Surabaya (beritajatim.com) – Sekretaris Fraksi Gerindra DPRD Jawa Timur, Cahyo Harjo Prakoso, turut menghadiri Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang berlangsung di Bangkalan.
Kegiatan tersebut juga dihadiri Presiden RI Prabowo Subianto, Ketua MPR RI Ahmad Muzani, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.
Forum nasional tersebut menjadi ruang konsolidasi gagasan antara pemerintah dan organisasi kemasyarakatan keagamaan dalam menghadapi berbagai tantangan pembangunan bangsa. Kehadiran para pemimpin nasional dan tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama menunjukkan besarnya peran strategis PBNU dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Kami melihat bagaimana PBNU tidak hanya menjadi organisasi Islam terbesar di Indonesia, tetapi juga memiliki kontribusi besar dalam menjaga kedaulatan bangsa dan memperkuat persatuan nasional,” kata Cahyo Harjo Prakoso, Rabu (24/6/2026).
Menurut Cahyo, pesan yang disampaikan Presiden Prabowo dalam penutupan Munas dan Konbes PBNU mengingatkan seluruh elemen bangsa tentang peran historis NU dalam perjalanan Indonesia. Sejak sebelum kemerdekaan, para ulama dan warga Nahdliyin telah terlibat aktif dalam perjuangan mempertahankan tanah air dan membangun fondasi kebangsaan.
“Bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka, para ulama dan keluarga besar Nahdlatul Ulama telah menunjukkan kecintaan terhadap tanah air. Semangat itu yang kemudian menjadi salah satu fondasi penting dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia hingga hari ini,” ujar Ketua DPC Gerindra Surabaya ini.
Cahyo menilai nilai-nilai perjuangan yang diwariskan para ulama NU masih sangat relevan dalam menghadapi dinamika zaman. Di tengah berbagai tantangan sosial, ekonomi, dan geopolitik, semangat kebangsaan dan gotong royong tetap menjadi modal penting untuk menjaga stabilitas nasional.
“Nilai perjuangan, semangat kebangsaan, dan cinta tanah air yang diwariskan para ulama menjadi landasan kepercayaan kita bersama. Nilai-nilai tersebut harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi penerus bangsa,” kata Anggota Komisi E DPRD Jatim ini.
Pada kesempatan itu, Presiden Prabowo menyebut nilai kebangsaan telah menjadi bagian dari identitas NU sejak lama, salah satunya tercermin dalam lagu Syubbanul Wathan yang sarat dengan semangat cinta tanah air bahkan sebelum Indonesia merdeka.
Prabowo turut menyinggung tradisi yang hidup di kalangan warga NU, termasuk kebiasaan menyanyikan Syubbanul Wathan dengan penuh semangat.
“Saya perhatikan setiap acara NU, Syubbanul Wathan selalu dinyanyikan. Bahkan menyanyikannya dengan tangan mengepal. Ini luar biasa. Saya bilang, belum ada Kopassus, NU sudah lebih dulu punya salam komando,” katanya yang disambut tawa dan tepuk tangan peserta.
Dia juga menegaskan bahwa NU selama ini selalu hadir sebagai penyejuk di tengah dinamika bangsa, terutama saat Indonesia menghadapi berbagai tantangan.
“Keluarga besar NU selalu tampil ketika bangsa Indonesia menghadapi masa-masa sulit. Warga NU adalah faktor stabilisator yang membuat bangsa dan negara tetap aman,” tegasnya.[asg/ted]






