Jombang (beritajatim.com) – Bau obat rumah sakit masih menyengat ketika Sabar (47) membuka matanya perlahan. Di atas ranjang perawatan RSUD Jombang, tubuhnya tampak lemah. Selang infus tertancap di tangan kirinya, mengalirkan cairan yang perlahan masuk ke tubuhnya yang belum sepenuhnya pulih.
Sesekali matanya terpejam. Bukan hanya karena menahan rasa sakit, tetapi juga karena pikirannya kembali pada peristiwa mengerikan yang nyaris merenggut nyawanya.
Pagi itu, Rabu (22/7/2026), seharusnya menjadi perjalanan biasa bagi Sabar. Ia hanya ingin berangkat dari rumah untuk sowan ke kediaman KH Nurhadi atau yang dikenal sebagai Mbah Bolong di Desa Watugaluh, Kecamatan Diwek, Jombang.
Dengan sepeda motor Yamaha Vega R bernopol S 2181 OY, Sabar melaju seorang diri dari arah timur. Tak ada tanda-tanda buruk. Tak ada firasat bahwa perjalanan itu akan berubah menjadi momen yang tak akan pernah ia lupakan.
Namun, takdir berkata lain.
Ketika tiba di depan pabrik sepatu PT Pei Hai, Jalan Raya Janti, Jogoroto, Jombang, langkah perjalanan Sabar terhenti. Itu karena sejumlah karyawan pabrik sedang menyeberang jalan untuk masuk kerja.
Pagi itu, jalur Surabaya–Jombang memang tengah dipenuhi aktivitas warga. Kendaraan berlalu-lalang, pekerja mulai berdatangan, dan suasana tampak seperti pagi biasa.
Hingga tiba-tiba, ketenangan itu pecah.
Dari arah Surabaya, sebuah truk kontainer besar melaju tanpa kendali dan menghantam kendaraan-kendaraan yang sedang berhenti dari arah belakang.
“Kan jam masuk (karyawan), disuruh berhenti sama yang menyeberangkan jalan. Tiba-tiba ada mobil besar dari belakang menyeruduk dan saya tidak tahu,” ujar Sabar saat ditemui di RSUD Jombang.
Dalam hitungan detik, jalan raya berubah menjadi kepanikan. Suara benturan keras terdengar bertubi-tubi. Sabar masih mengingat jelas suara seperti batu yang berjatuhan. “Bunyinya kretek-kretek. Seperti suara batu dilempar-lempar,” kenangnya.

Tubuhnya ikut terdorong akibat kerasnya hantaman. Ia terseret ke depan sekitar dua meter bersama kendaraan yang ditabrak truk kontainer tersebut.
Di tengah kekacauan itu, orang-orang berteriak histeris. Sebagian berusaha menyelamatkan diri, sementara lainnya tergeletak tak berdaya di aspal.
Truk boks Hino bernopol B 9188 PEU yang dikemudikan Abdul Aziz (24), warga Desa Girijabaya, Kecamatan Muncang, Kabupaten Lebak, terus menjadi sumber kepanikan sebelum akhirnya berhenti.
Sabar masih dalam kondisi sadar ketika menyadari tubuhnya mengalami luka berat. Ia tak mampu bergerak. Kakinya mengalami patah parah hingga hampir putus.
“Saya waktu itu sadar, tidak bisa lari ke mana-mana, tidak bisa menghindar. Kaki patah mau putus, dan saya berpikir bagaimana ini menyambungnya,” ucap Sabar lirih, didampingi istri dan anaknya.
Di tengah rasa sakit dan ketakutan, ia hanya bisa bertahan sambil melihat tragedi di depan matanya. Beberapa orang mengalami luka, sementara sebagian lainnya tidak berhasil diselamatkan.
Tak lama kemudian, suara sirene mulai terdengar. Petugas kepolisian dan tim medis datang ke lokasi. Para korban segera dievakuasi ke rumah sakit, termasuk Sabar. Sementara kendaraan dan sopir truk diamankan untuk menjalani pemeriksaan.
Kini, setelah melewati masa kritis, Sabar masih harus menjalani perawatan panjang. Direktur RSUD Jombang dr. Pudji Umbaran menyebut kondisi Sabar perlahan membaik, meski cedera pada bagian kaki membutuhkan penanganan serius.
“Kesadarannya bagus, hanya memang kakinya bermasalah karena banyak bagian yang patah. Tim medis akan melakukan tindakan pembedahan,” jelas dr. Pudji.
Sabar merupakan salah satu dari tiga korban luka yang sempat dirujuk ke RSUD Jombang. Dua korban lainnya diperbolehkan pulang karena hanya mengalami luka ringan.
Sementara itu, kecelakaan maut yang terjadi sekitar pukul 06.30 WIB tersebut telah ditangani Unit Penegakan Hukum Satlantas Polres Jombang. Dalam insiden itu, dua orang meninggal dunia dan enam lainnya mengalami luka-luka.
Polisi telah melakukan penyelidikan dan menetapkan sopir trailer sebagai tersangka. Abdul Aziz juga telah ditahan untuk menjalani proses hukum.
Bagi Sabar, kejadian pagi itu bukan sekadar kecelakaan. Itu adalah detik ketika hidupnya seperti berada di ujung batas. Ia kehilangan kemampuan untuk melawan, tetapi masih diberi kesempatan untuk bertahan.
Di ruang perawatan RSUD Jombang, di antara rasa sakit dan proses panjang pemulihan, satu hal terus ia pegang: rasa syukur karena masih diberi kesempatan untuk pulang kepada keluarganya. [suf]






