Ponorogo (beritajatim.com) – Hari pertama tahun ajaran baru 2026/2027 menjadi kenyataan pahit bagi empat sekolah dasar negeri (SDN) di Kabupaten Ponorogo. Hingga dimulainya kegiatan belajar mengajar, keempat sekolah tersebut belum menerima satu pun siswa baru. Kondisi itu membuat sekolah harus memulai tahun ajaran tanpa peserta didik kelas 1.
Sekretaris Dinas Pendidikan (Dindik) Ponorogo, Farida Nuraini, mengatakan berdasarkan laporan terbaru yang diterima dinas, terdapat empat SDN yang belum memperoleh siswa baru. Keempat sekolah itu berada di wilayah yang berbeda. Dindik pun telah melakukan pemetaan untuk mengetahui penyebab kondisi tersebut. Selain SDN Nailan di Kecamatan Slahung, tiga SDN yang tidak mendapat murid baru tahun ini yakni SDN Setono di Kecamatan Jenangan, SDN Pomahan 3 di Kecamatan Pulung, dan SDN Tempuran 4 di Kecamatan Sawoo.
“Yang nol siswa itu sampai sejauh ini ada empat yang sudah update ke kita. Yang pertama itu SDN Nailan, yang kedua SDN Setono, yang ketiga itu SDN Pomahan 3, dan yang keempat itu SDN Tempuran 4,” kata Farida Nuraini, Senin (13/7/2026).
Menurut Farida, Dindik tidak ingin terburu-buru menyimpulkan penyebab minimnya peserta didik baru di empat sekolah tersebut. Sejumlah faktor masih dikaji secara menyeluruh. Salah satunya berkaitan dengan kondisi geografis masing-masing wilayah.
“Kita sudah melakukan pemetaan di lapangan. Jadi yang pertama faktor geografis. Yang kedua, kita tidak bisa mengatakan apakah itu karena KB berhasil atau tidak, karena secara data otentik real kita belum melakukan pendataan secara rinci,” ungkapnya.
Selain itu, Dindik Ponorogo juga masih menelusuri jumlah lulusan taman kanak-kanak (TK) di lingkungan sekitar empat sekolah tersebut. Pendataan itu diperlukan untuk mengetahui potensi calon peserta didik yang seharusnya masuk SD pada tahun ajaran ini. Hasil pendataan akan menjadi dasar dalam menentukan langkah penanganan berikutnya.
Farida menjelaskan, Dindik Ponorogo telah menyusun sejumlah langkah agar sekolah-sekolah yang mengalami kekurangan siswa tetap memiliki peluang berkembang. Langkah pertama adalah memetakan potensi peserta didik di sekitar sekolah. Selanjutnya, dinas membangun kolaborasi dengan berbagai pihak di tingkat desa.
Menurutnya, keberadaan SD negeri tidak bisa dilepaskan dari dukungan lingkungan sekitar. Karena itu, pemerintah desa dinilai memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan sekolah. Upaya tersebut dilakukan bersama para pemangku kepentingan di wilayah masing-masing.
Farida menambahkan, komunikasi telah dilakukan dengan kepala desa, perangkat desa, hingga unsur pemerintah di wilayah setempat. Kolaborasi itu diharapkan mampu mengoptimalkan potensi yang dimiliki desa, termasuk mendukung keberlangsungan sekolah dasar negeri. Dindik berharap berbagai langkah tersebut dapat memberikan solusi bagi sekolah yang tahun ini belum memperoleh siswa baru.
“Kita melakukan komunikasi dengan beberapa stakeholder setempat, baik itu kepala desa, perangkat-perangkat terkait, hingga pejabat-pejabat di daerah itu, bagaimana caranya agar potensi di desa itu menjadi berkembang, salah satunya adalah SD tersebut,” pungkas Farida. (end/kun)






