Ringkasan Berita:
- Lima pos strategis disiagakan di Pintu 336, 328, 310, 365, dan 360 pelataran Masjid Nabawi.
- Petugas menyediakan sandal cadangan bagi jemaah yang kehilangan alas kaki guna mencegah luka bakar kaki.
- Personel lintas fungsi (Linjam, Kesehatan, Lansia) menerapkan prinsip multitasking demi percepatan layanan.
- Fokus utama layanan mencakup penanganan jemaah tersasar hingga bantuan fisik bagi kelompok risiko tinggi.
Madinah (beritajatim.com) – Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) menyiagakan lima pos layanan terpadu di Sektor Khusus (Seksus) Nabawi guna mendampingi dan mengamankan pergerakan jemaah haji Indonesia selama berada di Madinah.
Penempatan pos ini dilakukan secara strategis di titik-titik krusial pelataran Masjid Nabawi untuk mendukung visi Haji Ramah Lansia, Perempuan, dan Disabilitas pada penyelenggaraan haji 1447 H / 2026 M.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, keberadaan pos ini menjadi garda terdepan dalam menangani kendala teknis maupun fisik jemaah.
Mengingat suhu di Madinah saat ini masih sangat menyengat hingga 41 derajat Celsius, kehadiran petugas di pelataran sangat vital untuk mencegah jemaah mengalami kelelahan ekstrem atau cedera kaki.
Kepala Seksus Nabawi, Muhammad Thoriq, mengonfirmasi bahwa kelima pos tersebut telah beroperasi optimal selama 24 jam. “Baik, di sektor khusus Nabawi kita menyediakan 5 pos untuk pelayanan jemaah haji,” ujar Thoriq saat ditemui di Madinah, Minggu (10/5/2026).
Penempatan pos layanan mencakup area yang menjadi jalur utama lalu lintas jemaah dari pemondokan menuju area inti Masjid Nabawi. Thoriq merinci secara spesifik lokasi kelima pos jaga tersebut guna memudahkan orientasi jemaah.
“Yang pertama pos 1 di pintu 336 di belakang kita ini, kemudian di pintu 328, lalu di pintu 310 pos 3, kemudian di pintu 365 dan pintu 360,” jelasnya.
Sistem kerja di pos-pos ini tidak mengenal sekat tugas kedinasan yang kaku. Seluruh personel dari berbagai unsur, mulai dari Perlindungan Jemaah (Linjam), tim kesehatan (PKP3JH), hingga tim layanan lansia dan disabilitas, bekerja dalam satu kesatuan.
“Petugas yang berada di pos-pos terdiri dari tusi linjam, tusi PKP3JH, dan tusi lansia serta disabilitas, kita di sini menerapkan prinsip multitasking,” papar Thoriq.
Mitigasi Jemaah Tersasar dan Sandal Cadangan
Hingga hari ke-20 operasional haji, tantangan terbanyak yang dihadapi petugas di lapangan adalah jemaah lansia yang mengalami disorientasi arah atau lupa jalan pulang menuju hotel.
Selain itu, masalah kehilangan alas kaki menjadi perhatian serius petugas karena panasnya lantai pelataran masjid dapat menyebabkan kaki jemaah melepuh jika berjalan tanpa sandal.
Sebagai langkah antisipasi, PPIH menyiapkan stok sandal cadangan di setiap pos untuk langsung dibagikan kepada jemaah yang membutuhkan.
“Ya persoalannya antara lain lupa jalan pulang, terpisah dari rombongan, lalu lupa menaruh sendal, sehingga kita di setiap pos-pos selalu menyediakan sandal cadangan,” ungkap Thoriq.
Mengingat fase pergeseran jemaah dari Madinah ke Makkah masih berlangsung dan kedatangan jemaah Gelombang II terus mengalir, Thoriq mengimbau jemaah untuk tetap disiplin menjaga stamina.
Petugas meminta jemaah untuk tidak memaksakan diri melakukan ibadah sunnah secara berlebihan di bawah terik matahari demi menjaga vitalitas menjelang puncak haji di Armuzna pada akhir Mei mendatang. [ian/beq]






