Blitar (beritajatim.com) – Suasana gotong royong menyelimuti peresmian wajah baru Istana Gebang, rumah masa kecil Sang Proklamator di Kota Blitar. Di bawah komando langsung Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, Said Abdullah, para kader, kepala daerah, hingga fraksi partai berlambang banteng moncong putih tersebut bahu-membahu merenovasi situs sejarah cagar budaya ini tanpa menghilangkan keaslian arsitekturnya.
Acara yang berlangsung khidmat tersebut dihadiri langsung oleh Presiden ke-5 RI sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri. Di balik peresmian ini, ada dua simbol kuat yang dihadirkan sebagai pelecut semangat ideologi bagi generasi masa kini.
Ada alasan filosofis mendalam mengapa monumen baru Bung Karno setinggi 4 meter di pelataran Istana Gebang ini tidak menampilkan pose berdiri tegak atau menunjuk ke langit seperti patung-patung sang Proklamator pada umumnya. Karya seni berbahan logam ini dengan sengaja menampilkan sosok Bung Karno yang sedang duduk santai sembari membaca buku.
Sekretaris DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, Deni Wicaksono, mengungkapkan bahwa pose tersebut merupakan kritik visual sekaligus tamparan bagi realitas generasi muda saat ini yang mulai larut dalam dunia digital dan gawai (gadget).
“Kebiasaan Bung Karno membaca ini yang ingin kemudian kita sampaikan kepada generasi muda khususnya hari ini, yang sudah lebih asyik dengan dunia digital, gadget, dan lain-lain,” ujar Deni Wicaksono, Senin (15/06/2026).
Deni menambahkan, literasi yang kuat adalah fondasi Bung Karno dalam menggali kearifan lokal hingga mampu melahirkan pemikiran besar yang mengguncang dunia. PDI Perjuangan ingin memicu kembali budaya membaca itu agar kualitas sumber daya manusia (SDM) pemuda Indonesia kembali setara dengan para pejuang terdahulu.
“Bung Karno sangat konsen terhadap anak muda. ‘Sepuluh anak muda bisa mengguncang dunia, kalau seribu orang tua hanya bisa mencabut Semeru dari akarnya’. Ini salah satu filosofi yang menjadi pegangan kita,” tegasnya.
Selain peresmian patung, momen menarik lainnya adalah penyerahan bibit pohon oleh Megawati Soekarnoputri kepada jajaran DPD PDI Perjuangan Jawa Timur. Salah satu jenis pohon yang diserahkan secara khusus adalah pohon Pule.
Bagi internal partai, pemilihan pohon Pule bukan sekadar aksi penghijauan atau kelanjutan dari instruksi melestarikan lingkungan yang sudah digaungkan Megawati sejak 2021 silam. Ada harapan sosiologis dan ekonomi yang tersirat dari nama pohon tersebut.
“Pule ini kalau kami memaknai dalam bahasa Jawa, kalau bahasa Indonesia itu ‘pulih’. Nah, mungkin Ibu Ketua Umum berharap agar DPD PDI Perjuangan bisa menjadi motor agar Jawa Timur dan bangsa ini bisa pulih, bisa sehat kembali,” urai Deni.
Makna pulih ini dirasa sangat kontekstual dengan situasi nasional hari ini. Deni tidak menampik bahwa saat ini masyarakat tengah dihadapkan pada situasi pelik mulai dari penurunan daya beli ekonomi, lonjakan harga kebutuhan pokok, hingga sengkarut pelaksanaan program pemerintah yang dinilai kurang tepat sasaran di lapangan.
Melalui simbolisasi pohon Pule di bumi Bung Karno, PDI Perjuangan Jawa Timur menegaskan komitmennya untuk terus mengawal kebijakan publik sekaligus menggerakkan mesin partai agar hadir sebagai solusi nyata bagi pemulihan ekonomi dan ketahanan pangan masyarakat.
Wajah baru Istana Gebang kini tidak hanya menjadi destinasi wisata sejarah yang estetik, namun bertransformasi menjadi ruang pengingat: bahwa bangsa yang besar dirawat oleh generasi yang gemar membaca, dan kekuatan politik sejati ditumbuhkan dari komitmen menjaga bumi. (owi/but)






