Surabaya (beritajatim.com) – National Hospital Surabaya dan CryoCord Indonesia menjalin kerja sama untuk memperluas akses terapi berbasis sel punca (stem cell) di Indonesia. Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) sebagai bagian dari pengembangan layanan kedokteran regeneratif yang mengedepankan keselamatan pasien serta kepatuhan terhadap regulasi.
Penandatanganan MoU dilakukan jajaran manajemen kedua institusi, di antaranya Chief Executive Officer National Hospital Ang Hoey Tiong, Direktur National Hospital dr. Hendera Henderi, Sp.OG., M.H.P.M., serta Managing Director CryoCord Group James Then. Melalui kerja sama tersebut, pasien yang memenuhi indikasi medis berpeluang memperoleh layanan terapi sel punca sesuai standar klinis.
“Kami ingin masyarakat Indonesia memperoleh akses terhadap layanan kesehatan berbasis teknologi medis tanpa harus berobat ke luar negeri,” ujar Direktur National Hospital, dr. Hendera Henderi, Rabu (8/7/2026).
Dia menjelaskan kerja sama tersebut menjadi bagian dari upaya National Hospital memperluas layanan kedokteran regeneratif di Indonesia. Seluruh tindakan terapi, kata dia, akan dilakukan berdasarkan indikasi medis, berada di bawah pengawasan tenaga kesehatan profesional, serta mengikuti ketentuan etik dan regulasi yang berlaku.
“Yang kami bangun bukan hanya layanan baru, tetapi juga akses yang lebih luas agar pasien dapat memperoleh terapi berbasis sel punca sesuai indikasi medis di dalam negeri,” katanya.
Kerja sama ini juga membuka peluang bagi klien CryoCord yang menyimpan sel punca untuk memanfaatkan sampel biologis miliknya sebagai bagian dari terapi, sepanjang memenuhi persyaratan medis dan mendapat persetujuan tim Regenerative Medicine National Hospital.
“Kolaborasi ini menjadi jembatan antara hasil riset dan penerapan klinis agar manfaatnya dapat dirasakan pasien,” kata Managing Director CryoCord Group, James Then.
James menjelaskan CryoCord selama ini mengembangkan layanan di bidang terapi sel dan gen, tidak hanya penyimpanan sel punca, tetapi juga teknologi terapi lain seperti Natural Killer Cell, Cytokine-Induced Killer Cell, Extracellular Particles, hingga CAR T-Cell. Menurut dia, kolaborasi dengan National Hospital diharapkan dapat mendukung pengembangan kedokteran regeneratif sekaligus memperluas pilihan terapi bagi pasien di Indonesia.
“Harapan kami, semakin banyak pasien di Indonesia yang dapat memanfaatkan perkembangan terapi sel dan gen secara bertanggung jawab dan sesuai perkembangan ilmu pengetahuan,” pungkas James. [asg/kun]






