Ringkasan Berita
* Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersama Deputi Gubernur Bank Indonesia Filianingsih Hendarta dan Kepala Perwakilan BI Jatim Ibrahim mempertegas komitmen penguatan ekosistem kopi dan kakao lokal menuju pasar global dalam penutupan Java Coffee & Flavors Fest (JCFF) 2026 di Surabaya.
* Dengan ditopang potensi produksi kopi Jatim yang mencapai 80.895 ton dari 123.720 hektare lahan kopi rakyat serta kontribusi Jawa sebesar 220.000–250.000 ton komoditas perkebunan, perhelatan JCFF 2026 sukses melampaui target dengan membukukan total transaksi dan komitmen ekonomi senilai Rp87 miliar, meliputi Rp20 miliar pembiayaan perbankan, Rp67 miliar kesepakatan perdagangan (Letter of Intent), serta Rp1 miliar transaksi ritel UMKM.
———————————————————————–
Surabaya (beritajatim.com) — Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama Bank Indonesia resmi menutup rangkaian Java Coffee & Flavors Fest (JCFF) 2026 di Alun-Alun Surabaya. Ajang tahunan yang berlangsung pada 17–19 Juli 2026 ini tidak hanya mempertegas posisi Jawa Timur sebagai poros utama agroindustri komoditas unggulan nasional, melainkan juga berhasil mencetak rekor transaksi bisnis dan pembiayaan melampaui target yang ditetapkan.
Mengusung tema “From Local Flavors to Global Horizon”, festival kolaboratif ini mempertemukan seluruh mata rantai ekosistem perkebunan, mulai dari petani, pelaku UMKM, perbankan, akademisi, hingga pembeli dalam dan luar negeri.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyatakan optimismenya bahwa komoditas kopi dan kakao asal Jawa Timur memiliki daya saing kuat di pasar internasional. Mengingat pergeseran gaya hidup masyarakat global yang kian menggemari produk berkelanjutan dan bercita rasa premium, Jatim dinilai memiliki keunggulan komparatif dari segi keragaman geografis.
“Jawa Timur memiliki kekuatan tidak hanya dari sisi volume produksi, tetapi juga keragaman cita rasa kopi yang berasal dari karakter geografis masing-masing daerah. Karena itu, pengembangan sektor perkebunan harus diarahkan pada hilirisasi, pengolahan, penguatan merek, sertifikasi, dan perluasan akses pasar internasional,” tegas Khofifah saat menghadiri JCFF 2026 di Surabaya.
Khofifah menjelaskan, Indonesia saat ini menguasai sekitar 7 persen pangsa pasar kopi dunia dan berada di peringkat empat produsen terbesar setelah Brasil, Vietnam, dan Kolombia. Di tingkat nasional, Jawa Timur merupakan salah satu dari lima provinsi penghasil kopi terbesar dengan total produksi mencapai 80.895 ton yang disokong oleh sentra utama di Kabupaten Malang, Banyuwangi, Bondowoso, dan Situbondo. Selain itu, potensi perkebunan kopi rakyat di Jatim membentang seluas 123.720 hektare.
Untuk komoditas kakao, Pemprov Jatim terus mengakselerasi klasterisasi pengembangan di wilayah Blitar, Madiun, Trenggalek, hingga Pacitan guna menjamin diversifikasi tanaman perkebunan dan stabilitas pendapatan petani.
“Saya menyampaikan terima kasih kepada Bank Indonesia yang terus menjadi mitra strategis dalam memperkuat ekosistem kopi dan kakao Jawa Timur. Sinergi seperti inilah yang harus terus diperkuat agar petani memperoleh nilai tambah yang semakin besar,” tambah Khofifah.
Dukungan Bank Indonesia untuk Ekosistem Perkebunan Jawa
Deputi Gubernur Bank Indonesia, Filianingsih Hendarta, menggarisbawahi pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam membawa komoditas unggulan Nusantara menembus rantai pasok global. Menurut data Bank Indonesia, total akumulasi produksi kopi, kakao, dan teh di Pulau Jawa pada tahun 2024 berada pada kisaran 220.000 hingga 250.000 ton, di mana Jawa Timur memegang peran vital sebagai sentra utamanya.
“Tema From Local Flavors to Global Horizon mencerminkan komitmen bersama membawa komoditas unggulan Indonesia ke pasar dunia melalui penguatan kualitas, inovasi, dan kolaborasi. Semoga JCFF terus berperan dalam meningkatkan kesejahteraan petani dan UMKM serta memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian Indonesia,” ungkap Filianingsih.
Capaian Komitmen Ekonomi dan Transaksi Bisnis JCFF 2026
Dari sisi operasional dan dampak ekonomi langsung, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur, Ibrahim, melaporkan bahwa penyelenggaraan JCFF 2026 di Alun-Alun Surabaya dan Hotel Kempinski Surabaya menorehkan hasil signifikan.
Pada agenda business matching yang digelar Sabtu (18/7/2026), tercatat 31 komitmen pembiayaan senilai Rp20 miliar serta 54 Letter of Intent (LoI) perdagangan senilai Rp67 miliar. Sementara itu, penjualan ritel UMKM selama tiga hari pameran berhasil menembus angka Rp1 miliar.
“Selama tiga hari ini Alun-Alun Surabaya benar-benar menjadi ruang bertemunya berbagai kreativitas dan kolaborasi. Kami mencatat terdapat 31 komitmen pembiayaan dengan nilai Rp20 miliar dan ini melampaui target. Kemudian ada 54 Letter of Intent perdagangan senilai sekitar Rp67 miliar. Nilai ini akan terus kami kawal agar terealisasi menjadi transaksi perdagangan riil,” ujar Ibrahim.
Dipelopori sejak tahun 2022 yang awalnya hanya berfokus pada kopi Pulau Jawa, JCFF kini telah berevolusi menjadi wadah integrasi multi-komoditas yang mencakup teh, cokelat, produk lebah, dan rempah-rempah. Bank Indonesia Jawa Timur menegaskan komitmennya untuk terus mengawal pembinaan UMKM pasca-event melalui fasilitasi kurasi, perluasan akses pembiayaan, promosi digital, hingga pendampingan ekspor.[rea]







