Lamongan (beritajatim.com) – Status Desa Dermolemahbang sebagai salah satu wilayah yang rawan mengalami kekeringan dan kesulitan air bersih saat musim kemarau, membuat desa yang terletak di Kecamatan Sarirejo, Kabupaten Lamongan tersebut, menjadi sasaran pelaksanaan Bhakti TNI AD, dengan membangun sumur bor.
Saat ini, pekerjaan sudah memasuki tahap pengeboran sumur menggunakan mesin bor, untuk mencapai lapisan sumber air tanah yang telah direncanakan sebelumnya.
Dandim 0812/Lamongan, Letkol Inf Deni Suryo Anggo Digdo, mengatakan pembangunan sumur bor merupakan salah satu program prioritas dalam Bhakti TNI AD untuk Rakyat, yang bertujuan menyediakan akses air bersih bagi masyarakat.
“Kehadiran fasilitas ini diharapkan mampu membantu mengatasi krisis kekeringan, meningkatkan kualitas kesehatan warga, serta mendukung aktivitas sehari-hari masyarakat di Desa Dermolemahbang,” kata Deni, Kamis (2/7/2026).

Menurut Deni, melalui Program Bhakti TNI AD untuk Rakyat, Kodim 0812 /Lamongan bersama Tim Satgas TNI Manunggal Air, terus memperkuat program yang memberikan manfaat langsung.
“Sinergi antara TNI, tenaga teknis, dan masyarakat, diharapkan mampu mempercepat penyelesaian pembangunan sumur bor, sehingga segera dapat dimanfaatkan oleh masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, berdasarkan pemetaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lamongan, sebanyak 89 desa di 15 kecamatan, masuk dalam wilayah yang berpotensi mengalami krisis air bersih.
Kabid Logistik dan Kedaruratan BPBD Lamongan, Ery S. Rosidi, mengatakan dari jumlah tersebut, 44 desa masuk kategori desa kritis air dan 45 desa berstatus desa langka air.
“Seluruh wilayah yang berpotensi sudah kami mitigasi dalam rencana kontinjensi, mulai kategori sangat kritis, kritis, sedang hingga wilayah yang tidak terdampak,” kata Ery.
Ery mengungkapkan, BPBD telah menggelar rapat koordinasi bersama Tim Reaksi Cepat (TRC), organisasi perangkat daerah (OPD) dan lintas sektor, untuk memetakan wilayah yang berpotensi mengalami darurat kekeringan.
Selain itu, BPBD juga telah menyusun rencana kontinjensi yang mengelompokkan daerah berdasarkan tingkat kerawanan beserta jumlah desa, dusun, dan warga yang diperkirakan terdampak.
Sebagai bagian dari kesiapsiagaan, BPBD telah melakukan pemantauan terhadap kondisi embung, telaga, dan waduk untuk mengetahui ketersediaan cadangan air.
“Armada truk tangki juga telah disiapkan, termasuk penentuan titik pengambilan air terdekat guna mempercepat distribusi jika sewaktu-waktu diperlukan,” tuturnya. (fak/but)






