Ringkasan Berita:
- Muatin mengaku tidak mengetahui putranya, Femas Yani Arianto, pergi ke Korea Selatan dan hanya berpamitan ke Surabaya.
- Ia baru mengetahui Femas berada di Korea Selatan setelah kabar hilangnya viral di media sosial.
- Kabar tersebut membuat kondisi kesehatan Muatin menurun dan menambah beban keluarga.
- Muatin berharap putranya segera ditemukan dalam keadaan selamat.
Madiun (beritajatim.com) – Kisah hilangnya Femas Yani Arianto, pemuda asal Desa Bantengan, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun, di Korea Selatan masih menyisakan duka bagi keluarganya. Sang ibu, Muatin, mengaku sama sekali tidak mengetahui putranya berangkat ke luar negeri karena sebelumnya Femas hanya berpamitan hendak pergi ke Surabaya.
Muatin mengatakan dirinya baru mengetahui keberadaan anak keduanya di Korea Selatan setelah informasi mengenai hilangnya Femas ramai beredar di media sosial. Kabar tersebut pertama kali diketahui dari anak bungsunya yang melihat unggahan tentang Femas yang disebut menghilang di Negeri Ginseng.
“Saya tidak tahu kalau dia ke Korea. Pamitnya cuma bilang mau ke Surabaya,” ujar Muatin saat ditemui di kediamannya, Minggu (19/7/2026).
Informasi tersebut membuat Muatin terpukul. Ia mengaku kondisi kesehatannya menurun setelah mengetahui kabar tersebut. Selama beberapa hari, ia hanya bisa beristirahat di rumah karena mengalami gangguan kesehatan akibat tekanan pikiran.
Selain dihantui rasa cemas memikirkan keberadaan putranya, Muatin juga menerima banyak telepon dari berbagai pihak yang menanyakan kondisi Femas.
Menurutnya, beban keluarga semakin berat setelah pihak agen perjalanan disebut meminta pertanggungjawaban kepada keluarga dengan nilai mencapai Rp50 juta.
“Selama tiga hari saya langsung sakit. Asam lambung naik, badan lemas, kepala pusing. Saya benar-benar drop dan tidak berani keluar rumah,” ungkapnya.
Muatin mengaku kondisi ekonomi keluarganya juga terbatas. Sejak suaminya meninggal dunia beberapa tahun lalu, ia harus menghidupi keluarganya seorang diri. Usaha jual beli pupuk yang sebelumnya menjadi sumber penghasilan keluarga pun sudah tidak lagi berjalan.
Femas merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Kakak perempuannya telah berkeluarga, sedangkan adiknya masih duduk di bangku kelas II sekolah dasar.
Di tengah belum adanya kepastian mengenai keberadaan putranya, Muatin hanya bisa memanjatkan doa agar Femas segera ditemukan dalam keadaan selamat.
“Semoga anak saya diberi umur panjang, selalu sehat, dan bisa segera kembali pulang,” tuturnya penuh harap. [rbr/beq]






