Malang (beritajatim.com) – Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (FILKOM UB) menerapkan sistem pengelolaan sampah terpadu yang dirancang secara efektif dan tepat guna di seluruh lingkungan fakultas. Kebijakan ini bergerak di bawah koordinasi Tim Smart Green Campus.
Program tersebut menjadi implementasi konkret dari pilar Sustainable Development Goals (SDGs), dengan fokus utama pada SDG 12 mengenai Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Dekan FILKOM UB, Ir. Tri Astoto Kurniawan, S.T., M.T., Ph.D., IPM., menjelaskan bahwa aktivitas penanganan limbah domestik dan akademik ini berjalan secara rutin setiap hari kerja pada pagi dan sore hari.
“Dimulai sejak pukul 06.00 WIB di seluruh area gedung fakultas. Kami di dekanat memastikan sistem ini berjalan dengan baik. Untuk eksekusinya, kami menjalin kerja sama resmi dengan PT Werbel Indonesia Services (WIS) selaku mitra pelaksana lapangan,” ujar Tri Astoto, Jumat (3/7/2026).
Operasional di lapangan bergerak secara terstruktur di bawah komando supervisor dan koordinator lapangan dari Tim WIS. Seluruh aktivitas tersebut disupervisi langsung oleh Tim Smart Green Campus FILKOM UB yang diketuai oleh Dr. Tibyani, S.T., M.T.
Prosedur tata kelola limbah di FILKOM UB dirancang melalui alur yang sangat sistematis guna menjamin efisiensi kerja. Guna memastikan kebersihan area vertikal secara optimal, penugasan personel kebersihan dibagi secara spesifik per lantai.
[irp posts=”1524425” ]
Tahap awal dimulai oleh personel lapangan Tim WIS dengan mengambil sampah secara berkala dari setiap unit kerja dan ruangan di setiap lantai gedung. Sampah yang terkumpul kemudian dimasukkan ke dalam kantong sampah (trash bag) khusus, lalu diangkut menggunakan troli menuju Tempat Penampungan Sementara (TPS) yang dipusatkan di area basement.
Setelah seluruh limbah terkumpul di basement, proses pemilahan dilakukan secara manual di bawah pengawasan ketat koordinator lapangan. Sampah dibagi ke dalam tiga kategori utama: organik, non-organik, dan sampah elektronik.
Pada kategori non-organik, botol plastik dipisahkan secara khusus dari tutupnya demi mempermudah proses daur ulang (recycling). Begitu pula dengan limbah berbahan kertas dan kardus yang dikelompokkan berdasarkan jenisnya agar nilai guna material tetap terjaga.
Sebagai fakultas yang berbasis teknologi informasi, FILKOM UB memberikan perhatian ekstra pada penanganan e-waste. Sampah elektronik berupa kabel, pengisi daya (charger), baterai bekas, hingga komponen perangkat keras (hardware) komputer yang rusak dipisahkan secara ketat oleh Tim WIS.
Ketua Tim Smart Green Campus FILKOM UB, Dr. Tibyani, S.T., M.T., menegaskan bahwa prosedur penanganan khusus ini diterapkan untuk mengantisipasi dampak lingkungan dari limbah digital.
”Prosedur ini diterapkan guna mencegah kebocoran zat kimia berbahaya yang berpotensi mencemari lingkungan sekitar kampus,” ujar Tibyani.
Pada tahap akhir, sistem memastikan setiap kategori sampah yang telah dipilah mendapatkan penanganan hilir yang tepat dan bernilai ekonomi. Sampah non-organik seperti plastik, kertas, kardus, serta komponen elektronik tertentu disalurkan ke mitra penyedia jasa daur ulang untuk diproses kembali menjadi produk baru.
Sementara itu, untuk sampah organik, FILKOM UB memanfaatkan lahan internal dengan mengalokasikannya ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang terintegrasi di area pertanian milik fakultas. Di lokasi tersebut, limbah organik diolah lebih lanjut menjadi pupuk kompos untuk menyokong vegetasi hijau di lingkungan sekitar fakultas.
“Melalui hilirisasi yang terukur dan sinergi manajemen yang disiplin, FILKOM UB membuktikan bahwa institusi pendidikan mampu memberikan kontribusi nyata bagi kelestarian bumi di era digital,” kata Tibyani menutup. [dan/aje]






