Tegal (beritajatim.com) – Mantan Menteri Perdagangan, Gita Wirjawan, menyerukan perlunya penataan ulang orientasi kepemimpinan nasional.
Menurutnya, Indonesia tidak boleh lagi terjebak pada ukuran elektabilitas dan popularitas semata, melainkan harus mengedepankan integritas, kapabilitas, dan etikabilitas dalam memilih pemimpin masa depan.
Pandangan tersebut disampaikan Gita dalam Public Lecture Series menyambut Dies Natalis ke-1 Universitas Harkat Negeri (UHN) di Kampus Tegal, Senin (22/6/2026). Kuliah umum bertajuk What It Takes: Asia Tenggara, dari Tepi Menuju Inti Kesadaran Global itu dihadiri mahasiswa, akademisi, unsur pemerintah, dan masyarakat.
Rektor UHN, Sudirman Said, dalam sambutannya menilai tantangan terbesar bangsa bukan terletak pada keterbatasan modal, melainkan kurangnya keberanian berpikir besar dan kejujuran dalam menilai kualitas kepemimpinan.
“Bangsa ini tidak kekurangan modal. Yang sering hilang justru keberanian berpikir jauh ke depan dan kejujuran menilai kualitas kepemimpinan kita sendiri,” ujar Sudirman.
Ia juga mengingatkan pentingnya investasi besar di bidang pendidikan agar potensi Indonesia dapat melahirkan gagasan-gagasan besar yang diwujudkan menjadi tindakan nyata.
Dalam paparannya, Gita menyebut Indonesia memiliki modal yang sangat kuat untuk menjadi kekuatan utama di kawasan Asia Tenggara. Luas wilayah, jumlah penduduk, sumber daya alam, keanekaragaman hayati, dan kebinekaan dinilai menjadi keunggulan yang tidak dimiliki banyak negara.
“Untuk jadi bangsa dan wilayah yang diperhitungkan di ASEAN, kita punya begitu banyak modalitas. Wilayah yang luas, penduduk dalam jumlah besar, sumber daya alam, keanekaragaman hayati, dan kebinekaan,” kata Gita.
Namun, menurutnya, potensi tersebut tidak akan berarti tanpa keberanian untuk melakukan perubahan dan membangun kepemimpinan yang berlandaskan nilai moral dan etika.
“Yang diperlukan adalah keberanian menerobos batas, keberanian tampil sebagai bangsa beradab. Syaratnya, kita berani mengikuti jejak bangsa-bangsa yang kuat yang mengedepankan kekuatan moral, intelektual, etika, kapasitas kognisi, dan kemampuan membangun narasi,” ujarnya.
Gita menilai orientasi politik yang terlalu berfokus pada angka survei dan popularitas telah menggeser substansi kepemimpinan. Karena itu, ia mengingatkan pentingnya membangun standar baru dalam memilih pemimpin.
“Kepemimpinan mendatang haruslah ditata ulang. Kita tidak boleh mabuk pada elektabilitas dan popularitas, tetapi harus bergeser orientasi untuk melihat integritas, kapabilitas, dan etikabilitas,” tegasnya.
Ia juga menyoroti sektor pendidikan sebagai salah satu kunci utama untuk keluar dari berbagai persoalan bangsa. Menurutnya, peningkatan kualitas pendidikan harus dimulai dengan memperbaiki kesejahteraan guru secara signifikan.
“Salah satu cara keluar dari jebakan sensasionalitas dewasa ini adalah dengan investasi secara agresif untuk memperbaiki mutu pendidikan kita. Gaji guru harus diperbaiki secara revolusioner. Tempatkan profesi guru sebagai profesi yang sangat dihargai agar putra-putri bangsa terbaik masuk berbondong-bondong berebut menjadi guru,” katanya.
Gita menambahkan bahwa Indonesia harus memiliki pandangan jangka panjang dan tidak terus-menerus terjebak pada isu-isu sesaat.
“Pandangan kita harus kita arahkan jauh ke depan, jangan terperangkap pada sensasi terus-menerus,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Gita juga memberikan pesan kepada generasi muda agar berani berpikir melampaui batas dan mengambil peran dalam perubahan global.
“Generasi muda harus memiliki keberanian untuk berpikir lintas batas. Mereka harus siap menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar penonton perubahan,” tuturnya.
Kuliah umum tersebut berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dari mahasiswa mengenai ekonomi digital, peluang karier global, hingga tantangan kompetisi internasional.
Kegiatan juga ditandai dengan penandatanganan kerja sama antara UHN dan School of Government and Public Policy (SGPP) Indonesia sebagai bagian dari penguatan ekosistem pendidikan dan kepemimpinan di Indonesia. (ted)






