Malang (beritajatim.com) – Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (FILKOM UB) menegaskan posisinya di kancah global dengan menyelenggarakan Face IT 2025, program pertukaran akademik dan budaya yang sukses menarik 397 peserta dari 32 negara. Kegiatan ini menjadi salah satu program internasionalisasi terbesar yang digelar di Indonesia.
Dengan tema “A+X: Artificial Intelligence and Its Cross-Disciplinary Impact,” Face IT 2025 yang digelar secara hybrid sejak 15 September ini tidak hanya berfokus pada teori. Tahun ini, FILKOM UB mengangkat isu unik tentang bagaimana Artificial Intelligence (AI) dapat memberikan dampak nyata dan solusi praktis bagi permasalahan di desa-desa Indonesia. Jumlah peserta tahun ini melonjak hampir dua kali lipat dari 195 peserta pada tahun sebelumnya.
Dekan FILKOM UB, Tri Astoto Kurniawan, Ph.D., menjelaskan bahwa Face IT dirancang untuk meningkatkan mobilitas dan kolaborasi mahasiswa antarnegara, tidak hanya sebagai ajang pertukaran budaya, tetapi juga kegiatan akademik yang dapat diakui dalam kurikulum.
“Ini adalah kegiatan untuk social mobility dan mempererat hubungan antar mahasiswa. Harapannya ada rekognisi terhadap kegiatan akademik yang bisa diintegrasikan ke dalam kurikulum,” ujar Tri Astoto, Senin (26/10/2025).
Berbeda dari konferensi teknologi pada umumnya, Face IT 2025 memiliki misi khusus untuk membumikan AI. Berdasarkan pengalaman dari program Mahasiswa Membangun Desa (MMD), FILKOM UB membawa berbagai permasalahan nyata dari desa — mulai dari tata kelola pemerintahan hingga pengembangan UMKM — untuk dicarikan solusinya oleh para peserta internasional.
“Ada banyak masalah di desa yang perlu penyelesaian. Bagaimana mahasiswa asing bisa ikut membantu memikirkan solusi dari sudut pandang IT,” jelas Tri Astoto.
Karena keterbatasan waktu untuk membawa ratusan mahasiswa asing langsung ke lapangan, permasalahan tersebut dibawa ke kampus. Mahasiswa yang sebelumnya terlibat dalam MMD bertindak sebagai lesson officer untuk menjembatani konteks lokal kepada peserta asing.
“Kita tidak bisa bicara hal yang terlalu tinggi di desa. Solusinya harus praktis. Contoh paling mudah, bagaimana AI bisa membantu kepala desa membuat sambutan yang lebih terstruktur, atau membantu guru di desa dalam menyiapkan materi edukasi,” tambahnya.
Plt. Kepala UPT International Academic Affairs UB, Hendrix Yulis Setyawan, Ph.D., mengungkapkan bahwa antusiasme mahasiswa asing untuk belajar di Universitas Brawijaya sangat tinggi. Acara seperti Face IT menjadi pendorong utama dalam program internasionalisasi kampus.
“Tahun lalu, pendaftar mahasiswa asing di UB mencapai hampir 2.400 orang. Namun, karena keterbatasan beasiswa, rata-rata sekitar seratusan yang bisa kami terima,” ungkap Hendrix.
Ia menjelaskan, pendaftar berasal dari 57 negara, dan yang diterima berasal dari 40 negara berbeda, mayoritas dari negara berpenghasilan menengah ke bawah di kawasan Afrika, Timur Tengah, dan Asia Tenggara.
“Kalau dari negara-negara maju seperti Eropa atau Amerika, mereka lebih banyak mendaftar untuk program internship atau mobility seperti ini, bukan untuk program gelar,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua International Relations Office (IRO) FILKOM UB, Muhammad Ali Fauzi, Ph.D., menambahkan bahwa selain membahas solusi untuk agrikultur, kesehatan, dan literasi di desa, isu etika AI (AI ethics) dan keamanan AI (AI safety) juga menjadi materi utama.
Menjawab kekhawatiran tentang potensi AI yang dapat mengancam manusia, Ali Fauzi menegaskan: “Sebenarnya, AI melawan manusia itu bukan masalah pada AI-nya, tapi pada manusianya. Bagaimana kita membuat kebijakan yang mencegah hal itu, sehingga AI dapat beretika dan aman,” ujarnya.
Menurutnya, tanggung jawab utama tetap berada di tangan manusia sebagai pembuat kebijakan. “Dalam Face IT 2025, sebanyak 20 permasalahan desa dibagi menjadi lima tema. Para peserta akan berkompetisi, dan 10 ide solusi terbaik akan difinalkan untuk diimplementasikan langsung di desa,” tutup Ali Fauzi. [kun]






