Mojokerto (beritajatim.com) – Tahun ajaran baru 2026/2027 menjadi kondisi berbeda bagi SDN Pandankrajan 1, Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto. Jika biasanya bangku di ruang kelas I mulai terisi oleh siswa baru, kali ini tidak ada satupun peserta didik baru yang masuk ke sekolah tersebut.
Kepala SDN Pandankrajan 1, Juwono membenarkan, jika SDN Pandankrajan 1 di Tahun Ajaran 2026/2027, tidak mendapatkan satupun siswa baru. Tidak adanya siswa baru dipengaruhi sejumlah faktor, salah satunya tradisi masyarakat yang memilih menyekolahkan anaknya ke lembaga pendidikan terdekat.
“Tradisi masyarakat menyekolahkan anaknya ke lembaga pendidikan terdekat turut memengaruhi SDN Pandankrajan 1 tidak mendapatkan murid baru,” jelasnya,” ungkapnya, Kamis (16/7/2026).
Ia menyebut, jumlah siswa yang masih aktif belajar di SDN Pandankrajan 1 saat ini hanya 22 peserta didik. Rinciannya, sebanyak 4 siswa berada di kelas II, 6 siswa kelas III, 7 siswa kelas IV, dan 5 siswa kelas V. Sementara untuk kelas VI tidak terdapat siswa lantaran seluruhnya telah menyelesaikan pendidikan.
“Totalnya 22 siswa, yang delapan siswa kemarin sudah lulus. Paling sedikit siswa kelas dua,” ungkap Juwono.
Menurutnya, kekosongan kelas I pada tahun ajaran baru ini juga dipengaruhi minimnya jumlah lulusan taman kanak-kanak (TK) di sekitar wilayah tersebut. Dari data yang ada, jumlah calon peserta didik yang lulus TK tahun ini mencapai 13 anak.
“Untuk kelas I memang kosong karena faktor kelulusan dari TK. Saat ini jumlahnya 13 siswa, yang berdomisili dekat dengan sekolah kami ini hanya satu siswa. Orang tuanya juga memutuskan untuk tidak masuk ke sini, mungkin mencari sekolah lain,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Mojokerto, Amsar Azhari Siregar menyampaikan,bpihaknya telah melakukan mitigasi dan analisa terkait kondisi SDN Pandankrajan 1 sebelum penerimaan peserta didik baru tahun ajaran 2026/2027.
“Memang pada tahun ini kita telah melakukan mitigasi dan analisa, Pandankrajan 1 tidak mendapatkan murid. Memang di tahun ini jumlah anak produktif di Desa Pandankrajan untuk memasuki jenjang SD itu sangat sedikit sekali,” ujarnya.
Menurut mantan Camat Pungging ini, kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan dalam penyelenggaraan pendidikan dasar di Kabupaten Mojokerto. Terutama bagi sekolah-sekolah yang berada di wilayah pinggiran dengan jumlah penduduk usia sekolah terbatas.
“Di Tahun Ajaran 2026/2027, di Kabupaten Mojokerto tercatat ada delapan lembaga pendidikan tingkat SD yang mempunyai siswa di bawah 10 orang. Kebanyakan adalah sekolah-sekolah di pinggiran, dari delapan lembaga pendidikan tersebut hanya SDN Pandankrajan 1 yang tidak mendapatkan siswa,” jelasnya.
Dinas Pendidikan Kabupaten Mojokerto, lanjutnya, terus melakukan pemetaan terhadap kondisi sekolah agar kebijakan pendidikan dapat menyesuaikan dengan perkembangan jumlah peserta didik di masing-masing wilayah. [tin/aje]






