Surabaya (beritajatim.com) – Suasana duka mewarnai prosesi wisuda ke-120 Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Kartiwi hadir mewakili putrinya, Linda Ayu Tivani, yang wafat sebelum sempat diwisuda.
Linda berpulang pada akhir Mei akibat penyakit paru-paru. Gadis asal Kediri ini tetap gigih merampungkan kuliahnya demi mempertahankan bantuan pendidikan yang ia terima.
“Saya suruh ambil cuti saja karena badannya sakit. Tapi dia tidak mau. Katanya takut beasiswanya hilang,” ungkap Kartiwi, Kamis (25/6/2026).
Kondisi Linda berawal dari batuk berkepanjangan. Dokter kemudian menemukan timbunan cairan di paru-parunya. Tindakan medis dan operasi pun segera dilakukan pihak rumah sakit.
“Dokternya sampai bilang cairannya kok banyak sekali. Biasanya tiga sampai empat liter, ini kurang lebih enam liter,” tutur Kartiwi.
Perjuangan Linda menyisakan haru bagi jajaran pimpinan kampus. Rektor Unesa Prof Nurhasan langsung menyampaikan belasungkawa sekaligus apresiasi atas ketangguhan almarhumah menyelesaikan studinya.
“Hari ini keluarganya hadir mewakili untuk menerima bukti kelulusan yang menjadi hasil perjuangan almarhumah selama menempuh pendidikan di Unesa,” kata Cak Hasan, sapaannya.
Sebagai bentuk penghormatan, pihak kampus memberikan jaminan pendidikan bagi keluarga Kartiwi. Adik mendiang Linda, Carolina Anjelin Valeta, dijanjikan bebas biaya studi di Unesa.
“Nanti adiknya akan kami beri beasiswa untuk melanjutkan studi di Unesa setelah lulus sekolah,” ucap Cak Hasan.
Bantuan ini membesarkan hati Kartiwi yang berlatar belakang prasejahtera. Carolina saat ini masih duduk di bangku kelas sebelas Sekolah Menengah Atas (SMA). Ia mengaku senang jika sang adik dapat melanjutkan pendidikan selayak kakaknya.
Tahun ini, Unesa meluluskan lebih dari 1.500 mahasiswa dari berbagai jenjang. Para alumnus dibekali sertifikasi pendamping ijazah agar siap bersaing di dunia kerja.
“Siapa pun yang mampu beradaptasi akan menjadi pemenang. Untuk itu mereka harus tangguh dan tidak mudah putus asa,” pungkas Cak Hasan. [ipl/ted]






