Sidoarjo (beritajatim.com) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo menargetkan percepatan eliminasi Tuberkulosis (TB) di Kota Delta di tahun 2028. Saat ini, capaian penanganan TB berdasarkan data yang ada di Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sidoarjo mencapai 91 persen atau 5.700 kasus dari 5.800 kasus TB.
Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo Djoko Setijono menyampaikan, saat ini terdapat sekitar 5.800 kasus TB di Kabupaten Sidoarjo dengan capaian penanganan mencapai 91 persen atau sekitar 5.700 kasus.
“Untuk mendukung target eliminasi TB tahun 2028, Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo juga telah menyiapkan berbagai layanan pengobatan TB di 170 fasilitas pelayanan kesehatan,” ujar Djoko Setijono Senin, (15/6/2026).
Tak hanya itu, Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo juga berencana memperluas sarana prasarana pengobatan hingga meningkatkan temuan-temuan kasus suspect TB melalui screening masih di masyarakat. Selain itu, pembentukan Desa Siaga TB juga akan terus diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor hingga tingkat desa dan kecamatan.
“Pemerintah Kabupaten Sidoarjo juga mendorong pelaksanaan imunisasi dasar lengkap serta gerakan menjaga kebersihan lingkungan rumah sebagai Langkah pencegahan TB di masyarakat,” terangnya.
Langkah Pemerintah Kabupaten Sidoarjo untuk menargetkan eliminasi TB di 2028 juga didukung Tim Penggerak PKK Kabupaten Sidoarjo. Target itu dirasa lebih cepat dari target nasional yang menargetkan eliminasi TB di tahun 2030.
Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Sidoarjo, Hj. Sriatun Subandi mengatakan, PKK memiliki peran strategis sebagai motor penggerak sekaligus ujung tombak di tengah masyarakat dalam penanganan TB. Untuk mendukung percepatan tersebut, Tim Penggerak PKK Kabupaten Sidoarjo juga didorong aktif melakukan deteksi dini, pendampingan pasien hingga edukasi lingkungan sehat di tengah masyarakat.
“PKK fokus pada deteksi dini, pendampingan pasien, dan promosi lingkungan sehat untuk memutus rantai penularan tuberkulosis,” ujar Sriatun saat kegiatan Sosialisasi Peran PKK dalam Penanggulangan TBC Berbasis Lingkungan di Pendopo Delta Wibawa.
Ia menegaskan, seorang ibu memiliki peran besar dalam menciptakan lingkungan rumah yang sehat. Menurutnya, ibu dapat menjadi “insinyur rumah tangga” yang menentukan kualitas kesehatan keluarga melalui pengaturan ventilasi, pencahayaan hingga kebersihan rumah.
“Ibu di rumah adalah perancang utama kesejahteraan keluarga. Ibu memiliki kekuatan untuk mengatur tata letak dan ventilasi rumah agar menjadi hunian yang sehat dan nyaman,” terangnya.
Hj. Sriatun juga mengajak masyarakat mulai membiasakan gerakan “Pentasuling” atau pepe bantal, kasur dan guling sebagai langkah sederhana menjaga kesehatan lingkungan rumah. Ia meminta kader turut mengedukasi masyarakat agar rutin menjemur perlengkapan tidur untuk mencegah penyebaran penyakit.
Selain itu, ia mengingatkan pentingnya dukungan moral kepada pasien TB agar tidak merasa dikucilkan. Menurutnya, masih banyak pasien TB yang merasa minder dan takut dijauhi masyarakat sekitar karena khawatir dianggap menularkan penyakit.
“Jangan takut kepada pasien TB dan jangan sampai dikucilkan. Mereka butuh diajak komunikasi, diberikan dukungan agar rutin minum obat, kontrol, dan menjaga pola makan sehat meski tidak harus mahal,” tambahnya.
Ia juga meminta kader terus mengingatkan pasien TB untuk lebih disiplin dalam menggunakan masker, demi mencegah penularan.

Senada disampaikan Ketua Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI), Khusnul Khotimah. Dia menegaskan bahwa kader kesehatan menjadi garda terdepan dalam mewujudkan lingkungan sehat guna mencegah TB.
Ada beberapa faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi penularan TB, diantaranya ventilasi rumah, pencahayaan, kepadatan penghuni dan kebersihan lingkungan. Menurutnya, rumah sehat harus memiliki ventilasi yang cukup dengan tingkat kelembaban ideal sekitar 60 persen.
“TB adalah tanggung jawab kita bersama. Kolaborasi petugas TB dengan petugas sanitarian sangat penting untuk menemukan, mengobati hingga pasien sembuh,” terang Khusnul Khotimah.
Sementara, Dokter spesialis paru, Bagus Wicaksono menjelaskan bahwa satu penderita TB dapat menularkan penyakit kepada 15 hingga 20 orang lainnya apabila tidak segera ditangani. Ia mengatakan, masyarakat hanya perlu memahami gejala TB seperti batuk lebih dari dua minggu, batuk darah, sesak napas dan nyeri dada.
“Jika mengalami gejala tersebut, masyarakat dianjurkan segera memeriksakan diri ke puskesmas untuk deteksi dini,” tambah Bagus Wicaksono.
“Selain itu, TB bisa sembuh jika ditemukan lebih awal dan pasien lebih disiplin dalam menjalani pengobatan,” sambung Bagus.
Disisi lain, Ketua DPRD Sidoarjo H. Abdillah Nasih meminta Pemerintah Kabupaten Sidoarjo melalui Dinas Kesehatan segera mengambil langkah strategis untuk mempercepat eliminasi tuberkulosis (TB) di Kabupaten Sidoarjo.
Menurut Abdillah Nasih, kondisi tersebut menjadi ironi bagi Sidoarjo yang dikenal sebagai kawasan metropolitan. Ia menilai tingginya kasus TB menunjukkan masih adanya persoalan sanitasi dan pola hidup yang tidak sehat di tengah masyarakat.
“Kita meminta kepada pemerintah, dalam hal ini Dinkes, untuk segera menggunakan langkah-langkah taktik strategis melakukan eliminasi TB secepatnya. Sangat ironis kalau Sidoarjo yang merupakan daerah metropolis ternyata kasus TB-nya masih tinggi,” ujar H. Abdillah Nasih.
Ia menjelaskan, pemerintah pusat menargetkan eliminasi TB dapat tercapai sebelum tahun 2030. Karena itu, seluruh pihak di daerah diminta bergerak cepat agar target tersebut dapat diwujudkan.
Abdillah Nasih menekankan pentingnya langkah skrining dan sosialisasi secara masif kepada masyarakat. Menurutnya, pasien TB harus didorong untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat agar mendapatkan penanganan yang tepat.
“Penyakit TB sebenarnya bisa disembuhkan asalkan pasien rutin berobat dan minum obat secara teratur. Karena itu masyarakat harus aktif memanfaatkan layanan kesehatan yang ada,” katanya.
Selain pengobatan, ia juga mengingatkan pentingnya upaya pencegahan penularan, seperti penggunaan masker dan pemeriksaan kesehatan secara rutin di fasilitas kesehatan. [ADV/isa]






