Jakarta (beritajatim.com) – Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi menerapkan simulasi Tactical Floor Game (TFG) untuk memastikan seluruh petugas haji 2026 memiliki ketangguhan dan pemahaman mendalam mengenai peta pergerakan jemaah. Pelatihan teknis ini bertujuan meminimalisir kendala di lapangan, terutama saat fase puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Materi strategis ini dipaparkan langsung oleh Koordinator TFG, Letkol Inf Surnadi, dalam rangkaian Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) PPIH Arab Saudi di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Jumat (23/1/2026). Simulasi ini melibatkan peserta yang telah dibagi ke dalam tiga wilayah tugas utama, yakni Daerah Kerja (Daker) Bandara, Daker Madinah, dan Daker Makkah.
Letkol Inf Surnadi menjelaskan bahwa penggunaan metode TFG merupakan langkah krusial untuk memberikan gambaran visual yang nyata sebelum petugas diterjunkan ke lokasi. Metode ini mengintegrasikan rencana operasi dengan kondisi geografis Arab Saudi yang kompleks guna memastikan perlindungan maksimal bagi jemaah Indonesia.
“Tujuan dari pelaksanaan materi ini adalah agar para petugas haji, ketika menjalankan tugas di Arab Saudi, dapat menempati daker atau pos masing-masing sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya. Dengan demikian, tugas dapat dilaksanakan dengan baik, aman, dan lancar,” ujar Letkol Inf Surnadi di sela-sela materi Diklat.
Dalam simulasi tersebut, para petugas dilatih untuk mempraktikkan mekanisme pergerakan personel dan pendorongan jemaah secara sistematis. Fokus utama ditekankan pada manajemen waktu (time management) yang menjadi faktor penentu keberhasilan pelayanan selama fase krusial di wilayah Armuzna.
Surnadi menambahkan, pengaturan waktu sangat krusial dalam setiap pergerakan, baik untuk petugas sendiri maupun dalam mengawal jemaah. Proses ini mencakup perpindahan dari sektor Makkah menuju Arafah, berlanjut ke Muzdalifah, Mina, hingga kembali ke Makkah untuk pelaksanaan Thawaf Ifadah.
Melalui TFG, PPIH Arab Saudi juga telah memetakan penempatan personel secara detail guna menghindari adanya tumpang tindih tugas di titik-titik padat seperti Mina dan Jamarat. Perencanaan sistematis ini mencakup penugasan di tim Fast Crisis Response (FCR) serta pengamanan pos dan rute-rute utama jemaah.
“Poin terpenting bagi petugas haji saat kegiatan Armuzna adalah kemampuan mengatur waktu. Semua pergerakan tersebut akan diatur dengan perencanaan yang matang, termasuk penempatan nama-nama petugasnya yang sudah dipetakan secara sistematis,” tegas Surnadi.
Kegiatan TFG ini merupakan bagian dari agenda Diklat PPIH Arab Saudi 2026 yang berlangsung selama 20 hari, mulai 10 hingga 30 Januari 2026. Setelah sesi simulasi lantai ini, para peserta dijadwalkan mengikuti gladi posko dan maket untuk memperdalam fungsi teknis mereka secara lebih nyata di lapangan.
Implementasi strategi militer dalam manajemen haji ini diharapkan dapat meningkatkan standar layanan dan keamanan, mengingat dinamika pergerakan jutaan jemaah dari seluruh dunia yang terkonsentrasi di waktu dan tempat yang sama. [ian/but]






