RINGKASAN BERITA:
- Rombongan MCH PPIH Arab Saudi mengunjungi pabrik parfum mawar legendaris Rashid Hussein Al-Qurashi di Al-Hada, Taif.
- Jalur pegunungan Al-Hada menyuguhkan panorama kelok menanjak yang sejuk dan asri mirip kawasan Puncak, Bogor.
- Pabrik penyulingan tradisional berusia 150 tahun tersebut mengolah hingga 900 kilogram bunga mawar murni per tahun.
- Seluruh produk kosmetik, parfum, hingga skincare yang dihasilkan dari ekstraksi kelopak mawar dijamin 100 persen non-alkohol.
Thaif (beritajatim.com) — Rombongan Media Center Haji (MCH) Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi berkesempatan melakukan perjalanan ekspedisi menyusuri kawasan pegunungan Al-Hada, Thaif, untuk membedah rahasia industri hilir parfum mawar legendaris di Rashe Al Qurashi Factory (مصنع راشد القرشي).
Destinasi ini menjadi magnet wisata utama bagi para jemaah umrah maupun jemaah haji dunia karena konsisten mempertahankan teknik penyulingan tradisional berusia 1,5 abad.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI berkesempatan mengikuti perjalanan menggunakan armada Coaster dan Hiace menuju lokasi menyuguhkan lanskap geografi yang tidak biasa.
Berbeda dengan rute perkotaan Makkah-Madinah yang didominasi aspal lurus nan gersang, jalur menanjak Al-Hada justru membelok membelah kontur perbukitan batu yang asri dengan hawa sejuk yang mengingatkan pada atmosfer kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat.
Setibanya di lokasi pada Rabu (10/06/2026) sore waktu Arab Saudi, aroma wangi mawar langsung menyergap rombongan di tengah riuhnya kepungan jemaah asal Indonesia dan negara lain. Di tempat ini, para pelancong tidak sekadar berburu minyak wangi murni berkualitas tinggi, melainkan juga bersantai menikmati kuliner unik berupa es krim mawar dan seduhan kopi khas Taif.
Rombongan MCH diterima langsung oleh salah satu edukator andalan pabrik bernama Abdullah, atau yang akrab menyapa tamunya dengan panggilan Dul. Menariknya, pria berjubah putih ini mahir melontarkan beberapa kosakata bahasa Jawa dan Sunda, serta secara fasih menjabarkan draf alur produksi penyulingan kelopak mawar menggunakan pengantar bahasa Melayu.
Dul mengajak rombongan menyisir kaveling tungku penyulingan raksasa yang telah dioperasikan secara turun-temurun oleh keluarga Al-Qurashi. Ia mengungkapkan, proses ekstraksi kelopak mawar hingga berubah wujud menjadi minyak wangi esensial murni membutuhkan ketahanan waktu berkisar antara 6 hingga 8 jam nonstop tanpa boleh ada penurunan suhu pada alat pembakaran.
“Nantinya kalau sudah mulai jadi, dia terpisah. Air di bawah kemudian parfum di atas,” terang Abdullah kepada tim MCH yang tengah mendokumentasikan visualisasi kilang.
Sayangnya, proses produksi aktif tidak dapat disaksikan secara langsung sore itu lantaran komoditas kelopak mawar khas Taif sedang tidak dalam masa panen raya. Sesuai karakteristik iklim setempat, panen mawar rose hanya berlangsung musiman pada rentang bulan Ramadhan dan Syawal.
Kapasitas Ratusan Ribu Kuncup dan Omzet Miliaran Rupiah
Dengan gaya komunikasinya yang interaktif dan jenaka, Dul merinci bahwa air hasil kondensasi mawar tidak hanya disulap menjadi parfum kasta tertinggi, melainkan diturunkan menjadi aneka draf produk turunan seperti sabun, lotion pelembap, skincare, ramuan penyubur rambut, hingga bahan campuran teh aromatik.
Skala kapasitas produksinya pun tergolong kolosal. Satu unit wadah kilang penyulingan ukuran sedang mampu menampung sedikitnya 35 ribu kuntum bunga, sedangkan alat penyulingan kasta raksasa sanggup memproses hingga 600 ribu kuncup mawar rose sekaligus dalam satu kali siklus masak dengan volume bahan baku berkisar 300 hingga 900 kilogram per tahun.
“Di sini ada air panas ada air dingin campuran,” imbuh Dul membedah draf formula pencampuran air penunjang ekstraksi. Ia menjamin seluruh produk yang keluar dari pabrik Al-Qurashi ini mengusung predikat 100 persen non-alkohol, sehingga sangat aman dan halal digunakan untuk menunjang aktivitas ibadah.
Eksistensi pabrik berusia 150 tahun ini menjadi motor penggerak ekonomi yang masif bagi kawasan Taif dengan torehan omzet bersih mencapai Rp1 miliar hingga Rp2 miliar per tahun.
Data kunjungan pabrik mencatat pergerakan unik; jika pada hari biasa kunjungan mampu menembus angka 600 ribu pelancong harian dari berbagai belahan dunia, maka pada puncak musim haji grafik tersebut justru menyusut ke angka 300 ribu orang per hari, diikuti dengan fluktuasi penyesuaian harga jual parfum yang cenderung merangkak naik ke batas tertinggi. [ian/MCH]






