebutuhan tersebut.
Ketua ABC Dicky Fanani menyebut tantangan dunia usaha terus berkembang. Pebisnis membutuhkan ekosistem utuh yang membuka jalur pembiayaan, investasi, teknologi, serta mitra strategis di lapangan.
“ABC ingin menjadi penghubung yang mempertemukan pelaku usaha, dunia industri, lembaga keuangan, pemerintah, dan akademisi dalam satu ekosistem yang saling menguatkan,” katanya.
Pengembangan jejaring ini merupakan bagian dari blueprint panjang organisasi. Langkah tersebut dirancang agar ikatan alumni tidak hanya berfungsi sebagai ruang pertemuan rutin para pengusaha.
“Melalui Blueprint 2045, ABC mengambil peran konkret sebagai penghubung berbagai sumber daya yang sangat dibutuhkan dunia usaha untuk terus berinovasi,” ujar Dicky.
Kelembagaan bisnis turut mendapat perhatian khusus dalam diskusi ini. Wakil Ketua Bidang Migas Kadin Jawa Timur Tri Prakoso menyoroti pentingnya sebuah organisasi pelindung bagi pelaku usaha.
“Fungsi organisasi pengusaha tidak sebatas membangun jejaring. Advokasi amat dibutuhkan saat pengusaha menghadapi hambatan regulasi, perizinan, hingga fasilitas pengembangan bisnis,” jelasnya.
Pendampingan dari lembaga dinilai harus berjalan secara berkesinambungan. Tri mencontohkan langkah Pemerintah Kabupaten Banyuwangi yang mendampingi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mengurus legalitas hingga sertifikasi halal.
“Pendampingan tidak berhenti pada mendorong UMKM berdagang. Mereka juga perlu dibantu secara bertahap sesuai persoalan yang dihadapi agar produk masuk ke pasar lebih luas,” sebutnya.
Inovasi berbasis riset turut menjadi poin pembahasan. Tri memaparkan contoh pengembangan tanaman edamame di lingkungan tropis yang memerlukan penelitian spesifik dan analisis perilaku konsumen.
Kolaborasi dengan perguruan tinggi di Thailand dilakukan untuk mencari bibit yang sesuai kondisi tanah tropis. Hasilnya, varietas baru berhasil dikembangkan menyesuaikan permintaan pasar.
Hal itu membuktikan kampus dapat mengambil peran lebih luas. Perguruan tinggi bisa menjadi mitra periset bagi pengusaha dalam memecahkan masalah industri sehari-hari.
Pelayanan dari pemerintah daerah juga diangkat dalam diskusi. Sekretaris Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jawa Timur Shovitusholihah menekankan kepastian regulasi untuk menopang iklim investasi daerah.
Peluang pembiayaan syariah bagi pelaku usaha dipaparkan oleh Area Micro and Pawning Manager Bank Syariah Indonesia Ahmad Nuruddin. Kemampuan manajemen pasar ditegaskan harus mengimbangi masuknya bantuan finansial.
Pertemuan yang melibatkan lebih dari 50 peserta ini memfasilitasi penjajakan kerja sama secara langsung. Transformasi jejaring diharapkan sanggup mewujudkan kolaborasi ekonomi yang riil dan berkelanjutan. [ipl/ian]






