Ringkasan Berita
* PTPN I Regional 5 melakukan ekspansi besar-besaran pada komoditas tembakau di Klaten, Jawa Tengah, dengan melipatgandakan luas lahan tanam menjadi 50 hektare pada musim 2026.
* Selain fokus pada produktivitas ekspor tembakau jenis Besuki Na-Oogst, perusahaan menyalurkan bantuan TJSL berupa 38 sumur bor dan 7 mesin pompa air senilai Rp99,9 juta untuk mendukung pertanian masyarakat setempat.
* Program ini mencatatkan nilai kebermanfaatan sosial (Social Return on Investment) sebesar 16,19.
—————————————————-
Surabaya (beritajatim.com) – PT Perkebunan Nusantara (PTPN) I Regional 5 resmi memulai musim tanam tembakau tahun 2026 di Kebonarum, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Langkah ini ditandai dengan seremoni Tanam Perdana yang menegaskan komitmen perusahaan dalam mengoptimalkan potensi komoditas tembakau lokal berorientasi ekspor.
Tak sekadar mengejar target produksi, PTPN I Regional 5 juga memperkuat sinergi dengan masyarakat melalui pemberian bantuan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) berupa 38 titik sumur bor dan 7 unit mesin pompa air untuk tujuh desa di sekitar wilayah operasional.
Region Head PTPN I Regional 5, Subagiyo, mengungkapkan bahwa perusahaan melakukan perluasan areal tanam yang signifikan, yakni dari 25 hektare menjadi 50 hektare tahun ini.
“Tanam perdana ini menjadi momentum penting. Kami optimistis pengembangan komoditas tembakau Besuki Na-Oogst yang ditanam di bawah naungan (TBN) ini dapat membuka lebih banyak lapangan kerja dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” ujar Subagiyo, Kamis (4/6/2026).
Produk tembakau ini ditargetkan memiliki produktivitas sebesar 1.700 kilogram per hektare. Hasil panen nantinya akan dipasok untuk kebutuhan industri cerutu premium yang menembus pasar internasional, khususnya Amerika Serikat dan Eropa.
Bantuan sarana air yang disalurkan senilai Rp99,9 juta mencakup desa-desa seperti Towangsan, Sukorejo, Jetis, Pluneng, Nglinggi, Manjung, dan Karanglo. Kepala Bagian Sekretariat dan Umum, Reggy Irawan Setiyobudi, menyebut bahwa bantuan ini bertujuan agar petani mampu meningkatkan intensitas tanam hingga dua kali dalam setahun.
Dampak positif ini terkonfirmasi lewat angka Social Return on Investment (SROI) sebesar 16,19. Angka tersebut melampaui target perusahaan yang dipatok di angka 3, yang berarti nilai manfaat yang diterima masyarakat jauh lebih besar dibanding investasi yang dikeluarkan.
Dalino, perwakilan petani penerima manfaat asal Desa Sukorejo, menyampaikan apresiasinya. “Bantuan ini sangat meringankan beban petani, terutama saat musim kemarau tiba. Sekarang akses air menjadi jauh lebih mudah,” tuturnya.
PTPN I Regional 5 menyatakan bahwa keberhasilan perusahaan bukan hanya diukur dari volume produksi, melainkan dari keberlanjutan manfaat sosial yang dirasakan langsung oleh masyarakat sekitar wilayah operasional. Dengan pendekatan Creating Shared Value (CSV), perusahaan terus berupaya menjaga kualitas produksi di tengah tantangan cuaca melalui pengelolaan teknis yang adaptif dan dukungan infrastruktur bagi para petani.[rea]






