Ringkasan Berita
- Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf memaparkan capaian kepengurusan menjelang berakhirnya masa khidmat.
- Transformasi organisasi, kaderisasi, digitalisasi, hingga penguatan ekonomi menjadi fokus utama.
- Lebih dari 130 ribu kader telah lulus melalui sistem kaderisasi berjenjang yang diterapkan PBNU.
- PBNU juga menegaskan komitmen menjaga independensi politik serta memperkuat peran global Nahdlatul Ulama.
- Gus Yahya Sampaikan Laporan Kinerja Jelang Muktamar
Kediri (beritajatim.com) – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya memaparkan berbagai capaian organisasi selama masa kepemimpinannya.
Laporan tersebut disampaikan dalam Sidang Pleno II Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama 2026 di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kabupaten Kediri, sekaligus menjadi gambaran awal menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang akan digelar pada Agustus 2026.
“Karena ini Munas dan Konbes terakhir sebelum Muktamar ke-35, maka saya ingin menggunakan kesempatan ini untuk mencicil laporan karena sudah sekian lama kita melaksanakan tugas hampir penuh satu periode,” ujar Gus Yahya.
Ia menjelaskan laporan pertanggungjawaban secara lengkap akan disampaikan pada forum Muktamar mendatang.
Dalam laporannya, Gus Yahya menempatkan transformasi tata kelola organisasi sebagai agenda paling mendasar selama masa kepemimpinannya.
Menurutnya, organisasi besar hanya akan mampu bertahan apabila memiliki kemampuan beradaptasi terhadap perubahan zaman.
“Bukan ukuran yang besar, bukan kekuatan yang besar, tapi kemampuan beradaptasi,” tegasnya.
Transformasi tersebut dilakukan tanpa mengubah prinsip dasar maupun struktur Nahdlatul Ulama, melainkan memperkuat efektivitas organisasi melalui penyempurnaan aturan kelembagaan.
PBNU kini memiliki Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga yang disusun secara terpisah, disertai berbagai peraturan organisasi sebagai pedoman tata kelola di seluruh tingkatan kepengurusan.
Agenda berikutnya adalah memperkuat sistem digital organisasi.
PBNU mengembangkan platform digital yang memudahkan koordinasi, administrasi, serta konsolidasi organisasi dari tingkat pusat hingga cabang.
Menurut Gus Yahya, sistem tersebut kini telah digunakan hampir di seluruh tingkatan kepengurusan, termasuk Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU).
Di bidang kaderisasi, PBNU mengembangkan sistem pelatihan yang terstruktur dan berjenjang.
Melalui Program Pendidikan Dasar Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PDPKP NU), lebih dari 1.000 angkatan telah diselenggarakan dengan jumlah lulusan mencapai lebih dari 130 ribu kader di seluruh Indonesia.
Sementara Program Pendidikan Menengah Kader Nahdlatul Ulama (PMKNU) telah berjalan lebih dari 100 angkatan dan meluluskan sekitar 3.000 kader.
Menurut Gus Yahya, sistem tersebut dibangun berdasarkan prinsip meritokrasi sehingga kepemimpinan organisasi ditentukan oleh kapasitas kader.
“Meritokrasi berarti setiap jenjang kepemimpinan diukur berdasarkan kapasitas, bukan semata karena citra atau faktor lainnya,” katanya.
Gus Yahya juga menyoroti penguatan sumber pembiayaan organisasi.
PBNU, kata dia, mulai mengembangkan berbagai usaha produktif di sektor pertanian, peternakan, ekonomi kreatif, hingga pengelolaan konsesi pertambangan.
Ia mengapresiasi peran Bendahara Umum PBNU Gudfan Arif Ghofur dalam membangun sumber pendapatan organisasi yang tidak bergantung pada donasi.
“Kita sekarang sudah dapat konsesi tambang, tetapi harus kita atur dengan prinsip tata kelola yang jelas sehingga aset itu tetap menjadi milik Nahdlatul Ulama,” ujarnya.
Menurutnya, sistem tata kelola yang sedang disusun bertujuan memastikan seluruh manfaat ekonomi kembali kepada organisasi dan warga Nahdliyin.
Sebagai organisasi yang lahir dari tradisi pesantren, PBNU juga menjadikan transformasi pesantren sebagai agenda strategis.
Gus Yahya menjelaskan PBNU telah menyusun standar penjaminan mutu pesantren yang kini mulai diadopsi pemerintah.
Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas pesantren sekaligus mencegah munculnya lembaga yang hanya menggunakan nama pesantren tanpa memenuhi standar pendidikan.
Di bidang dakwah, PBNU memperkuat literasi digital melalui pelatihan pembuatan konten, pengembangan media digital, serta peningkatan kapasitas para dai agar mampu menjangkau masyarakat secara lebih luas tanpa meninggalkan tradisi dakwah konvensional.
Dalam bidang politik kebangsaan, Gus Yahya menegaskan PBNU tetap menjaga posisi independen dengan memberikan jarak yang sama kepada seluruh kekuatan politik.
Menurutnya, organisasi tidak boleh terlibat dalam kontestasi politik praktis, kecuali apabila negara benar-benar membutuhkan peran Nahdlatul Ulama demi kepentingan bangsa.
“Kami sangat berhati-hati agar jam’iyah ini tidak terlibat dalam kontestasi politik kekuasaan dalam bentuk apa pun,” tegasnya.
Namun demikian, PBNU tetap mendukung berbagai program pemerintah yang dinilai membawa kemaslahatan bagi masyarakat, seperti Program Makan Bergizi Gratis maupun program Perhutanan Sosial yang telah membuka akses pengelolaan sekitar 400 ribu hektare lahan bagi masyarakat.
Pada tingkat internasional, PBNU juga aktif membangun diplomasi kemanusiaan melalui berbagai forum dunia.
Menurut Gus Yahya, Nahdlatul Ulama terus berupaya menghadirkan gagasan perdamaian global sekaligus membangun kerja sama lintas negara dalam menyelesaikan berbagai persoalan kemanusiaan.
Menutup laporannya, Gus Yahya memohon doa serta dukungan seluruh warga Nahdlatul Ulama agar kepengurusan yang dipimpinnya dapat menuntaskan masa khidmat dengan baik.
“Saya mohon doa restu dan mohon maaf apabila selama menjalankan amanah ini masih banyak kekurangan sebagai manusia. Mudah-mudahan kepengurusan berikutnya dapat melanjutkan dengan lebih baik,” tutupnya. [nm/beq]






