Situbondo (beritajatim.com) – JNE Jalan Mawar No. 1 Besuki memiliki wilayah kerja yang luas, salah satunya di Kecamatan Sumbermalang, wilayah lereng Gunung Argopuro. Di kantornya yang tepat bersebelahan dengan Jalan Pantura, datang seorang kurir mengendarai motor khas yang dia pakai setiap kali bekerja menerjang medan gunung.
Usai memarkir motor, kurir bernama Muhammar Ridwan—yang akrab dipanggil Rid—bersiap menjalani aktivitas hariannya. Lelaki berusia 27 tahun itu tampak akrab dengan lelah serta medan terjal di lereng Argopuro, rutin memacu kendaraannya sejak pagi buta dan baru kembali saat sore menjelang.
Melihat rute pengantaran yang menantang, Rid mengecek kendaraannya. Motor modifikasi Vega ZR setia menemaninya sejak 2021 pasca-Covid-19. Motor ini menggunakan knalpot yang telah dimodifikasi. Itu bukan tanpa alasan, tetapi menyesuaikan dengan medan.
“Kalau orang desa nggak ngerti klakson, jadi harus bunyi knalpot yang besar,” jelas Rid saat diwawancarai pada Kamis (11/6/2026). Saat pagi ia rapi berseragam, tetapi terik matahari dan medan terjal membuatnya terkadang harus ganti baju saat sore.
Rid, sapaan akrabnya, tengah diterpa masalah pelik keluarga ketika ditemui. Namun, di tengah kondisi tersebut, ia tetap bercerita soal susahnya medan yang harus ditempuh guna menembus berbagai titik di lereng Argopuro.
“Ke Sumberargo, itu medannya terjal, Tamankursi itu juga terjal. Butuh mental dan persiapan matang ke sana,” ujarnya. Untuk menyiasati jalur, Rid menyusun rute harian secara taktis. “Biasanya kalau pagi saya mulai dari daerah bawah dulu karena jalurnya lebih gampang ditempuh, baru siang ke sore naik ke atas,” tambah Ridwan.

Memutus Keterbatasan Pasar dengan Rantai Logistik
Sistem distribusi kopi di lereng Argopuro kini tidak lagi berjalan diselimuti ketidakpastian. Keandalan pergerakan produk komoditas dari hulu dikawal dengan hadirnya pengantar logistik. Ahmad Muhlisin menceritakan, usaha pengolahan kopi tersebut sudah dimulai sejak tahun 2016, namun baru digeluti secara serius pada tahun 2019 usai dirinya menyelesaikan pendidikan Manajemen Bisnis di IPB.
Muhlis, begitu sapaan akrab pria itu, menjelaskan, awalnya bisnis kopi dengan merek Argopuro Walida itu hanya mempunyai lima orang pekerja. Seiring perkembangan bisnis yang cukup pesat dan akhirnya berhasil tembus pasar internasional, kini Muhlis mempekerjakan sekitar puluhan orang untuk mengolah biji kopi dari pegunungan Argopuro. Angka itu mencerminkan dampak nyata bagi penguatan ekonomi setempat.
“Sekarang ada kurang lebih 30-an orang pekerja tetap, kalau sedang musim panen biasanya bertambah. Para pekerja diambil dari warga sekitar untuk mendorong ekonomi setempat. Mereka difokuskan untuk processing, dari memilah biji kopi, fermentasi, hingga jemur,” ungkap Muhlis, Sabtu (13/6/2026).

Keberhasilan Argopuro Walida menembus pasar nasional hingga mancanegara tidak luput dari peran pengantaran logistik. Dalam menjalankan operasional distribusi, Argopuro Walida telah mempercayakan pengirimannya kepada JNE. Hubungan Muhlis dengan JNE sendiri sudah berlangsung lama, sejak awal usaha ini berkembang pada 2019.
Keberhasilan Kopi Walida menembus pasar internasional tentu menjadi kebanggaan tersendiri. Namun, Muhlisin menjelaskan bahwa meskipun pengiriman ekspor skala besar tidak melibatkan JNE secara langsung, ia tidak menampik bahwa JNE adalah pilar logistik utama yang memberikan dampak pelayanan terbesar bagi pertumbuhan bisnisnya dari bawah.
“Dari dulu sampai sekarang, kualitas pelayanan JNE tidak pernah berubah. Awalnya, saya memilih JNE karena di Besuki hanya agen itu yang saya tahu dan layanannya tercepat. Tapi sampai sekarang pun, meski banyak jenama logistik lain bermunculan dan membuka cabang di Besuki, JNE tetap menjadi pilihan utama kami. Terutama karena JNE sangat fleksibel; mereka bisa melayani paket ritel kecil di bawah 50 kilogram hingga pengiriman partai besar di atas 50 kilogram menggunakan JNE Cargo,” ungkap Muhlisin.
Bahan komoditas kopi Argopuro Walida bahkan telah dianugerahi sebagai bagian dari program JNE Loyalty Card (JLC) sebagai bentuk apresiasi bagi pelanggan setia. Sejak awal usaha berkembang sampai hari ini, ia mengaku telah menjadi pelanggan setia JNE.
“Sampai kenal ke semua kurir dan penjaga tokonya. Meski saat ini kami sudah ekspor, pelanggan yang beli di marketplace Indonesia tetap kami layani, pengantar logistik andalannya ya JNE,” jelas Muhlis.
Bagi Muhlis, program kemitraan ini memberikan manfaat nyata bagi efisiensi usaha di pelosok. “Manfaat yang paling terasa adalah adanya promo eksklusif serta kemudahan pengiriman yang membantu efisiensi biaya operasional bisnis kami,” terangnya.
Menurut Rapek, pekerja Pokmas Walida yang sehari-hari mengurus transaksi pengiriman, dedikasi Muhammar Ridwan sebagai kurir di garda terdepan melampaui tugas standar seorang pengantar paket.
“Kalau yang dikirim dalam jumlah kecil di bawah 50 kilogram, biasanya habis Ridwan nganter ke beberapa tempat di sini (Sumbermalang), dia bawa ke bawah (Besuki). Baru kalau kebutuhannya di atas itu kami yang inisiatif mengantar ke JNE Besuki dengan transportasi yang kami miliki,” ujar Rapek.

Keberadaan Pokmas Walida yang ditopang oleh ekosistem logistik yang sehat lambat laun mengubah paradigma sosial-ekonomi para pemuda di Kecamatan Sumbermalang. Hasil bumi yang terjamin pemasarannya membuat pemuda setempat kini memiliki alternatif penghidupan yang menjanjikan di tanah kelahiran mereka sendiri.
“Sebelum ada Pokmas Walida, anak-anak muda di sini banyak yang memilih merantau ke Bali untuk mencari kerja. Tapi sekarang, kami sudah punya rasa percaya diri yang tinggi untuk hidup dan makan dari hasil panen kopi sendiri,” ujar Bahul, salah satu petani muda asal Desa Kalirejo.
Perubahan ini tidak lepas dari meroketnya nilai ekonomi komoditas lokal. Dahulu, harga kopi mentah di tingkat petani hanya berkisar Rp8.000 hingga Rp9.000 per kilogram. Kini, setelah dikelola dengan standar mutu yang baik dan didukung pengiriman yang luas, harganya mampu menembus Rp25.000 per kilogram.
Secara tidak langsung, kehadiran pengantar logistik andal seperti JNE turut memberikan kontribusi besar pada perkembangan Pokmas Walida. Ketepatan distribusi memotong mata rantai tengkulak yang merugikan sehingga kesejahteraan mengalir langsung ke kantong para petani dan pekerja desa.
Suara dari Lereng Argopuro: Sinergi dan Kebahagiaan Pelanggan
Marcell, pelanggan Kopi Argopuro Walida asal Jakarta, mengaku sangat terbantu dengan kepastian logistik yang dihadirkan JNE.
“Saya memilih JNE sebagai jalur pengiriman utama karena titik pengambilan dan pengantarannya tersebar luas di seluruh Indonesia. Hal itu memberikan rasa aman,” ungkap Marcell.
Perwakilan JNE Situbondo, Jaka Fajar, menjelaskan bahwa kurir seperti Muhammar Ridwan merupakan bagian wilayah pelayanan Cabang Besuki yang memiliki cakupan operasional luas dan menantang, dari lereng gunung hingga pesisir pantai.

“Bagi para kurir, salah satu hal yang paling membahagiakan adalah ketika melihat senyum tulus dari pelanggan saat menerima barang yang mereka tunggu-tunggu tiba dalam kondisi aman dan tepat waktu di depan pintu rumah mereka,” ujarnya melalui sambungan WhatsApp.
“Harapan saya cuma satu,” tutup Rid sembari tersenyum sebelum melanjutkan rute tanjakannya. “Semoga sistem pengiriman yang sudah baik ini terus dipertahankan ke depan. Biarlah kami di garda terdepan ini yang bekerja keras menembus jalanan sulit, asalkan para petani kopi dan pelaku UMKM di desa tidak lagi merasa susah memasarkan barangnya. Karena kalau masyarakat pelosok sejahtera, bangsa ini pun akan ikut menjadi kuat.” (dan/kun)






