Selama bertahun-tahun, sepak bola Prancis dan Spanyol terkoneksi, bahkan pada masa perang dunia kedua. Saat berkuasa di Spanyol, Jenderal Franco memerintahkan digelarnya pertandingan-pertandingan melawan negara-negara sesama fasis. Prancis yang saat itu dikuasai Rezim Vichy yang dipimpin Marsekal Philippe Pétain menurunkan tim kolaborator Nazi dalam pertandingan di Sevilla pada 12 April 1942.
Namun kedua timnas jarang bertemu pada momentum penting. Baru pada 29 Juni 1984, Prancis bertemu dengan Spanyol di Parc des Princes, Paris, dalam final Piala Eropa. Saat itu Platini dan Bellone mencetak gol yang membawa Prancis meraih gelar internasional pertama mereka.
Kemenangan ini menunjukkan superioritas sepak bola Ptancis hari itu. Namun Tom Williams dalam buku Va-Va Voom: The Modern History of French Football mengatakan, sesungguhnya Prancis berutang besar kepada Spanyol. Bagi pemain-pemain Prancis, Spanyol telah lama menjadi panggung pembuktian kualitas dan tempat untuk memamerkan keterampilan teknis mengolah bola. Sedikit banyak Spanyol ikut membentuk warna sepak bola Prancis.
Semua berawal saat bintang Prancis Raymond Kopa bermain untuk Real Madrid. Sejak saat itu hanya pemain berkualitas tertinggi yang mampu bertahan dan sukses di La Liga. Zinedine Zidane adalah contoh bagus bagaimana menjadikan Spanyol panggung pertunjukan keindahan sepak bola, sekaligus mengambil banyak pelajaran di sana.
Alfredo Di Stéfano menggambarkan Zidane seolah bermain dengan sarung tangan sutra di kedua kakinya. Sementara bagi Álvaro Mejía, lulusan akademi Real Madrid yang berlatih bersamanya setiap hari, menyaksikan Zidane seperti melihat seseorang menari sambil memainkan sepak bola. Zidane adalah sosok komplet yang disukai publik Spanyol.
Menutup karirnya sebagai pemain dengan serudukan ke dada Materazzi yang berujung kartu merah dalam Piala Dunia 2006, Zidane mendapatkan kesempatan kedua dari Real Madrid untuk ‘menebus dosa’ dengan menjadi asisten pelatih Carlo Ancelotti pada 2013.
Tiga tahun kemudian, Zidane ditunjuk menjadi pelatih kepala Real Madrid pada Januari 2016, dan mengantarkan klub tersebut memenangi Liga Champions tiga musim berturut-turut. Kebintangannya saat menjadi pemain dan ketenangannya mempermudah relasi dengan para pemain. Dalam sebuah klub yang diisi deretan pemain berego besar, bukan hal mudah bagi pelatih untuk mendinginkan ruang ganti.
Setelah Karim Benzema sukses membentuk trio BBC bersama Gareth Bale dan Cristiano Ronaldo, sejumlah pemain Prancis menyusul bermain di La Liga, dan sebagian menjadi tulang punggung timnas Prancis menjelang pertandingan menghadapi Spanyol dalam semifinal Piala Dunia 2026: Kylian Mbappé, Aurélien Tchouaméni, dan Jules Koundé.
Saat Piala Dunia 2006, Zidane yang dipuja-puja di Spanyol memimpin Les Bleus merontokkan La Furia Roja 3-1 da;a, fase 16 Besar. David Villa sempat membawa Spanyol unggul melalui penalti pada menit 27. Namun Franck Ribéry, Patrick Vieira, dan Zinédine Zidane membuat keunggulan dini itu tak berarti. Hari itu Zidane menjadikan pertarungan melawan Spanyol panggung kemenangan dan keindahan.
Namun dalam pertandingan resmi berikutnya, Spanyol membalikkan posisi. Prancis kesulitan menaklukkan mereka. Terakhir dalam semfinal UEFA Nations League 5 Juni 2025, sembilan gol tercipta. Spamyol unggul lima gol lebih dulu melalui dua gol Lamine Yamal, Nico Williams, Mikel Merino, dan Pedri. Namun Kylian Mbappé, Rayan Cherki, Dani Vivian, dan Randal Kolo Muani mempertipis keunggulan dan mengubah skenario pembantaian menjadi pertandingan yang heroik.
Kendati kalah, pertandingan tersebut menunjukkan bagaimana kokohnya mental juara Prancis yang tidak remuk dalam tekanan. Menurut Williams, mental juara itu dipelajari dari Italia. Saat dekade 1990-an, Serie A adalah tujuan utama pemain-pemain Prancis. Kompetisi ini tidak hanya mengasah kemampuan teknis dan fisik, namun juga menanamkan disiplin, ketangguhan, serta pemahaman taktik tinggi.
Kemenangan Prancis atas Italia dalam Piala Dunia 1998 dipandang sebagai bukti bahwa para pemain Prancis telah berhasil menyerap pelajaran penting dari sepak bola Italia. Italia mengajarkan pentingnya efektivitas dan kemenangan daripada keindahan sepak bola belaka.
Filosofi taktik pelatih Prancis saat ini, Didier Deschamps, terbentuk berdasarkan pengalamannya bermain di Serie A bersama Juventus 1994-1999. Budaya kerja keras di Italia mengajarkan tentang pentingnya disiplin sebagai syarat mutlak untuk meraih kesuksesan.
Menurut Deschamps generasi pemain Prancis pada masanya sangat berutang kepada sepak bola Italia atas pelajaran mengenai disiplin, organisasi permainan, dan mental juara. Pengaruh Italia ini yang terbawa saat ia melatih tim nasional Prancis. Deschamps menerapkan filosofi yang menekankan disiplin, pertahanan kokoh, dan kekompakan tim.
Semifinal Piala Dunia 2026 adalah panggung terbaru mereka. [wir/but]






