Malang (beritajatim.com) – Menyuarakan kritik terhadap jalannya roda pemerintahan tidak melulu harus ditempuh lewat aksi demonstrasi yang membakar ban di jalanan. Salah satunya seperti dilakukan D’Guru Rock Band, keresahan sosial disalurkan melalui untaian nada distorsi cadas yang bertenaga, tetapi tetap sarat akan muatan edukasi moral.
Grup musik yang beranggotakan para alumni IKIP Jakarta, yang saat ini bertransformasi menjadi Universitas Negeri Jakarta (UNJ), tersebut kembali ke panggung musik Tanah Air setelah sempat mengalami masa hiatus atau vakum yang cukup panjang.
Personel D’Guru Rock Band, Pak Guru, menjelaskan bahwa grup musik ini sebenarnya sudah mulai merintis karya sejak 13 tahun silam. Kendati demikian, kesibukan masing-masing personel membuat band ini sempat tertidur lelap selama satu dekade, sebelum akhirnya bangkit kembali memperlihatkan eksistensinya dalam dua tahun belakangan ini.
“Kami sebetulnya berkarya sudah lama, bikin karya yang pertama itu sudah 13 tahun lalu. Cuma sempat vakum cukup lama ya, sekitar 10 tahunan, dan baru mulai aktif bergerak intensif lagi sekitar dua tahun ini,” ujar salah satu personel bernama Pak Guru, saat ditemui di Lantai 10 Gedung C FH UB pada Rabu (17/6/2026) usai penampilan.
Grup yang digawangi oleh Gi, Pak Guru, Frai, dan Irwin Erwin ini membawa warna baru dalam skena musik rock independen. Sebagai kelompok musisi yang mayoritas berlatar belakang sebagai tenaga pendidik, sudut pandang yang mereka tuangkan ke dalam lirik lagu memiliki karakteristik tersendiri yang membedakannya dengan band rock pada umumnya.
Menurut Pak Guru, dorongan utama mereka untuk kembali menulis lagu bertema sosial-politik bersumber dari rasa keterbatasan sekaligus tanggung jawab moral profesi. Mereka melihat musik sebagai medium tak terbatas untuk menyalurkan otokritik konstruktif kepada publik dan para pemimpin negara.
“Ya, barangkali ini bentuk dari ketidakberdayaan kita sebagai guru dengan kondisi-kondisi negara saat ini. Barangkali kita kan tidak seekstrem para aktivis di luar sana. Melalui jalur ini, kita bisa memberikan hal yang kritis tapi tetap bersenang-senang sambil menyanyikan semangat,” urai Pak Guru.
Ia menambahkan bahwa sebagai seorang pendidik, esensi utama dari setiap bait lirik yang dilahirkan adalah nilai kebaikan yang dapat diwariskan kepada generasi muda. Kritik yang mereka layangkan diklaim sama sekali tidak menggunakan diksi yang kasar maupun provokatif.
“Generasi tua juga ingin terus konsisten berkarya. Kalau guru itu melihat sesuatu kan selalu dari sudut pandang hal baik apa yang harus disampaikan ke anak-anak didik. Jadi ini mengkritisi tapi juga tidak kasar, karena semuanya kan sebenarnya bersifat otokritik yang disampaikan secara santun ke masyarakat dan pemimpin kita,” imbuhnya.
Hingga saat ini, D’Guru Rock Band telah mengantongi sekitar tujuh materi lagu yang siap dirangkum ke dalam satu kesatuan album penuh. Judul-judul trek seperti NKRI, Pejabatku, Penjaga Negeri, hingga lagu andalan mereka yang bertajuk Dolanan Rakyat merepresentasikan kepedulian mereka terhadap kedaulatan bangsa.
Salah satu lagu yang memiliki muatan lirik paling berani dan menyentil kebijakan pemerintah adalah Dolanan Rakyat. Penggalan lirik dalam lagu tersebut secara gamblang memperingatkan para elite politik agar tidak menjadikan nasib masyarakat kecil sebagai komoditas kekuasaan.
“Liriknya itu berbunyi: tolong rakyat, rakyatnya jangan buat dolanan (permainan). Jualan rakyat, rakyatnya buat jualan. Nah, pokoknya jangan dolanan rakyat, nantinya bakal walat (kualat). Jangan jualan rakyat, nantinya pasti kiamat. Maksudnya ya kiamat politik atau sosial kalau suka bermain-main dengan hak rakyat,” tegas Pak Guru menyitir bait lagunya.
Uniknya, lagu Dolanan Rakyat tersebut diakui sudah ditulis jauh sebelum dinamika politik kontemporer saat ini memanas. Hal ini membuktikan bahwa pesan yang diusung oleh band asal Jakarta tersebut bersifat universal dan relevan bagi era pemerintahan kapan saja.
Meskipun mengusung lirik yang terbilang berani, D’Guru tetap berkomitmen menjaga agar visi utama band ini tidak bergeser dari jalur edukasi. Melalui pemanfaatan platform digital modern, karya-karya mereka kini mulai mendapatkan atensi yang cukup masif dari warganet.
“Dengan adanya era digital ini, akses untuk mengenalkan karya jadi lebih luas. Dalam waktu dua bulan terakhir ini, penonton kita di platform digital tergolong lumayan. Paling tinggi di aplikasi TikTok, itu sudah dilihat hampir 200 ribu kali, tepatnya sekitar 160 ribu tayangan. Semua lagu kami juga sudah tersedia di Spotify dan platform digital lainnya,” kata Pak Guru memungkasi perbincangan. (dan/kun)






