Blitar (beritajatim.com) – Persiapan operasional tahun ajaran baru di Sekolah Rakyat Kota Blitar terus dimatangkan. Meski antusiasme menyambut siswa baru cukup tinggi, pihak pengelola memutuskan untuk menunda pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) demi menjamin keselamatan peserta didik.
Kepala Sekolah Rakyat Kota Blitar, Johan Argono, menjelaskan bahwa keputusan ini diambil setelah melakukan evaluasi kondisi di lapangan.
“Dengan masih adanya pembangunan ini, kami mengevaluasi tempat dan ternyata masih membahayakan untuk anak-anak, apalagi yang SD. Jadi, diusulkan untuk mundur MPLS-nya,” jelas Johan, Senin (13/7/2026).
MPLS yang secara nasional dimulai pada 14 Juli, secara khusus di Sekolah Rakyat Blitar diundur menjadi 31 Juli 2026.
Sembari menunggu pembangunan rampung, waktu jeda sebelum MPLS akan dimanfaatkan untuk melakukan pemeriksaan komprehensif kepada seluruh calon siswa.
Pemeriksaan ini terbagi menjadi dua fokus utama, yakni bekerja sama dengan Dinas Kesehatan setempat. Siswa akan diperiksa untuk mendeteksi potensi penyakit menular, seperti batuk atau TBC. Jika ditemukan keluhan, siswa harus disembuhkan terlebih dahulu sebelum berbaur.
Tes ini bertujuan untuk memetakan minat dan bakat anak. Johan mencontohkan, jika seorang siswa memiliki bakat sepak bola dan sudah tergabung dalam Sekolah Sepak Bola (SSB) di luar, pihak sekolah akan memfasilitasi dan menanggung biayanya.
Sekolah Rakyat ini dirancang khusus untuk membantu masyarakat dari kalangan rentan, terutama keluarga yang masuk dalam data Desil 1 dan 2. Dalam proses rekrutmennya, pengelola dibantu oleh pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) yang terjun langsung menjangkau calon siswa.
Seluruh kebutuhan hidup dan pendidikan siswa ditanggung sepenuhnya oleh negara. Ini mencakup seragam, pakaian sehari-hari, hingga perlengkapan mandi.
Para siswa akan tinggal di asrama dan diawasi selama 24 jam penuh oleh wali asrama. Aturan kunjungan pun diperketat; orang tua atau keluarga hanya diizinkan menjenguk pada hari Minggu, kecuali ada kegiatan atau kondisi khusus.
Data penerimaan siswa saat ini masih bersifat dinamis. Dari data awal yang masuk sebanyak 81 anak, sekolah menargetkan kapasitas maksimal hingga 270 siswa.
Rinciannya, untuk jenjang sekolah dasar (SD) sebanyak 90 anak, sekolah menengah pertama (SMP) 90 siswa, dan sekolah menengah atas (SMA) 90 siswa.
Untuk memenuhi kebutuhan tenaga pendidik di awal masa operasional, Sekolah Rakyat mendapat dukungan dari Dinas Pendidikan Kota Blitar dan Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Blitar Raya. Mereka akan mengirimkan guru tamu yang akan bertugas selama kurang lebih dua bulan.
Untuk menunjang kinerja para pendidik dan wali asrama yang bertugas mengawasi anak-anak selama 24 jam, pemerintah juga telah menyediakan fasilitas asrama guru dan guest house di dalam kompleks sekolah. (owi/kun)






