Ringkasan Berita:
- Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) memberikan penghormatan terakhir kepada Prof Johan Silas yang wafat pada usia 90 tahun.
- Guru Besar Departemen Arsitektur ITS itu dikenal sebagai pelopor pengembangan permukiman berbasis masyarakat.
- Almarhum mendirikan Laboratorium Permukiman ITS dan banyak memperjuangkan hunian layak bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
- Pemikiran dan karya Prof Johan Silas menjadi warisan penting dalam pembangunan kota yang berorientasi pada kemanusiaan.
Surabaya (beritajatim.com) – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) memberikan penghormatan terakhir kepada Guru Besar Departemen Arsitektur, Prof Ir Johan Silas, yang wafat pada usia 90 tahun. Sosok yang dikenal sebagai pelopor arsitektur kerakyatan dan perencana kota berbasis masyarakat itu dikenang sebagai akademisi yang mendedikasikan hidupnya untuk memperjuangkan hak masyarakat kecil memperoleh hunian yang layak.
Jenazah almarhum disemayamkan di Adi Jasa Ruang VVIP, Jalan Demak, Surabaya, sebelum diberangkatkan ke Plaza dr Angka di Kampus ITS untuk prosesi penghormatan terakhir, Sabtu (13/6/2026). Setelah rangkaian penghormatan di ITS dan Universitas Katolik Darma Cendika selesai, jenazah kemudian diberangkatkan menuju Krematorium Keputih untuk menjalani prosesi kremasi.
Rektor ITS, Prof Ir Bambang Pramujati, mengatakan kepergian Prof Johan Silas menjadi kehilangan besar bagi dunia pendidikan, arsitektur, dan perencanaan kota di Indonesia.
“Bagi Prof Johan Silas, pembangunan bukan semata membangun gedung dan infrastruktur, tetapi membangun martabat manusia,” kata Bambang.
Menurutnya, Prof Johan Silas merupakan pelopor tata ruang berbasis masyarakat yang pemikirannya masih menjadi rujukan dalam pembangunan permukiman hingga saat ini.
“Beliau selalu mengajarkan bahwa kota yang baik adalah kota yang memberi ruang bagi semua, terutama bagi mereka yang paling membutuhkan,” ujarnya.
Semasa hidupnya, Prof Johan Silas mendirikan Laboratorium Permukiman ITS sebagai wadah pengembangan riset dan solusi hunian bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Berbagai gagasan dan inovasinya kemudian diterapkan di sejumlah daerah di Indonesia.
Rekan sejawat almarhum, Ir Faqih, menilai Prof Johan Silas memilih jalan pengabdian yang berbeda dengan banyak akademisi lain, yakni terjun langsung menyelesaikan persoalan perumahan masyarakat miskin.
“Beliau secara sadar berada pada mazhab para ilmuwan yang memfokuskan diri berusaha menyelesaikan perumahan bagi kaum miskin,” ungkap Faqih.
Melalui Laboratorium Permukiman ITS, Prof Johan Silas bersama timnya merancang dan mengawasi berbagai program perbaikan permukiman di Jawa Timur, mulai dari Situbondo hingga Bojonegoro.
“Beliau pernah berkata kepada saya bahwa beliau itu ilmuwan yang berkubang dalam lumpur kehidupan nyata, kaum miskin, bukan duduk di kursi menara gading,” tambahnya.
Kontribusinya juga terlihat dalam pengembangan rumah susun di kawasan Dupak dan Sombo, Surabaya, yang kemudian menjadi salah satu referensi pembangunan rumah susun di berbagai daerah di Indonesia.
“Karya laboratorium itu demikian berhasilnya, sampai Prof Dr BJ Habibie saat itu menganjurkan studi banding ke laboratorium ITS,” jelas Faqih.
Dedikasi Prof Johan Silas kembali terlihat saat bencana tsunami Aceh pada 2004. Bersama Laboratorium Permukiman ITS, ia mengembangkan rumah darurat berbahan papan yang dapat dibangun hanya dalam waktu sekitar 10 jam oleh empat orang pekerja.
“Rumah papan paku Laboratorium Permukiman ITS itu menjadi solusi darurat yang tepat untuk korban tsunami Aceh saat itu,” paparnya.
Bagi para mahasiswa dan koleganya, Prof Johan Silas bukan hanya dikenal sebagai ilmuwan, tetapi juga pendidik yang mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan dalam setiap proses pembelajaran.
Kepala Departemen Arsitektur ITS, FX Teddy Badai Samodra, mengatakan keteladanan almarhum akan terus menjadi inspirasi bagi generasi penerus.
“Pak Yohanes Silas bagi kami seorang guru penyayang kebijaksanaan yang mencerahkan banyak generasi,” katanya.
Menurut Teddy, ajaran Prof Johan Silas mengingatkan bahwa hakikat pendidikan tidak hanya mencetak lulusan yang cerdas, tetapi juga manusia yang memiliki kepedulian sosial.
“Belas kasihnya mengingatkan kita bahwa pendidikan pada akhirnya adalah tindakan kemanusiaan,” tutup Teddy. [ipl/beq]

as a preferred source on Google




